Semar Gugat

Lakon Semar gugat dibawakan oleh dua dalang Kondang Asep Sunandar Sunarya dari Dalang Wayang Golek Sunda bersama Dalang Wayang Kulit Jawa Top Ki Manteb (Oye) Sudarsono.
Isi Cerita : Amarta diguncang prahara bencana alam banjir bandang sehingga rakyatnya sangat menderita namun ini juga merupakan kritik bagi pemerintah dimana rakyat menderita sementara para pemimpin berlaku tidak adil terhadap rakyatnya dimana agama sebagai alat adu domba,korupsi merajalela,wakil2 rakyat berfoya-foya’Untuk itulah Semar Menggugat para pemimpin bangsa untuk membantu rakyat,untuk memikirkan persatuan bangsanya bukan mementingkan kekuasaan,tetapi pikirkanlah rakyat


Namun yang diharapkan Semar ternyata tidak dapat terlaksana karena Semar Menggugat ke Astina,dimana para pejabatnya ternyata malah merasa senang dengan Bencana yang menimpa Amarta.dimana rasa sosialisme memang sudah tidak ada lagi di Astina,dimana justru memanfaatkan bencana alam itu untuk memenangkan kekuasaan.

Sebagai gambaran hilangnya Nasionalisme dan Sosialisme Bangsa,dimana para pemimpinnya hanya memikirkan uang uang dan uang untuk keluarganya sehingga tanpa malu malu memamerkan kekayaan hasil korupsinya ditengah rakyat yang menderita.

Wakil rakyat tidak pernah berjuang membela rakyat ,malah bertengkar dalam sidang dengan otot bukan dengan otak karena otaknya hanya terpikirkan komisi yang bakal diterimanya bila menyetujui undang undang yang tidak pernah dibuatnya sendiri.

Wakil rakyat yang menerima berbagai fasilitas negara,mendapat gajih yang sangat tinggi disamping berbagai tunjangan pribadi,masih juga menerima komisi walaupun kerjanya hanya tidur dikursi dan terlelap dalam mimpi.

Pejabat yang sikapnya selalu hebat namun dibuat buat,kalau janji enggak pernah tepat,walau sebenarnya tak pernah berbuat untuk rakyat karna sesungguhnya dia hanyalah penjahat yang mengembat uang negara ya uang rakyat
Posted in Tokoh Punokawan | Leave a comment

Cakil, tokoh Perang Kembang

Cakil merupakan tokoh asli kreativitas Indonesia. Cakil bukanlah nama, melainkan sebutan untuk raksasa yang berwajah dengan gigi taring panjang di bibir bawah hingga melewati bibir atas tersebut. Ia bisa diberi nama apa saja oleh Dalang yang memainkannya, kadang bernama Ditya Gendirpenjalin, kadang juga bernama Gendringcaluring, Klanthangmimis, Kalapraceka, dan bahkan saya pernah menjumpai dalang menamainya Ditya Kala Plenthong.

Cakil digambarkan berbeda dengan raksasa lain yang hanya satu tangannya bisa digerakkan. Tangan Cakil bisa digerakkan kedua-duanya. Hal ini diartikan sebagai penggambaran “sengkalan memet”: “tangan yaksa satataning janma” yang kurang lebih berarti tangan raksasa layaknya tangan manusia. Kata-kata tersebut mengandung watak bilangan sebagai berikut, tangan:2, yaksa:5, satataning:5, jalma:1. Jika dibaca terbalik maka akan menghasilkan angka Tahun Jawa 1552, atau 1630 Masehi yang merupakan tahun diciptakannya tokoh Cakil.

Dalam pewayangan, Cakil bersuara kecil, melengking dengan gaya bicaranya cepat. Meski yang diajak berbicara berhadap-hadapan tapi ia seperti bicara dengan orang di kejauhan. Cakil dalam pewayangan merupakan tokoh raksasa yang bertugas sebagai penjaga batas wilayah suatu negara. Jika ada satria (paling sering Arjuna atau Abimanyu) yang melewati daerah tersebut dihadang sehingga kadang terjadi peperangan, yang disebut Perang Kembang. Oleh karena itu Cakil dalam pewayangan dimasukkan dalam kategori “Buta Begal”.

Ia umumnya ditemani oleh tiga raksasa yang berwarna tiga macam. Hal ini terkadang dihubungkan dengan simbolisasi nafsu-nafsu manusia, yakni nafsu amarah, aluamah, supiah, dan mutmainah. Cakil digambarkan sebagai raksasa yang lincah, mahir pencak, dengan gaya berkelahi yang diselingi tarian yang khas. Yang jelas dalam perang ia selalu mati terkena keris pusakanya sendiri. Cakil juga bisa diartikan sebagai tokoh yang gigih, dan setia pada tugas sampai titik darah penghabisan.
Tokoh Cakil dalam wayang gagrag (gaya) Yogyakarta, digambarkan dengan posisi muka langak, bermata kiyeran, dengan hidung wungkal gerang, mulut mrenges dengan kumis, jenggot, dan cambang lebat. Ia memakai sumping sorengpati, dengan jamang sadasaler, rambut odholan (terurai). Badannya gagahan dengan kalung wastra (kalung punggawa), posisi kaki pocong blothong, memakai gelang bala, dan binggel sebagai gelang kakinya.

Berikut contoh dialog yang terjadi antara Cakil dan satria yang dihadangnya.

Cakil: “E ladalah, sasuwene aku pacak baris ing alas iki, ana satria bagus, baguse uleng-ulengan, dedege ngringin sungsang, lakune njungkar angin. Ayo ngakua,
ngakua, ngaku! Sapa jenengmu, endi omahmu, endi omahmu, sapa jenengmu?”

Satria: “Buta, buta pantes temen sesipatanmu, dene takon tanpa parikrama, ucapmu cariwis, tanganmu surawean kaya wong ngegusah.”

Cakil: “E.. Babo, ladak lirih satria iki!”

Saria: “Apa abamu! Buta, sapa pracekamu lan ing ngendi dhangkamu.”

Cakil: “E… Ditakoni durung sumaur malah genti takon”

Satria:”Jamak lumrah wong tetakon ganti pitakon”

Cakil: “Iya, yen kowe takon marang aku, aku andeling praja Girikadasar,

Tumenggung Ditya Klanthangmimis, balik kowe sapa jenengmu lan ngendi pinangkamu?”

Satria: “Yen jeneng ora duwe, yen kekasih ndakwangsuli.”

Cakil: “Nyata ladak satria iki! sapa kekasihmu.”

Satria: “Ya iki satria ing Tanjunganom, Raden Angkawijaya kekasihku”

Cakil: “Sumedya marang endi lakumu?”

Satria: “Ngetut tindaking suku, nuruti kareping budi”

Cakil: “E..Ladalah! Yen kena ndak eman becik balia, aja mbacut, halaran alas iki lagi dadi sesengkerane gustiku, yen ana janma liwat kudu bali.”

Satria: “Aweh ya mbacut, ora aweh ya mbacut.”

Cakil: “E..Bojleng-bojleng belis laknat jeg-jegan! Apa wani marang aku?”

Satria: “Kang ndak wedeni apamu”

Cakil: “E, lah keparat. Kekejera kaya manuk branjangan, kopat kapita kay ula tapak angin, kena ndak saut, ndak sabetake, sida sumyur kwandhamu.”

Satria: “Mara dikepara ngarsa.”

ditulis oleh Feri Istanto dari berbagai sumber

Posted in Wayang | Leave a comment

Rakyat Vs Cakil Rakyat

Dalam dunia pewayangan ada tokoh yang bernama Cakil atau Gendir Penjalin atau Dityakala Marica. Tokoh ini tidak dikenal dalam kitab asli Mahabarata maupun Ramayana. Tokoh ini memang produk lokal Jawa (Nusantara) layaknya tokoh wayang Gareng, Petruk, Bagong. Barangkali butuh penelitian untuk mengetahui siapa pembuat tokoh ini. Kalau penulis wayang RM Sayid menyebut wayang muncul pertama kali seputaran abad 15-16, tokoh Cakil itu sudah muncul di seputaran kurun waktu itu.Bahkan, beberapa sumber menyebut tubuh Cakil yang berwajah raksasa ini merupakan imajinasi dari sebuah sengkalan (penandaan tahun dalam kalender Jawa) yang menandakan kapan tokoh Cakil dibuat pertama kali. Sebagaimana Gareng, Petruk, dan Bagong, Cakil juga merupakan profil rakyat kecil. Seorang kawula yang diberi tugas sebagai penjaga hutan. Dari gerakan tokoh Cakil ini bisa digunakan oleh penonton wayang kulit sebagai ukuran kemampuan dalang dalam memainkan wayang.

Kelincahan gerakan Cakil dalam menari sangat tergantung sang dalang dalam mengolah wayang. Cakil dipersonifikasi bukan hanya jelek wajahnya, tetapi juga perilakunya. Sebagai penjaga hutan, dalam wacana pewayangan, Cakil selalu dikenal sebagai tokoh alu amah (serakah), suka merampas harta orang. Anehnya, dalam setiap pementasan oleh dalang siapa pun, tak pernah tergambar perangai seperti itu. Cakil hanya digambarkan mencoba meminta keluar para ksatria yang akan masuk hutan yang tak jelas tujuannya. Tidak pernah digambarkan Cakil merampas harta para ksatria itu. Bahkan, gambaran Cakil seperti itu menjadi tidak rasional, ketika dikisahkan bahwa sahabat yang selalu menemani Cakil adalah Togog, tokoh yang masih saudara sekandung dengan para dewa, yaitu Betara Ismaya (Semar) dan Betara Guru.
Tokoh Cakil seperti membuka wacana untuk siapa saja yang ingin menggumuli kehadirannya dalam kehidupan manusia. Karena itu, wajar jika muncul anggapan Cakil sesungguhnya adalah profil rakyat, yang selalu muncul dalam lakon wayang apa saja. Ya, rakyat yang selalu tampil dalam setiap lakon sejarah kehidupan. Dalam lakon apa saja, baik itu dalam kancah politik, ekonomi sosial, budaya, rakyat senantiasa hadir. Hanya, dalam perjalanan sejarah kehadirannya, rakyat hanya menjadi obyek. Rakyat hanya menjadi sumber kekuatan untuk sebuah pencapaian yang tidak selalu untuk kesejahteraan bersama. Karenanya, rakyat tetap miskin dan salah-salah nasibnya seperti Cakil, mati dengan senjatanya sendiri. Mati dengan senjata sendiri artinya tak ada yang bertanggung jawab. Nasib rakyat, hak-hak rakyat sepertinya selalu berada dalam kotak misteri. Tak ada yang berani ambil tanggung jawab, bersama rakyat “angkat senjata” agar rakyat punya nilai juang yang hakiki. Bahkan, sampai pada kematian pun kehidupan rakyat masih saja menyimpan misteri.

Persis seperti kematian Munir yang mati dengan senjatanya sendiri, yaitu perjuangan hak-hak asasi manusia. Semua orang, semua yang terlibat, seperti cuci tangan membentuk sebuah korporasi yang cenderung menghilangkan jejak. Makanya, sebagai penjaga hutan hak Cakil hanya bisa mengingatkan memohon para ksatria untuk keluar dari dalam hutan. Ketika para ksatria itu membabat hutan, mengeksploitasi habis-habisan hasil hutan, Cakil tak berdaya. Kehidupan Cakil adalah kehidupan masyarakat pinggiran hutan yang tak pernah sejahtera dari hasil hutan. Bahkan, sering kali rakyat ditangkap karena mencuri beberapa gelondong kayu. Pemberontakan keadilan tak pernah keluar dari mulut rakyat, meskipun melihat orang-orang tambun seenaknya menjual produksi hutan.


Rakyat memang punya wakil di “atas” sana. Di “atas” sana rakyat menaruh harapan. Tetapi, harapan itu terhenti pada sisi lain perangai Cakil, yang dikenal banyak omong dan pandai menari, bersilat. Perjuangan wakil rakyat terkadang hanya menjadi sebuah keindahan tarian persilatan dan diplomasi yang berbusa-busa. Pertengkaran yang menjurus perkelahian sempat terjadi di forum wakil rakyat, namun hasilnya tetap saja: cakil-cakil rakyat yang menari, sekadar tontonan.
Posted in Negeri Wayang | Leave a comment

Jatidiri dan Sikap Hidup Kresna

Tokoh Kresna dikenal dalam cerita India, kemudian datang ke Indonesia dan dikembangkan melalui sastra Jawa kuna dan sastra Jawa baru. Dalam mitologi India diceritakan Kresna sebagai awatara dewa Wisnu, kehadirannya di dunia sebagai jelmaan dewa Wisnu yang kedelapan. (Dowson, 1957: 160). Y.E.van Lohuizen dalam penelitannya menyimpulkan, Kresna merupakan awatara Wisnu yang ke duapuluh. Wisnu berturut-turut berawatara menjadi Purusa, Wariha, Narada, Nara dan Narayana, Kapila, Dattatreya, Yajna, Rsabha, Prthu, Matsya, Kurma, Dattwantari (dua kali) Narasingha, Wamana, Parasurama, Wedawyasa, Rama, Balarama, Kresna, Buddha dan Kalkin (Lohuizen, 1976 : 31)

Dalam Bab II dan III telah diuraikan cerita Kresna yang bersumber kesastraan India dan sastra pewayangan. Berikut ini perbandingan dan pemaparan jatidiri Kresna yang diambil dari berbagai sumber cerita.

Kresna Sejak Kanak dan Menjelang Dewasa

Kresna adalah anak Dewaki dan Wasudewa, termasuk suku Yadawa, keturunan Yadu ia lahir dari kehamilan yang ke delapan, jelmaan dewa Wisnu. Isteri Wasudewa yang lain bernama Rohini, beranak Sankarsana berkulit putih (Wisnupurana, 1961 : 401). Dalam kitab Wisnupurana dan Mahabharata diceritakan, Wisnu mencabut dua helai rambut putih dimasukan di rahim Rohini, sehelai rambut hitam ke rahim Dewaki. Setelah Rohini dan Dewaki hamil dan beranak, masing-masing melahirkan Balarama berkulit putih dan Kresna berkulit hitam. Diceritakan pula, bahwa Ugrasena raja Manthura mempunyai saudara laki-laki bernama Dewaka. Ugrasena beranak Kangsa, Dewaka beranak Dewaki. Dewaki diperisterioleh Wasudewa, yang kemudian beranak Balarama dan Kresna (Dowson, 1957:161). Karena diramal, bahwa Balarama dan Kresna akan menghancurkan kekuasaan Kangsa, Balarama dan Kresna dititipkan kepada Nanda dan Yasoda (Dowson: op.cit,165)

Dalam kitab kakawin Krnandhaka diceritakan dewa Wisnu menjelma dalam rahim Dewati atau Raiwati isteri Basudewa. Dewa Basuki turun dalam isteri Basudewa yang bernama Rohini. Rohini melahirkan Kakrasana, Dewati melahirkan Kresna. Sejak bayi Kakrasana dan Kresna dititipkan kepada Antagupta dan Ayaswadha di Gobraja daerah Magadha (Kresnandhaka Zang IV – V)

Perkembangan cerita Kresna pada masa kecil dalam cerita pewayangan sedikit mengalami perubahan dan mempunyai beberapa versi cerita.

Dalam Serat Pakem Padhalangan Wayang Purwa, lakon Wisnu Nitis atau Lairipun Kangsa (Naskah Reksapustaka Surakarta Nomor D.79:2349-252), diceritakan demikian: Atas perintah Sang Hyang Guru, Hyang Wisnu menjelma ke marcapada bersama Bathara Laksmanasadu dalam wujud ular naga. Hyang Basuki ingin ikut menjelma, Sang Hyang Brama mendukungnya. Sang Basuki dan Bathara

Laksmanasadu bersatu menjelma bersama. Harimau putih dan ular naga datang di hutan tempat Basudewa berburu. Kemudian mereka dibunuh oleh Basudewa.
Harimau putih musnah oleh panah Basudewa. Jasmaninya masuk ke Dewi Kunthi isteri Pandhu. Naga musnah oleh panah Basudewa. Jasmani dan roh halusnya merasuk kepada Dewi Rohini isteri Basudewa yang lain. Kemudian Dewi Kunthi beranak Arjuna, jelmaan dari Wisnu. Dewi Rohini beranak Kakrasana.
Nojowirongko bercerita, penjelmaan Wisnu ke dunia terbelah menjadi dua, yaitu Kresna dan Arjuna. Andaikata bunga, mereka sebagai mahkota dan sari bunganya. Andaikata api, mereka sebagai bara api dan nyala apinya. Andaikata sirih, ibarat bagian muka dan belakang daunnya, berbeda rupa, bila digigit sama rasanya (Nojowirongko, 1954: 66).

Dalam Serat Pakem Purwa, lakon Kangsa Lair (Naskah Reksapustaka Surakarta Nomor D.70:65) diceritakan, bahwa isteri Basudewa bernama Mahera, Dewi Rohini dan Dewi Mahendra. Kangsa lahir dari Mahera, hasil hubungan gelap dengan Gorawangsa. Kakarsana atau Kakrasana lahir dari Dewi Rohini, jelmaan dewa Bathara Basuki.dan Bathara Laksmanasadu. Kresna atau Narayana lahir dari Dewi Mahendra jelmaan dewa Wisnu. Kakrasana dan Kresna diasuh oleh Buyut Antagopa atau Buyut Nandagopa di Widarakandhang

Kasidho Gitasewoyo dalam cerita Basudewa Grogol, menceritakan Basudewa mempunyai isteri Amerta, Dewi Badraini dan Dewi Maherah. Dewi Amerta melahirkan dua anak kembar, diberi nama Kakrasana dan Narayana. Masing-masing berkulit hitam dan putih. Dewi Badraini beranak perempuan, diberi nama Bratajaya. Hasil hubungan gelap dengan Gorawangsa, Dewi Maherah melahirkan Kangsa (Kasidho Gitosewoyo, 1978: 29-33)

Dalam Serat Kandhaning Ringgit Purwa diceritakan, Basudewa mempunyai isteri Dewi Angsawati, Dewi Ugraini dan Dewi Badraini. Hubungan gelap antara Dewi Angsawati dengan Prabu Gorawangsa raja Jadingklik melahirkan Kangsa. Dewi Ugraini (Ugrawala) beranak Kakrasana, jelmaan Dewa Basuki. Badraini melahirkan dua anak kembar, bernama Narayana dan Endang Panangling (Kandhaning Ringgit Purwa: P CXXVII – CXXVIII).

Dalam Serat Babad Purwa diceritakan, Basudewa mempunyai isteri Dewi Angsawati, Ugraini dan Ugrayani. Angsawati berhubungan gelap dengan Mayangkara, beranak Kangsa. Ugraini beranak Kakrasana, Ugrayani beranak Narayana. Setelah beranak Kakrasana dan Narayana, Basudewa mengambil isteri ke empat bernama Badraini (Babad Purwa: P LXXXIII 1-38)

Hadikartoso dalam cerita lakon Laire Kakrasana Sakadang menceritakan, bahwa Bathara Wisnu bersama Bathara Leksmanasadu dan Bathara Basuki menjelma ke dunia. Mereka menjelma dengan perantara isteri Basudewa raja Mandura. Mereka bertiga turun ke dunia dalam wujud harimau putih dan ular naga. Harimau dan ular naga itu dibunuh oleh raja Basudewa, ketiga sang raja itu berburu di hutan. Roh mereka merasuk ke tubuh isteri Basudewa yang bernama Rohini, Dewaki dan Badraini. Rohini melahirkan bayi yang berkulit putih, diberi nama Kakrasana. Kemudian Dewaki mempunyai anak berkulit hitam, diberi nama Narayana atau Kresna. Badraini mempunyai anak, diberi nama Sumbadra (Hadikaryoso, 1982: 30-32)

………………………………………….

Di India Kresna mendapat banyak sebutan, antara lain Arisudana, Acyuta, Janardana, Gowinda, Hari, Hrisikesa, Yogeswara, Kesawa, Kesinisudhana dan Warsneya (Bhagawadgita, 1867: XXXVI)

Dalam cerita pewayangan Kresna mendapat sebutan Prabu Harimurti, Padmanaba, Narayana, Kesawa, Wasudewa, Wisnumurti, Danardana, Janardana, dan Dewaki. Ia bernama Kresna karena tubuh, tulang dan sumsumnya hitam. Ia bernama Pabmanaba karena mempunyai bunga Wijayakusuma yang berkhasiat untuk menghidupkan orang sedunia yang mati sebelum takdir kematiannya. Ia bernama Narayana karena penjelmaan dewa yang berkuasa mendinginkan panas hati semua makhluk hidup. Ia bernama Kesawa karena mempunyai kesaktian untuk bertiwikrama berwujud Kalamertyu. Ia bernama Wasudewa karena ia dewa terpilih. Ia bernama Darnadana karena kaya raya, segala keinginananya terlaksana, segala yang dikehendaki datang dengan sendirinya. (Siswoharsojo, 1956:11)

Sejak kecil sampai masa dewasa Kresna dilahirkan sebagai manusia luar biasa. Ia diasuh oleh Antagupta (dalam cerita India) atau Sagopa (dalam cerita pewayangan). Sejak bayi ia disusui oleh iblis betina bernama Putana suruhan Kangsa untuk membunuhnya, tetapi Putana dihisap air susunya hingga mati (Dowson, 1957:165). Iblis yang akan membunuh Kresna dengan mengoleskan racun pada buah dadanya itu dalam cerita Jawa kuna bernama Kotana (Kresnandhaka VI: 1). Selanjutnya cerita Kresna sejak kanak-kanak dapat dibaca dalam Bab II.

Dalam cerita pewayangan tidak banyak diceritakan kehidupan Kresna sejak kanak-kanak. Setelah menjelang dewasa Kresna berhasil membunuh Kangsa, kemudian merebut kekuasaan negara Mathura dan diserahkan kembali kepada ayah Kangsa bernama Ugrasena (Dowson, op.cit: 166). Dalam cerita India, Kangsa adalah anak Ugrasena, raja Mathura. Kekuasaan Ugrasena direbut oleh Kangsa. Dalam cerita pewayangan Kangsa lahir dari isteri Basudewa, raja Mandura, hasil hubungan gelap dengan Gorawangsa. Kemudian Kangsa merebut kekuasaan Basudewa atas kerajaan Mandura. Kresna dan Baladewa berhasil membunuh Kangsa, kemudian menyerahkan kekuasaan negara Mandura kepada Basudewa. Cerita ini dimuat dalam Lakon Kangsa Adu Jago (Naskah Reksapustaka Surakarta Nomor D.82: 18)

Kresna mempunyai kesaktian luar biasa, dan selalu berhasil dalam perang. Ia mempunyai senjata Cakra atas pemberian dewa Agni (Dowson, op.cit.:162). Dalam cerita Adiparwa, diceritakan Kresna menerima seperangkat panah bernama Mahaksaya Mahesadi dari dewa Agni (Adiparwa, 1985: 113). Dalam cerita Kresnandaka, Kresna menerima senjata pemberian Puspakindama yang diruwat dalam wujud buaya di sungai Serayu. Puspakindama menyerahkan Cakrasudarsana (Kresnandhaka Z XXVI: 1-16). Baladewa menerima senjata dari Jambuwana yang diruwat dalam wujud ular naga. Jambuwana menyerahkan senjata dahsyat bernama Langghyala (Kresnanadhaka ZXXX: 1-5). Kesaktian Kresna juga didukung oleh terompet Pancajanya dan bunga Wijayakusuma.

Perkawinan Kresna

Sumber cerita India menceritakan, setelah tinggal di Dwaraka, Kresna melarikan Rukmini, kemudian diperistrinya. Selanjutnya Kresna kawin dengan Jembawati (anak Jambawat) dan Setyaboma (anak Satrajit). Jumlah isteri selir kurang lebih enam belas ribu dan beranak seratus delapan puluh ribu anak laki-laki. Perkawinan dengan Rukmini menghasilkan anak Pradyumna dan Charumati. Perkawinan dengan Jambawati menghasilkan anak Samba, dengan Setyaboma beranak sepuluh anak laki-laki (Dowson: 1957: 167). Dalam sastra Jawa Kuna cerita perkawinan Kresna dengan Rukmini dimuat dalam kakawin Kresnayana karangan Empu Triguna dan kakawin Hariwangsa karangan Empu Panuluh. Dalam cerita pewayangan ada beberapa versi cerita perkawinan Kresna.

Hardjowirogo dalam buku Sejarah Wayang Purwa menerangkan, Kresna mempunyai empat isteri, yaitu Dewi Jembawati, Dewi Rukmini, Dewi Setyaboma dan Dewi Pretiwi. Dewi Jembawati beranak Samba, Dewi Rukmini beranak Siti Sundari, Dewi Setyaboma beranak Setyaka. Dewi Pretiwi anak Hyang Antaboga beranak Bomanarakasura (Hardjowirogo, 1982: 144). Dalam cerita lakon Sang Bomantara dijelaskan, bahwa Dewi Pretiwi mempunyai anak Ksitija (Suteja) dan Ksitisundari atau Siti Sundari (Soenarto Timoer, 1969: 2).

Padmosoekotjo dalam buku Silsilah Wayang Purwa Mawa Carita menerangkan, bahwa isteri Kresna sebanyak empat orang, yaitu Dewi Pretiwi (Nagaraja di Sumur Jalatundha), Dewi Jembawati (anak Jembawan dan Trijatha), Dewi Setyaboma (anak Prabu Setyajit, raja Lesanpura), dan Dewi Rukmini (anak Prabu Bismaka raja Kumbina). Dewi Pretiwi beranak Suteja yang kemudian menjadi raja di Trajutresna bergelar Prabu Bomanarakasura. Dewi Jembawati beranak Gunadewa dan Samba. Dewi Setyaboma beranak Siti Sundari dan Titisari. Dewi Rukmini beranak Partajumena (Padmosoekotjo Jilid V, 1984: 44)

Dalam Serat Wisnu Krama (Naskah Sanabudaya Yogyakarta Nomor PB. A128) diceritakan perkawinan Wisnu dengan Pretiwi yang beranak Yauti. Dalam cerita pedalangan diceritakan Pretiwi menjadi isteri Kresna, dan beranak Bomanarakasura.
Dalam kakawin Hariwangsa karangan Mpu Panuluh diceritakan perkawinan Kresna dengan Jembawati beranak Samba, perkawinan Kresna dengan Rukmini beranak Pradyuma (Hariwangsa Zang LII:4-5). Dalam kakawin Bomantaka disebut nama Gunadewa yaitu kawan Samba ketika Samba menggembara di hutan, kemudian bersama Kresna membunuh sang Bhoma atau sang Naraka, anak Pretiwi dengan Wisnu (Bhomantaka Zang CII-CV). Dalam cerita pewayangan Gunadewa dan Samba adalah anak Dewi Jembawati.

Cerita perkawinan Kresna dimuat dalam cerita Lakon Narayana Maling atau Kresna Kembang, berisi cerita perkawinan Kresna dengan Rukmini. Lakon Alap-alapan Setyaboma atau Kresna Pujangga berisi cerita perkawinan Kresna dengan Setyaboma. Lakon Narayana Krama berisi cerita perkawinan Kresna dengan Jembawati.

R.S. Subalidinata

Posted in Negeri Wayang | Leave a comment

Kedudukan dan Sikap Kresna dalam Masyarakat

Gambar : Kresna sedang memberi nasihat Arjuna di medan Kurusetra
(lukisan Herjaka HS)

Sikap Kresna dalam cerita lakon Wahyu Cakraningrat menunjukkan bahwa ia tidak pilih kasih terhadap anak sendiri dan anak menantu. Keduanya dinasihati untuk mencari wahyu (Padmadihardja, 1979: P.II-VII). Pada akhir cerita, Wahyu Cakraningrat jatuh pada Abimanyu. Kresna senang dan memandang sudah tepat bila wahyu bertempat pada Abimanyu, suami Siti Sundari.

Kresna sebagai seorang anak yang telah berbakti kepada orang tua. Ia bersama Baladewa, kakaknya, berhasil membunuh Kangsa dan merebut kekuasaan kerajaan Mandura. Kemudian tahta kerajaan dikuasakan kepada Basudewa (Mangkunegara VII Jilid 6, 1932: 23-25)

Kresna selalu ingat dan patuh kepada pesan orang tua. Ketika Sumbadra dilamar Baladewa atas nama raja Duryodana untuk dikawinkan dengan Burisrawa, Kresna tidak menyetujui dan tidak mau menyerah terhadap keinginan Baladewa. Kresna mengingatkan pesan Basudewa tentang perkawinan Sumbadra. Kresna berpegang pada pesan ayahnya, siapa pun yang dapat memenuhi persyaratan perkawinan boleh memperisteri Sembadra. Ternyata yang dapat memenuhi syarat adalah keluarga Pandhawa, diperuntukkan Arjuna. (Mangkunegara VII jilid 13, 1932: 3-7). Maka Kresna setuju Sumbadra diperisteri Arjuna.

Kresna suka kepada perdamaian. Dalam cerita lakon Kresna Duta, Kresna berusaha mendamaikan pertikaian Pandhawa dengan Korawa. Tetapi Korawa tidak mau menyerahkan sebagian kerajaan Ngastina, bahkan ingin membunuh Kresna yang bertugas sebagai utusan pendamai. Kresna didakwa membela Pandhawa, maka warga Korawa menyerang Kresna dan akan membunuhnya. Kresna memperlihatkan kekuasaan dan kesaktiannya lalu bertiwikrama, berubah dalam wujud raksasa dahsyat. Korawa hendak dihancurkannya. Warga Korawa ketakutan, Narada datang dan minta agar Kresna menghentikan kemarahannya. Kresna kembali ke wujud semula, meninggalkan Ngastina dan memberi tahu kepada Pandhawa. Karena jalan damai tidak dapat dipakai, Kresna menyetujui perebutan kerajaan Ngastina dengan jalan perang (Kresna Duta, 1958: 13-15)

Kresna berpandangan, bahwa musuh tidak kenal sanak saudara. Artinya meskipun saudara, bila ia berkedudukan sebagai musuh, maka harus dimusnahkannya. Sikap Kresna itu terlihat pada waktu Arjuna berkeberatan untuk melawan sanak saudaranya dan gurunya dalam perang Bharatayudha. Kresna memberi nasihat dan tidak membenarkan bila Arjuna bersedih hati, enggan dan ragu-ragu. Kata-kata Kresna dalam Bhagawadgita dapat diringkas isinya demikian. ”Arjuna mengapa engkau susah dan lemah hati? Pada saat krisis, lemah semangat bukan sikap seorang kesatria. Itu bukan sikap luhur, tetapi sikap yang memalukan. Jangan kau biarkan kelemahan itu. Itu tidak sesuai bagimu. Enyahlah rasa cemas dan kecut. Bangkitlah, hai pahlawan jaya.” (Bhagawadgita II: 2-3)

Arjuna menyampaikan alasan keberatan, tidak mau membunuh Bisma dan Drona, gurunya. Ia mengharapkan cahaya terang agar dapat melihat yang benar dan yang salah. Kresna memberi nasihat: ”Engkau sedih bagi mereka yang tidak sepantasnya kau susahkan. Engkau sering berbicara tentang budi pekerti. Orang budiman tidak sepantasnya bersedih bagi orang hidup atau mati. Apa yang tinggal di badan setiap orang tidak akan terbunuh. Oleh karena itu hai Arjuna, jangan berduka atas kematian makhluk manapun juga! Sadarlah akan kewajibanmu, engkau tidak boleh gentar. Bagi kesatria tiada kebahagiaan lebih besar dari pada bertempur untuk menegakkan kebenaran. Berbahagialah kesatria yang berkesempatan untuk bertempur tanpa harus dicari-cari olehnya. Pintu terbuka baginya. Tetapi, hai Arjuna! Engkau tiada melakukan perang untuk menegakkan kebenaran. Engkau meninggalkan kewajiban dan kehormatanmu. Maka dosa pulalah bagimu. Orang akan terus membicarakan nama burukmu. Bagi orang terhormat yang kehilangan kehormatan, lebih buruk daripada kematian. Para pahlawan besar akan mengira engkau pengecut, lari dari pertempuran. Mereka yang pernah memuja engkau akan merendahkanmu dengan penghinaan. Banyak caci-maki terlontar padamu. Musuh akan menjelekkan dan menghina kekuatanmu. Adakah yang lebih dari semua itu? Andaikan tewas, engkau akan menikmati surga. Kalau menang engkau akan menikmati dunia. Oleh karena itu, hai Arjuna! Bulatkan tekad, bertempurlah, majulah!” (Bhagawadgita II: 30-37).

Arjuna berpendapat, bahwa perang, bertempur, saling membunuh adalah perbuatan kejam, buas dan kasar. Ia menolak berperang, meskipun itu darma bagi ksatria. Ia tidak sampai hati membunuh sanak saudara. Kresna menasihatinya, ”Telah kukatakan hai Arjuna. Ada dua pilihan dalam hidup ini. Jalan ilmu pengetahuan bagi cendekiawan, jalan tindakan dan kerja bagi karyawan. Orang tidak akan mencapai kebebasan tanpa bekerja, tidak akan mencapai kesempurnaan bila menghindari kegiatan kerja. Tidak seorang pun tidak bekerja, walaupun untuk sesaat juga. Manusia yang tidak mau berbuat niscaya akan dipaksa bertindak oleh hukum alam. Orang yang duduk mengontrol panca inderanya, tetapi pikirannya mengenang kenikmatan, sebenarnya orang itu bingung, menipu dirinya dan disebut orang birokrat. Orang yang dapat mengendalikan panca inderanya dengan pikirannya, bekerja tanpa memikirkan diri sendiri, dia itu adalah orang utama. Berbuatlah seperti yang telah ditentukan untukmu. Berbuat lebih baik daripada diam. Kalau engkau tidak berbuat, hidup sehari-hari tidak mungkin terpenuhi. Ketahuilah, hai Arjuna. Dunia ini dibelenggu oleh hukum kerja. Oleh karena itu berbuatlah demi kebaktian tanpa mementingkan diri pribadi” (Bhagawadgita III:3-9). Atas nasihat Kresna itu Arjuna bangkit keberaniannya, dan sanggup tampil ke medan perang.

Posted in Negeri Wayang | Leave a comment

Jati Diri dan Sifat Kepemimpinan Kresna

Setelah meneliti dan merunut cerita yang dimuat dalam buku sumber India, hasil sastra Jawa kuna dan Jawa baru, maka diperoleh kesan dan kesimpulan sebagai berikut:1. Data yang memuat cerita Kresna di India diperoleh dari kitab Wisnupurana, Hariwangsa dan Mahabharata. Cerita itu sebagian berkembang dalam cerita Jawa kuna. Pengarang sastra Jawa kuna menyadur dan mengolah cerita Kresna dalam sebagian kitab parwa, kakawin Kresnayana oleh Mpu Triguna, kakawin Hariwangsa oleh Mpu Panuluh, kakawin Kresnandhaka dan Bhomakawya atau Bhomantaka. Kemudian cerita itu berkembang dalam sastra pewayangan Jawa baru. Cerita Kresna dimuat dalam Serat Kandhaning Ringgit Purwa, Serat Babad Purwa, Serat Padhalangan Ringgit Purwa, Serat Pakem Wayang Purwa, Serat Pakem Padhalangan Wayang Purwa, Serat Lampahan Ringgit Purwa, dan cerita pendek pewayangan yang dimuat dalam majalah berhahsa Jawa.

2. Bila memeperhatikan ceritsa dari India, cerita Jawa kuna dan Jawa baru, maka dapat ditarik kesimpulan, bahwa cerita yang menampilkan tokoh Kresna tumbuh dan berkembang dari India ke Jawa melalui perkembangan karya sastra yang ditulis oleh sastrawan Jawa dengan bahan dasar cerita asli India, yang kemudian diolah sesuai dengan pertumbuhan sastra pewayangan serta masyarakat lingkungannya.

3. Cerita yang bersumber sastra India, Jawa kuna dan sastra pewayangan mengangkat Kresna sebagai tokoh yang diceritakan secara lengkap. Pada umumnya cerita Kresna dimulai dari masa kanak-kanak, masa dewasa dan masa kejayaan hidupnya. Cerita kelahiran, perkawinan dan keterlibtan Kresna dalam masyarakat dijelaskan, bahwa Kresna sebagai tokoh manusia biasa dan manusia luar biasa.

4. Kelahiran Kresna di dunia dipersiapkan oleh dewa, bahkan Kresna merupakan jelmaan dewa Wisnu. Baik cerita India maupun cerita Jawa menerangkan kelahiran Kresna sebagai manusia sakti yang didukung oleh sumber kesaktian dan persenjataannya. Dalam cerita India diterangkan, semasa kanak-kanak Kresna tinggal dilingkungan masyarakat gemabala dan peternak. Ia sebagai anak laki-laki yang luar biasa kenakalan dan kepandaiannya. Kemudian pada masa dewasa menjadi pemuda calon raja yang selalu berhasil dalam memberantas kejahatan dan manaklukan musuh-musuhnya. Dalam cerita pewayangan, masa kanak-kanak Kresna tidak banyak diungkap orang. Hanya sedikit dijelaskan, bahwa Kresna jelmaan dewa Wisnu. Kebanyakan cerita pewayangan menceritakan kehidupan Kresna pada masa dewasa. Pada masa muda diberi sebutan Narayana, dan pada masa berkuasa dikenal dengan nama Kresna raja Dwarawati.

5. Cerita perkawinan Kresna bertitik tolak pada kedudukannya sebagai putra Basudewa raja Mandura. Dalam cerita India, Kresna beristeri Jembawati, Setyaboma dan Rukmini. Dalam cerita pewayangan Kresna beristri Jembawati anak Jembawan dengan Trijatha, Setyaboma anak raja Setyajid, dan Rukmini anak raja Bismaka. Kemudian muncul sebuah cerita perkawinan Kresna dengan Pertiwi. Dalam cerita yang lebih tua diceritakan Pertiwi diperisteri Wisnu. Bila memperhatikan nama-nama isteri Kresna diperoleh kesan yang berhubungan dengan kata boma artinya langit, periwi artinya bumi, dan Dewi Pertiwi adalah pelindung bumi. Perkawinan Kresna dengan Pertiwi dan Setyaboma lambang persatuan Kresna dengan bumi langit, atau persatuan Kresna dengan dunia seisinya. Jembawati adalah wanita yang berdarah keturunan kera, manusia dan bidadari. Ia anak Trijatha dan Jembawan cucu Wibisanan, piut Wisrawa dan Sukesi. Perkawinan Kresna dengan Jembawati lambang persatuan Kresna dengan makhluk di dunia, dalam arti Kresna bisa manjing ajur ajer dapat bergaul dengan siapa saja. Rukmini jelmaan Bidadari bernama Dewi Sri yang terkernal sebagai dewi pelindung. Perkawinan Kresna dengan Rukmini memang sudah merupakan pasangan dari kedewatan, masing-masing jelmaan Wisnu dan Sri. Di kahyangan mereka bersatu, di dunia mereka pun harus bersatu sebagai pelindung dunia.

6. Kresna banyak terlibat dalam berbagai persoalan, terutama persoalan pribadi dengan anggota keluarga, persoalan priibadi dengan masyarakat sekeliling dan negara sekitar. Bila terjadi perselisihan antara Pandhawa dan Korawa, Kresna selalu berusaha mendamaikannya. Bila terjadi perselisihan antara keluarga Mandura, Kresna mmbela dan berpihak kepada yang benar. Bila berselisih dengan negara lain Kresna selalu membela rakyat dan negaranya.

7. Sikap hidup dan perilaku Kresna tercermin dalam berbagai cerita dan peristiwa. Dalam cerita perkaswinan, Kresna berjuang dan melawan musuh cintanya. Perkawinan dengan Rukmini ia bermusuhan dangn Drona dan Korawa. Dalam cerita Jawa kuna Kresna bermusuhan dengan Suteja raja Cedya. Perkawuinannya dengan Jembawati, Kresna dibantu Arjuna melawan Trisnacaya raja Sriwedari. Perkawinannya dengan Setyaboma, Kresna dibantu Arjuna harus membunuh raksasa Kala ketika melarikan Setyaboma. Dari cerita perkawinan itu dapat disimpulkan, bahwa Kresna sebagai manusia yang beristeri, ia harus berjuang seperti perjuangan manusia biasa dalam usaha memperoleh teman hidupnya.

8. Sifat dan watak pribadi Kresna dapat dilihat dari berbagai cerita riwayat hidup dan sikap hidupnya. Dalam cerita masa kanak-kanaknya, Kresna adalah anak luar biasa keberanian dan kesaktiannya. Pada masa dewasa Kresna sebagai remaja yang gemar bertapa, berkemauan keras dan pemberani. Sebagai anggota keluarga, Kresna suka menolong saudara-saudara yang dalam kesusahan dan membutuhkakn pertolongan. Selama berkedudukan sebagai raja Dwarawati, Kresna sebagai raja yang telah memahami dan mengamalkan makna yang terkandung dalam asthabrata. Artinya ia memiliki sifat delapan dewa yang mencerminkan kelebihan dan kehebatan para pemimpin atau pelindung dunia. Kresna berjiwa jujur, membela kebenaran dan keadilan. Sikap Kresna mencerminkan sifat-sifat ambek paramarta, ambek pinandhita dan ambek binathara.

9. Kresna berhasil berjuang hidup di dunia. Ia mati dan muksa kembali ke surga atau kadewatan dengan perantaraan saudaranya. Dalam cerita Mosalaparwa, Kresna muksa setelah terkena panah adiknya yang bernama Jara anak Basudewa. Ketika itu Kresna sedang memanjat dan sembunyi di sebatang pohon di tengah hutan dan melakukan Yoga.


R.S. Subalidinata
Posted in Negeri Wayang | Leave a comment

Simpingan Dan Makna Keseimbangan

Penataan wayang simpingan kecuali mempertimbangkann besar kecilnya ukuran serta pengelompokan wayang, juga memperhatikan bentuk keseimbangan. Seperti yang dikemukakan A.A.M. Djelatik, bahwa sudah menjadi sifat alami manusia dalam menempatkan dirinya terhadap alam sekitarnya atau lingkungan hidupnya yang menghendaki keseimbangan.Manusia lahir, belajar berdiri hinga berjalan membutuhkan keseimbangan. Rasa seimbang dirinya sendiri maupun seimbangn dengan lingkungannya suadah menjadi naluriah yang kekal dalam jiwa manusia. Naluriah keseimbangan itu juga berepengaruh pada proses penciptaan karyaseni termasuk ilmu pengetahuan dan teknologi.

Rasa keseimbangan yang paling mudah dapat dicapai adalah simetri, seperti yang ada di Candi Bentar, Garuda Pancasila, daun-daun, bunga-bunga, kupu-kupu dll semua ada disekitar kita. Kehadiran rasa keseimbangan diperlukan karena akan memberikan rasa ketenangan.
Begitu pula dalam wayang, contoh konsep keseimbangan itu ada pada wayang Gunungan atau kayon. Penataan simpingan kanan dan kiri pada pergelaran wayang juga memiliki bobot keseimbangan yang sama. Menurut M. Sayid, bahwa dalam penataan wayang simpingan diperlukan keseimbangan yang dikemukakan sebagai berikut:
Anyumping tegese saka tembung sumping, umpamane asemsumping sekar melathi, yaiku sepasang kembang mlathi klatlesepake ing kuping. Iya kudu milih kembang kang padha kanggo rerengganing kuping. Iku mau tegese tembung sumping, Gawe sesawangan kang katon timbang yen sinawang saka tengah-tengah. Semono uga nyumping wayang.
“sumpingan kiwa lan tengen carane ngatur kudu digawe padha, supaya yen disawang bisa katon timbang aja nganti katon botsih.”
Walau demikian simpingan wayang kanan dan kiri tidak akan sama persis, dikarenakan ukuran dan jenis wayangnya berbeda, wayang kanan kanan lebih ramping (di dominasi kesatriya) sedangkan wayang kiri lebih gemuk (di dominasi raksasa).
Keseimbangan dalam pergelaran wayang tidaklah diartikan sama persis antara sisi kanan dan kiri, tetapi hendaknya lebih kepada harmonisasi penantaan panggung secara keseluruhan baik penataan wayang, gamelan, sajen, sounsistem, ubarampe dsb.
MAKNA SIMPINGAN DAN DIKOTOMIK JAWA
Makna atau lambang pada simpingan tidak lepas dari kehidupan masyarakat jawa yang mengenal pembagian dikotomik antara kanan dan kiri, baik dan buruk, kawula dan gusti, terang-gelap, hitam-putih dan sebagainnya.
Bagi orang jawa, perbuatan yang mengarah ke kanan atau dilakukan dengan tangan kanan dianggap baik dan perbuatan yang mengarah ke kiri atau dilakukan dengan tangan kiri dianggap buruk adalah tidak mutlak karena tangan kanan sering juga digunakan dalam tindak kejahatan seperti mencuri dan dan membunuh). Halus menunjukan kekuatan batin, dan dapat mengontrol diri, adapun kasar sebaliknya.
Jadi persepsi simpingan yang menganggap bahwa simpingan kanan itu lambang kebaikan sedangkan simpingan kiri lambang angkara murka tidaklah benar.
KOMPONEN PERGELARAN WAYANG KULIT
Sebuah pertunjukan wayang kulit terdiri dari bebrapa komponen yang satu sama lainnya saling mendukung. Komponen- komponen itu berupa perangkat keras dan lunak. perangkat keras meliputi semua peralatan pendukung pergelaran seperti; gamelan, wayang. layar, sounsistem, kotak, keprak, cempolo, sounsistem dsb. Sedangkan perangkat lunak lebih kepada SDMnya seperti Dalang, nayaga dan pesinden.
Boneka wayang yanng diatur berjajar pada kanan -kiri dalang dinamakan simpingngan yang juga salah satu unsur pergelaran wayang kulit.Yang ditata sedemikian rupa. Keberadaan simpingan dalam wayang mempunyai beberapa fungsi antara lain:sebuah pertunjukan wayang kulit terdiri dari bebrapa komponen yang satu sama lainnya saling mendukung. Komponen- komponen itu berupa perangkat keras dan lunak. perangkat keras meliputi semua peralatan pendukung pergelaran seperti; gamelan, wayang. layar, sounsistem, kotak, keprak, cempolo, sounsistem dsb. Sedangkan perangkat lunak lebih kepada SDMnya seperti Dalang, nayaga dan pesinden.
sebuah pertunjukan wayang kulit terdiri dari bebrapa komponen yang satu sama lainnya saling mendukung. Komponen- komponen itu berupa perangkat keras dan lunak. perangkat keras meliputi semua peralatan pendukung pergelaran seperti; gamelan, wayang. layar, sounsistem, kotak, keprak, cempolo, sounsistem dsb. Sedangkan perangkat lunak lebih kepada SDMnya seperti Dalang, nayaga dan pesinden.
Boneka wayang yanng diatur berjajar pada kanan -kiri dalang dinamakan simpingngan yang juga salah satu unsur pergelaran wayang kulit.Yang ditata sedemikian rupa. Keberadaan simpingan dalam wayang mempunyai beberapa fungsi antara lain:
1. Simpingan sebagai hiasan (pajangan) agar bisa dinikmati oleh penonton.
2. Untuk mempermudah dalang dalam mencari dan mengambil wayang
3. Sebagai tanda akan adanya pergelaran wayang kulit.
4. Simpingan untuk menunjukan kualitas dan kuantitas wayang.
5. Simpingan mempunyai makna simbolik bagi masyarakat pendukungnya.
Pada jaman dulu simpingan hanya terdiri dari puluhan wayang. Karena memang jumlah wayang satu kotak berkisar antara 180-250 wayang. tetapi sekarang terutama dikota-kota besar, jumlah simpingan sangat banyak antara 250 -500 wayang. Hal ini karena tuntutan pasar dan biasanya pergelaran di kota besar ditempatkan pada lapangan terbuka. Sehingga diperlukan penataan simpingan yang panjang. Boneka wayang yanng diatur berjajar pada kanan -kiri dalang dinamakan simpingngan yang juga salah satu unsur pergelaran wayang kulit.Yang ditata sedemikian rupa. Keberadaan simpingan dalam wayang mempunyai beberapa fungsi antara lain:sebuah pertunjukan wayang kulit terdiri dari bebrapa komponen yang satu sama lainnya saling mendukung. Komponen- komponen itu berupa perangkat keras dan lunak. perangkat keras meliputi semua peralatan pendukung pergelaran seperti; gamelan, wayang. layar, sounsistem, kotak, keprak, cempolo, sounsistem dsb. Sedangkan perangkat lunak lebih kepada SDMnya seperti Dalang, nayaga dan pesinden.
Boneka wayang yanng diatur berjajar pada kanan -kiri dalang dinamakan simpingngan yang juga salah satu unsur pergelaran wayang kulit.Yang ditata sedemikian rupa. Keberadaan simpingan dalam wayang mempunyai beberapa fungsi antara lain:
1. Simpingan sebagai hiasan (pajangan) agar bisa dinikmati oleh penonton.
2. Untuk mempermudah dalang dalam mencari dan mengambil wayang
3. Sebagai tanda akan adanya pergelaran wayang kulit.
4. Simpingan untuk menunjukan kualitas dan kuantitas wayang.
5. Simpingan mempunyai makna simbolik bagi masyarakat pendukungnya.
Pada jaman dulu simpingan hanya terdiri dari puluhan wayang. Karena memang jumlah wayang satu kotak berkisar antara 180-250 wayang. tetapi sekarang terutama dikota-kota besar, jumlah simpingan sangat banyak antara 250 -500 wayang. Hal ini karena tuntutan pasar dan biasanya pergelaran di kota besar ditempatkan pada lapangan terbuka. Sehingga diperlukan penataan simpingan yang panjang.
1. Simpingan sebagai hiasan (pajangan) agar bisa dinikmati oleh penonton.
2. Untuk mempermudah dalang dalam mencari dan mengambil wayang
3. Sebagai tanda akan adanya pergelaran wayang kulit.
4. Simpingan untuk menunjukan kualitas dan kuantitas wayang.
5. Simpingan mempunyai makna simbolik bagi masyarakat pendukungnya.
Pada jaman dulu simpingan hanya terdiri dari puluhan wayang. Karena memang jumlah wayang satu kotak berkisar antara 180-250 wayang. tetapi sekarang terutama dikota-kota besar, jumlah simpingan sangat banyak antara 250 -500 wayang. Hal ini karena tuntutan pasar dan biasanya pergelaran di kota besar ditempatkan pada lapangan terbuka. Sehingga diperlukan penataan simpingan yang panjang.
1. Simpingan sebagai hiasan (pajangan) agar bisa dinikmati oleh penonton.
2. Untuk mempermudah dalang dalam mencari dan mengambil wayang
3. Sebagai tanda akan adanya pergelaran wayang kulit.
4. Simpingan untuk menunjukan kualitas dan kuantitas wayang.
5. Simpingan mempunyai makna simbolik bagi masyarakat pendukungnya.
Pada jaman dulu simpingan hanya terdiri dari puluhan wayang. Karena memang jumlah wayang satu kotak berkisar antara 180-250 wayang. tetapi sekarang terutama dikota-kota besar, jumlah simpingan sangat banyak antara 250 -500 wayang. Hal ini karena tuntutan pasar dan biasanya pergelaran di kota besar ditempatkan pada lapangan terbuka. Sehingga diperlukan penataan simpingan yang panjang.
SIMBOL PEWARNAAN PADA WAYANG
Warna-warna pada wajah (muka) boneka wayang yang disimping (diatur berjajar) seperti merah, hitam, kuning dan putih juga mempunyai makna simbolik. Keempat warna itu bagi orang jawa melambangkan nafsu amarah, aluamah, sufiah dan mutmainah. Warna-warna itu tidak mengandung satu makna saja tetapi mempunyai makna ganda. Warna merah pada muka Rahwana berbeda artinya dengan warna merah pada Baladewa. Demikian juga setiap daerah mempunyai penafsiran sendiri-sendiri sesuai dengan persepsinya.
Susunan wayang simpingan di dalamnya terdapat unsur kanan-kiri, baik-buruk, halus –kasar. Pewarnaan muka wayang merupakan satu kesatuan. Simpingan kanan dan kiri sebagai lambang baik buruk tidaklah tepat karena di simpingan kanan juga terdapat beberapa wayang yang berkarakter jelek sedangkan di simpingan kiri juga ada beberapa tokoh wayang yang berkarakter baik.
Demikian juga mengenai makna simpingan kanan dan simpingan kiri tidak bisa dikatakan sebagai kejahatan (kiri) dan kebaikan (kanan). Simpingan kanan dan kiri merupakan makna symbol kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, keduannya saling mengisi dan melengkapi. Tidak dapat ditarik suatu garis yang tegas antara baik dan buruk atau jahat, karena keduannya untuk mencari kompromi atau keseimbangan dari dua kutub yang saling berlawanan. (Rusmadi: Makna Simpingan Dalam Pertunjukan wayang kulit)
NAMA-NAMA SIMPINGAN WAYANG
Berdasarkan pengamatan simpingan wayang diera sekarang telah berkembang mejadi dekorasi dan ajang pamer wayang. Simpingan wayang panjangnya menyesuaikan kelir (layar ) yang dipakai. Pajang kelir kurang lebih 8 hingga 12 m bahkan ada yang membuat hingga 35 m seperti yang pernah digelar di Monas dan TMII. Dibawah ini perkiraan urutan simpingan untuk pergelaran standar di luar gedung (out door) dengan memakai tenda.
Simpingan Kanan
1. Brahala (Putih)
2. Anoman (besar)
3. Thong-thongsot (petruk ratu)
4. Werkudara (dengan berbagai wanda dan ukuran 8 wy)
5. Tugu Wasesa
6. Jagal Bilawa
7. Bratasena (dengan berbagai wanda dan ukuran 4 wy)
8. Duryudaya (4 wy)
9. Setija (jangkah)
10. Gathutkaca Ratu
11. Gandamana
12. Antareja
13. Gathutkaca (berbagai wanda 10 wy)
14. Antasena
15. Anoman (berbagai wanda 4 wy)
16. Trigangga
17. B. Guru
18. Bt.Durga
19. Watugunung
20. Rama jangkah
21. Srimahapungung
22. Harjunasasra
23. Kalithi (janaka ratu)
24. Kresna (bebrbagai wandha 8 wy)
25. Janaka (berbagai wanda 10 wy)
26. Ciptoning
27. Puntadewa
28. Dwijakangka
29. Pandhu
30. Premadi (berbagai wanda, 8 wy)
31. Sumantri
32. Suryatmaja
33. Bambangan jangkah (berbagai wanda, 4 wy)
34. Sh.Tunggal
35. Dewaruci
36. Putren (berbagai tokoh, 12)
37. Bayen
Jumlah sekitar 100 hingga 130 wayang. Tergantung tempat dan permintaan penanggap.
Simpingan Kiri
 
1. Brahala (hitam)
2. Kumbakarna (tangan loro)
3. Buta raton (rambahan 3 )
4. Gorawansa
5. Newatakawaca
6. Buta raton ore (3)
7. Buta patihan (4)
8. Prahastha
9. Jambumangli
10. Rajamala (3)
11. Burisrawa
12. Sumali
13. Ratu
14. Rahwana (4)
15. Kangsa
16. Kangsa mangap
17. Inrajit
18. Trisirah
19. Baladewa 5
20. Kencaka
21. Rupakenca
22. Kakrasana (5)
23. Setyaki (5)
24. Ugrasena
25. Setyajit
26. Madswapati
27. Dipati karna (4)
28. Sasra alus
29. Sasra wok
30. Dewasrani
31. Wibisana
32. Bisawarna
33. Kumbina
34. Aryaprabu
35. Sanjaya
36. Samba (4)
37. Abimanyu (4)
38. Wisanggeni
39. Nakula
40. Sadewa
Jumlah hingga 100-130 juga
MAKNA SIMBOLIK DALANG DAN WAYANG
Peranan Dalang dan Wayang kulit dalam pergelaran wayang menurut Zoetmulder bahwa dalam Serat Centhini jilid IX teks yang berupa tembang Megatruh disebutkan simboliknya sebagai berikut:
Janma tama karya lajem ing pandulu Sasmitaning Hyang sejati Dalang lan wayang dinunung Panganggone Hyang Mawarni Karyo Upameng pandulon
Kelir gumelar wayang pinanngung Asnapun makluk ing widi Gedebog bantala wegung Balencong pandoming urip Gamelan gending ing lakon (maklumlah) oleh manusia sempurna itu dijadikan sasmita (lambing) yang menunjuk kepada Tuhan. Dalang dan wayang diberikan tempat (Arti) yang sejati, yaitu sebagaimna cara menggambarkan bagaimana Tuhan Bertindak . Orang Bijak membuat perumpamakan sebagai berikut.:
Kelir itu jagat yang kelihatan, wayang-wayang yang ditancapkan di kiri dan kanan menggambarkan golongan makluk-makluk Tuhan. Batang pisang adalah Bumi. Blencong adalah lampu kehidupan. Gamelan ialah keserasian antara per peristiwa. (1991:290-291).
Pada uraian di atas jelas digambarkan bahwa perangkat pergelaran wayang kulit merupakan simbolik yang sangat jelas, namun dalang sebagai symbol Tuhan mestinya kurang tepat. Meski dalam sajian pergelaran, wayang menjadi hidup atau mati karena kehendak sang Dalang. Karena Tuhan tidak dapat personifikasikan dengan bentuk apapun serta hanya dapat diketahui melaui sifat-sifatnya.
Adhikara memaknai lain, dalang simbolik dari jiwa, wayang sebagai raga dan Tuhan sebagai orang yang menanggapnya. Tuhan memang tidak terlihat, ia digambarkan sebagai orang yang nanggap wayang karena waktu pergelaran tidak dapat dilihat penonton. Boneka wayang hidup karena jiwa yang beujud Ki Dalang. Jika pergelaran telah selesai wayang ditinggalkan dalang (raga ditinggalkan), wayang dimasukkan kotak (peti) sebab sudah mati sedangkan dalang masih hidup.
Posted in Wayang | Leave a comment