(72) Kesedihan Kunthi

Kunthi merasakan kesedihannya (karya: Herjaka HS)

Mendengar permohonan maaf Kunthi atas kesalahan Pandudewata, Puntadewa dan adik-adiknya menjadi semakin sedih. Sedih bukan karena tidak mau memberi maaf ayahnya yang sudah meninggal, atau sedih bukan pula karena ditinggal Pandu untuk selamanya, namun sedih karena melihat Ibunda Kunthi bersedih.

“Ibunda Kunthi, janganlah Ibunda bersedih karena kesalahan Ramanda Prabu Pandu sewaktu hidupnya. Jika pun aku dan adik-adikku harus ikut menanggung akibat buruk dari perbuatan Ramanda, kami akan menjalaninya dengan ketulusan hati. Bahkan kami berlima mau melakukan apa saja yang diperlukan demi untuk permohonan ampun atas kesalahannya, sehingga Ramanda segera mendapatkan surga mulia.”

Bagai diiris sembilu hati Kunthi mendengar pernyataan Puntadewa. Walaupun ada kebanggaan besar atas sifat mulia yang dimiliki anak-anaknya, kesedihan Kunthi semakin mendalam. Dalam kesendiriannya, Kunthi merasa tak berdaya untuk membahagiakan anak-anaknya. Ketika beberapa kali anak-anaknya mendapat sasaran aniaya, ia tak dapat berbuat apa-apa.

Malam menjadi semakin larut. Hutan Waranawata gelap pekat tanpa hadirnya bulan. Beberapa lampu minyak yang dipasang di rumah darurat dari kayu, menari-nari dihembus angin malam. Kunthi dan ke lima anaknya merebahkan diri dalam tidur.

Diwaktu yang sama Arimbi menemui kakaknya Prabu Arimba di kemah pinggir hutan.

“Kakanda Prabu, tidak lebih baikkah jika Kakanda berdamai dengan Bimasena.?” Prabu Arimba tidak segera menjawab. Hatinya sesak dan marah terhadap pertanyaan Arimbi. Bukankah adiknya tahu bahwa ketika upacara wisuda raja, aku bersumpah dihadapan rakyat Pringgandani, bahwa aku akan menagih hutang nyawa kepada Pandudewanata.

“Aku masih ingat, pada waktu penobatan raja, Kakanda berjanji akan mengadakan perhitungan hanya dengan Pandudewanata, tidak kepada anak-anaknya. Bimasena adalah anaknya. ia tidak berdosa, berdamailah dengannya Kakanda”

Benar juga kata Arimbi. Bima tidak bersalah, ayahnya yang bersalah. Tetapi ayahnya sudah meninggal. Tidak mungkin mengadakan perhitungan dengan orang yang sudah mati. Yang mungkin dilakukan adalah mengadakan perhitungan dengan yang masih hidup. Dan wajarlah jika kesalahan dan dosa orang tuanya ditimpakan kepada anaknya. Seperti halnya kepopuleran, kehormatan dan nama baik orang tua, anaknyalah yang ikut merasakan keuntungannya.

“Arimbi aku sudah bersumpah akan mengadakan perhitungan dengan Pandudewanata. Dengan darahnya yang masih mengalir di dalam pribadi anak-anaknya. jika engkau lebih menyayangi Bimasena, berpihaklah kepadanya dan lawanlah aku.”

Arimbi menangis. Ia tidak dapat memilih diantara ke duanya. Ia menghormati dan mencintai Arimba sebagai pengganti orang tuanya. Tetapi ia jatuh cinta kepada Bimasena.

Arimba habis kesabarannya. Adik yang sesungguhnya ia cintai tersebut diusir dari hadapannya. Dengan terisak Arimbi meninggalkan Arimba. Arimba menatap kepergian Arimbi dengan dingin. Hingga gelap malam menelan bayangnya.

Tatkala pagi tiba, Arimbi sudah berada di halaman rumah kayu tempat Kunthi dan ke lima anaknya tinggal. Bima menampakan wajah gelap. Tidak senang atas kehadiran Arimbi. Maka kemudian Arimbi diusirnya. Kunthi merasa kasihan kepada Arimbi.

“Sena anakku, jangan memperlakukan sesamamu tidak dengan hormat dan merendahkan martabatnya. Kalau pun engkau tidak senang jangan begitu caranya.”

“Ibunda, sejak awal aku sudah mengatakan tidak senang, tetapi ia selalu membuatku risih dan jijik.”

Memang akhirnya Kunthi dapat ikut merasakan apa yang dirasakan Bima, maka disarankannya agar Arimbi untuk sementara menjauhi tempat itu.

Matahari belum begitu tinggi.Prabu Arimba bergegas mendatangi Bimasena untuk segera membinasakan.anak-anak Pandu. Gara-gara Arimbi, perang tak kunjung usai. Maka kali ini naluri raksasanya lebih diberi tempat jika dibandingkan dengan sifat kesatrianya. Dengan keganasannya ia ingin secepatnya membinasakan semua keturunan Pandu sebelum matahari sepenggalah.

Bima cukup terkejut dan belum siap mendapat serangan mendadak dari Prabu Arimba. Beruntung ia masih sempat menghindar kesamping dan menusukkan Kuku Pancanaka ke dada Prabu Arimba. Namun dada tersebut sangat ulet, tidak mampu ditembus Kuku Pancanaka. Arimba tak mau melepaskan lawannya, segera ia menyusul dengan serangan berikutnya

Perang dahsyatpun terjadi lagi. Mereka saling serang dan masing-masing berusaha untuk menjatuhkan lawannya. Kunthi, Puntadewa, Harjuna, Nakula dan Sadewa, termasuk juga Arimbi cemas dibuatnya. Sedangkan para pengawal Pringgandani. tenang-tenang saja. Bahkan sesekali diantara mereka melempar senyum ejekan kepada kubu Bimasena.

Arimba mulai mengetrapkan ajian andalannya, maka setahap demi setahap tenaga Bima tersedot. Semakin banyak tenaga yang dikeluarkan semakin banyak pula tenaga yang tersedot.

Herjaka HS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s