Gendhing Talu , Cerita Kehidupan Manusia

Gendhing Talu , Cerita Kehidupan Manusia

Pagelaran wayang, sejak beratus tahun yang lampau, selalu diawali dengan dimainkannya suatu konser karawitan khas, yang mengawali setiap pagelaran wayang. Konser karawitan yang sangat khas ini, lazim disebut ‘talu’ (dalam bahasa Jawa) atau ‘tatalu’ (dalam bahasa Sunda). Konser karawitan ini, dimainkan sekitar satu jam, sebelum pagelaran wayang yang sesungguhnya dimulai. Seluruh filosofi cerita kehidupan manusia, sejak ia belum ada, kemudian lahir, berubah menjadi remaja, menginjak dewasa, dan berubah menjadi tua renta, serta akhirnya sampai pada masa kembali tiada (kembali ke haribaan Yang Maha Kuasa), diceritakan dan ditampilkan dalam sekumpulan komposisi gendhing (lagu). Ini merupakan ringkasan seluruh kehidupan manusia di ‘alam jana loka’. Sedangkan pagelaran wayang yang dimainkan semalam suntuk (sekitar 7 – 8 jam), sebenarnya hanya merupakan penggalan sepersejuta dari seluruh kehidupan manusia di dunia ini.

Dalam banyak kesempatan, pagelaran wayang (yang manapun), orang atau penonton seringkali tidak mengerti dan tidak memahami secara lengkap, mengapa selalu ada permainan konser karawitan Talu. Bahkan, banyak juga yang beranggapan bahwa dimainkannya gendhing-gendhing Talu hanya sebatas sebagai tanda bahwa pertunjukan wayang hendak dimulai. Ini merupakan pemahaman umum. Sudah barang tentu, setiap daerah mempunyai kekhasan sendiri dalam memainkan gendhing-gendhing Talu.

Di bawah ini, dikutipkan dari buku Serat Kandha Karawitan Jawi, bagaimana gendhing Talu dimainkan, apa tujuannya, apa maknanya, dan apa yang dikandung di dalamnya. Meskipun bahasan ini didasarkan kepada kebiasaan dan tradisi yang berlaku pada pagelaran wayang kulit purwa Jawa, tetapi sebenarnya berlaku universal.

Talu, adalah permainan karawitan atau permainan gamelan, yang mengawali suatu pagelaran yang sesungguhnya. Dalam hal ini, biasanya talu hanya dimainkan untuk mengawali pagelaran wayang saja. Pada saat talu, biasanya dimainkan gendhîng (lagu) khusus, yang memang digunakan untuk keperluan pengiring talu. Gendhîng (lagu) pengiring talu ini, lazim disebut gendhîng talu atau gendhîng patalôn. Tidak diketahui dengan pasti, sejak kapan gendhîng talu mulai dimainkan orang sebagai rangkaian gendhîng yang mengawali pagelaran wayang. Tetapi diperkirakan, sudah dimainkan orang sejak ratusan tahun yang lalu.

Permainan gendhîng talu, umumnya bertujuan:

Mengubah dan membuat suasana menjadi renggep, regeng, sakral, magis, dan khas wayangan’. Hal ini, disebabkan hanya pagelaran wayang yang menggunakan gendhîng talu untuk mengawali pagelaran. Selain itu, komposisi dan cara memainkan gendhîng talu sangat khas; sehingga memberikan suatu ciri tersendiri.

Waktu yang digunakan untuk memainkan gendhîng talu, biasanya relatif lama. Jika dimainkan secara lengkap, biasanya memakan waktu sekitar satu jam. Dalam waktu selama ini, dhalang dapat menyiapkan diri sebaik-baiknya. Demikian pula para pembantu dhalang dapat menyiapkan segala keperluan dhalang, termasuk menyiapkan dan meletakkan sesajèn (sesajian) di tempat yang sudah ditentukan.

Pada pagelaran wayang kulît, bagian akhir permainan gendhîng talu dimainkan dengan cara yang sangat khas. Bagian ini, digunakan untuk mengiring dhalang menaiki panggûng pagelaran, menuju ke tempat duduknya, yaitu di sebelah kanan kothak wayang (kotak tempat menyimpan wayang). Suasana pada saat dhalang menaiki panggûng pagelaran, biasanya sangat mencekam. Pada saat dhalang mulai menaiki pangung pagelaran, biasanya lampu-lampu penerangan lainnya akan dipadamkan; dan hanya bléncông (lampu penerangan yang dipasang di atas geber/kelîr wayang) yang menyala. Dengan demikian, suasananya menjadi sangat magis.

Bagi penonton pagelaran, permainan gendhîng talu digunakan sebagai tanda bahwa pagelaran wayang akan segera dimulai. Sedangkan bagi dhalang, permainan gendhîng talu merupakan tanda untuk mempersiapkan diri. Pada saat permainan gendhîng talu diakhiri, dhalang sudah harus duduk di tempatnya, dan siap untuk mengawali seluruh pagelaran wayang.

Gendhîng talu, biasanya mulai dimainkan para panjak, sesaat setelah pengatur acara selesai mengumumkan berbagai macam informasi yang berkait erat dengan pagelaran. Misalnya, siapa yang akan menjadi dhalang, cerita apa yang hendak dibawakan dhalang, siapa pesindhèn-nya, dari kelompok mana panjak yang mengiringi pertunjukan malam itu, siapa yang punya hajat, serta dalam rangka apa pagelaran itu dilaksanakan. Pada saat ini, biasanya penonton yang tidak duduk di ruang tamu resmi, agak tidak tenang. Hal ini, lazimnya disebabkan penonton sibuk menyiapkan dan mengatur tempat duduknya. Mereka mulai mengatur tempatnya, supaya bisa dengan leluasa melihat ke arah geber/kelîr wayang. Di sekitar tempat pagelaran, keadaan biasanya berubah perlahan-lahan menjadi lebih tenang dan hening. Anak-anak berhenti berlarian atau berhenti bermain; dan memperhatikan apa yang sedang terjadi.

Beberapa saat terjadi keheningan. Lalu terdengar sesaat suara senggrèngan ricikan rebab, dibunyikan oleh panjak rebab; memberikan tanda kepada para panjak untuk mempersiapkan diri. Hening sesaat, lalu terdengar nada-nada awal bukâ gendhîng, mulai dimainkan oleh panjak rebab. Terdengar suara gông ageng ditabuh, bersamaan dengan saat nada-nada bukâ gendhîng mencapai akhir. Gendhîng talu mulai menggema, irâmâ-nya semula cepat, secepat detik-detik awal permulaan kehidupan manusia dimulai; lalu perlahan-lahan melambat, seakan menceritakan mulai mapannya putaran jantra kehidupan manusia. Suara sulîng (seruling) melengking tinggi, bersambut dengan tembang pesindhèn yang sendu, disambut dengan desah suara rebab; seakan-akan mengalunkan cerita tentang awal dan akhir kehidupan manusia. Pahit-getir dan manisnya madu kehidupan manusia di alam jânâlokâ, di-tembang-kan dalam gendhîng. Menggetarkan gunungan, hakekat pelindung seluruh alam kehidupan manusia. Lalu pagelaran-pun dimulai.

Rangkaian gendhîng talu, mempunyai makna filosofis yang sangat dalam. Rangkaian gendhîng talu ini, sebenarnya menceritakan peristiwa jantra kehidupan manusia; sejak manusia dilahirkan, sampai ia meninggal dan kembali ke pangkuan Sang Murbèng Jagat Râyâ (Sang Penguasa Jagat Raya). Nama-nama sebutan gendhîng (lagu) yang digunakan pada rangkaian gendhîng talu yang paling lazim dimainkan oleh para panjak sejak beratus tahun yang lampau, sesungguhnya semuanya berkait erat dengan perjalanan hidup manusia. Begitu pula jika kita lihat urutan memainkannya, dan cara memainkannya. Semuanya menunjuk kepada adanya suatu alur proses kehidupan manusia.

Cucûr Bawûk; adalah nama sebuah gendhîng khas talu, yang mengawali permainan seluruh rangkaian gendhîng talu. Gendhîng ini, merupakan salah satu gendhîng yang paling banyak dimainkan para panjak sejak ratusan tahun yang lalu, untuk mengawali pagelaran wayang. Istilah cucûr bawûk, mewakili sebutan untuk proses reproduksi kehidupan manusia, yang dilakukan oleh pria dan wanita. Jika ditilik dari makna sesungguhnya, istilah cucûr, mewakili hakekat proses kerja alat repoduksi kehidupan (alat kelamin) yang dimiliki kaum pria. Istilah cucûr, pada dasarnya berarti : mengucur, mengalir, tetesan, atau aliran. Sedangkan istilah bawûk; mewakili hakekat sifat alat reproduksi kehidupan manusia (alat kelamin), yang dimiliki oleh wanita. Dengan demikian, istilah cucûr bawûk, jelas mengandung maksud hendak menceritakan hakekat proses awal kehidupan manusia. Kehidupan manusia, pada hakekatnya, selalu dimulai dari ritual pertemuan dua manusia, yaitu pria dan wanita; yang diikat oleh tali cinta dalam suatu perkawinan.

Istilah bawûk, di kalangan masyarakat tradisional suku-bangsa Jawa, juga dikenal sebagai panggilan kesayangan untuk anak perempuan atau anak gadis. Seorang anak perempuan yang sangat disayangi oleh orang-tuanya, biasanya dipanggil dengan sebutan bawûk atau wûk. Panggilan atau sebutan ini, juga setara artinya dengan ndhûk atau nîng. Sedangkan istilah cucûr, kucûr, atau ngucûr; mewakili hakekat peristiwa yang dilaksanakan oleh alat reproduksi yang dimiliki oleh kaum pria, pada saat dilakukan proses reproduksi kehidupan manusia. Istilah cucûr, kucûr, atau ngucûr; mempunyai pengertian : mengucur, menetes, atau mengalir perlahan-lahan. Dalam hal ini, yang dimaksud adalah cucuran atau tetesan kehidupan baru yang diberikan oleh pria kepada wanita, dalam proses reproduksi kehidupan manusia. Dalam istilah sehari-hari, istilah ini mewakili proses bersenggama atau bersetubuh, antara pria dan wanita; yang kemudian membuahkan adanya janin (bayi). Hakekat kehidupan pria dan wanita yang terikat perkawinan dan cinta yang penuh kesucian; adalah pria memberikan dan wanita menerima benih kehidupan manusia masa depan. Mereka itu, berdua pada hakekatnya adalah sepasang manusia yang melayarkan biduk kehidupan, menempuh badai di dalam samodra kehidupan di alam jânâlokâ.

Keinginan hati untuk dapat menimang seorang anak, seringkali mengakibatkan kepahitan hidup atau kesengsaraan bagi seorang ayah atau seorang ibu. Bayang-bayang kebahagiaan seorang ibu untuk menimang bayinya, sering disertai kerelaan untuk menghadapi kesengsaraan, kesakitan, bahkan kematian; pada saat melahirkan. Dapatkah seorang laki-laki (bagaimanapun tegarnya ia pada saat menghadapi badai kehidupan) bersikap tegar dan tega pada saat menghadapi dan mendampingi wanita yang menjadi garwâ-nya (istilah garwâ, merupakan singkatan sigaraning nyâwâ; yang artinya : belahan jiwa) saat harus meregang nyawa menghadapi kesengsaraan, kesakitan, bahkan mungkin kematian; pada saat melahirkan bayi dambaan hatinya? Dapatkah seorang pria membayangkan bagaimana isteri tercintanya itu meregang tubuh, menantang maut hanya untuk melahirkan seorang bayi yang selalu dimimpikan ayahnya? Apakah seorang pria terbayangkan bahwa keselamatan dan kelahiran bayinya, manusia muda dambaan yang seringkali diceritakannya atau dimimpikannya itu; seringkali harus ditebus dengan kesengsaraan dan bahkan mungkin kematian isteri tercintanya? Seorang pria, tidak akan pernah bisa membayangkannya, karena ia ditakdirkan untuk tidak pernah mengalami peristiwa ini.

Ritual pertemuan antara pria dan wanita, pada akhirnya akan melahirkan manusia-manusia muda. Mereka itu, manusia yang akan mengarungi samodra kehidupan masa depan. Anak-anak mereka yang baru lahir itu, lemah dan tak berdaya sama sekali menghadapi dunia yang penuh rintangan dan mara bahaya, dalam menempuh kehidupan yang ganas dan tak kenal belas kasihan. Tetapi bagi ayah dan ibunya, mereka ini merupakan permata hati yang tak terkirakan nilainya. Seorang ayah atau ibu, bahkan rela ‘tôh pati’ atau ‘ngetôhi pati’ (bertaruh nyawa atau bersabung nyawa; mempertaruhkan keselamatan diri sendiri), demi keselamatan, kebahagiaan, dan kehidupan anak-anak mereka.

Kelucuan, kerinduan, kelembutan anak-anak manusia yang telah dilahirkannya itu, dan juga kenakalannya; tak akan pernah merintangi ayah dan ibunya, untuk mencintai dan menyayanginya. Kesulitan demi kesulitan yang harus dihadapi oleh seorang ayah atau seorang ibu, untuk mempertahankan hidup, membesarkan, menyenangkan, dan membahagiakan anak-anak permata hati tercintanya itu; bahkan sering membuat kehidupan ayah dan ibu menjadi sengsara. Mereka berdua, sepasang manusia; berjuang menempuh badai lautan kehidupan, demi permata hatinya, demi anak-anaknya; biarpun kehidupan mereka sendiri seringkali penuh dengan kepahitan; sepahit rasa buah paré anôm (buah paria muda); yang biarpun terasa pahit, tetapi tetap juga dimakan. Sayur yang menggunakan bahan buah paria muda; meskipun sudah dimasak, akan tetap terasa sangat pahit. Meskipun terasa pahit, sayur buah paria muda ini tetap memiliki rasa sedap yang luar biasa jika dimakan. Sayur paria muda, merupakan salah satu sayur yang sangat disukai oleh kalangan masyarakat tradisional suku-bangsa Jawa dan Sunda. Makanan bakso tahu, yang umumnya sangat disukai dan banyak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia misalnya, seringkali juga menggunakan paria muda sebagai salah satu kelengkapan sayurnya; selain menggunakan sayur kol dan kentang rebus.

Di dalam kesengsaraan dan kepahitan hidup ayah dan ibu, kelucuan anak-anaknya seringkali menjadikan kehidupan yang pahit itu terasa manis. Makna filosofis buah paria muda inilah yang dikandung dalam gendhîng Paré Anôm; yang merupakan kelanjutan gendhîng Cucûr Bawûk; karena memang begitulah hakikat ritual kehidupan manusia di alam jânâlokâ ini. Kesulitan dan kepahitan hidup, seringkali harus dialami manusia jika ia hendak menggapai cita-citanya.

Jika anak-anak telah mulai menjadi remaja; maka mulailah suatu dunia yang baru yang ‘asri’ (indah) dan ‘moncèr’ (penuh kecemerlangan, dan penuh gemerlap). Ayah dan ibu anak-anak itu, akhirnya hanya bisa melihat dari kejauhan; dan seringkali tidak lagi bisa berbuat apa-apa; atau, tidak bisa berbuat banyak lagi. Anak-anaknya mulai berubah menjadi remaja yang tampan dan cantik. Mereka mulai meninggalkan pangkuan dan rengkuhan orang-tuanya. Mereka itu memulai proses meninggalkan kehidupan bergantung kepada ayah dan ibu. Mereka itu adalah anak-anak manusia, yang sudah dibekali ‘kawrûh, kasantosan, lan ilmu’ (pengetahuan, keteguhan hati, dan ilmu) dalam menyongsong masa depan. Anak-anak yang mulai menginjak remaja itu, bagi orang-tua yang telah membesarkannya dengan segala kesulitan; mereka itu sangat katôn asri (terlihat sangat indah), seperti realitas yang mereka tampilkan. Jika anak-anak mereka itu pria, maka akan terlihat sebagai manusia yang muda, tampan bagai satriyâ (ksatria), râjâ mudhâ (raja muda), atau bagaikan déwa (déwa) turun dari kahyangan. Atau, jika anak-anak mereka itu perempuan, maka akan terlihat sebagai manusia yang cantik rupawan, belia, jelita, bagaikan dèwi, bagaikan puteri kahyangan, atau bagaikan ratu. Mereka itu, akan menjadi intan permata orang-tua, yang dengan segala kecermerlangannya, menyongsong kehidupan masa depan, untuk kemudian menjadi manusia-manusia dewasa, panuh pamôr kehidupan, dan akhirnya akan menggantikan segala peran ayah ibu mereka.

Itulah kandung makna filosofis gendhîng ladrang Sri Katôn; yang merupakan nama gendhîng lanjutan dari gendhîng Paré Anôm. Dan memang begitulah cerita kehidupan kita sebagai manusia. Masa-masa yang penuh kesulitan akhirnya berganti dengan masa penuh kecemerlangan dan gemerlap; paling tidak dalam bentuk cita-cita atau mimpi. Masa dewasa yang penuh dengan keberhasilan dan penuh gebyar gemerlap duniawi. Manusia memetik ‘wôhîng penggawé’; yakni memetik karma, buah dari perbuatan dan peri-lakunya. Mencapai puncak kejayaan, puncak segala cita-cita kehidupan yang dimimpikannya.

Dinâ (hari) berganti minggu; minggu berganti wulan (minggu); wulan berganti warsâ (tahun); warsâ berganti windu; dan seterusnya. Sang Kâlâ berjalan terus menuruti takdirnya, memângsâ seluruh isi kehidupan di alam jânâlokâ. Maka datanglah akhir masa katôn asri, akhir masa gemerlap dan kegemilangan; meninggalkan kenangan yang indah dan penuh mimpi. Manusia-manusia dewasa itu, telah mulai berubah menjadi manusia-manusia yang tua renta. Kehilangan segala keperkasaan masa mudanya, kehilangan kejelitaan masa gemerlapnya. Menyongsong masa akhir, saat hidup hendak berhenti; saat datang masanya hendak menghadap Sang Murbèng Jagat Râyâ (Sang Penguasa Jagat Raya). Dan akhirnya, datang jua waktu yang sudah ditakdirkan dan dijanjikan itu. Jiwa manusia bersiap pergi meninggalkan raganya. Sûkmâ Ilang, menghadap ke pangkuan Sang Penguasa Hidup dan Mati. Manusia tak bisa menolak takdir yang telah diberlakukan terhadapnya. Begitulah kandungan makna filosofis gendhîng ketawang Sûkmâ Ilang, yang berkisah tentang saat akhir kehidupan manusia di alam jânâlokâ. Manusia meragukan kembali, berbagai hal yang baik dan buruk tentang dirinya. Ia bimbang kepada seluruh kehidupannya.

Segala yang sudah terjadi, disesali; meskipun ia tahu hal itu tak lagi berguna. Segalanya sudah menjadi bubur. Sang Kâlâ telah memburunya, untuk segera menghadap Sang Murbèng Jagat Râyâ (Sang Penguasa Jagat Raya); mempertanggung-jawabkan segala perbuatan dan kehidupan duniawinya. Seperti irâmâ gendhîng Ayak-ayak yang tak menentu; kadang-kadang cepat dan kadang-kadang melambat; serba terbata-bata, serba tak jelas lagi irâmâ-nya. Seakan-akan hidup ini masih panjang, tetapi seringkali terasa bahwa kehidupan seakan tinggal beberapa detik lagi. Manusia, dengan terburu-buru menimbang kembali segala perbuatan dan peri-lakunya di alam jânâlokâ. Sang Kâlâ semakin dekat dengan janjinya. Dalam irâmâ yang semakin nyrepeg (terburu-buru) dan melonjak-lonjak, tergesa-gesa manusia berusaha menebus segala keburukan duniawinya; meskipun sering terlambat dan kehabisan waktu. Tak ada lagi kesempatan, tak ada lagi yang bisa menolong dan menyelamatkannya dari kematian.

Sang Kâlâ sudah tak sabar lagi. Dengan nyrepeg, dijemputnya manusia, untuk mempertanggung-jawabkan hidup dan peri-lakunya. Lalu sampak-pun tiba-tiba bertalu-talu; melonjak-lonjak ganas, menyentak, merenggut nyawa manusia dan seluruh kehidupan manusia seketika. Manusia meregangkan tubuhnya dalam satu sentakan terakhir. Jiwa manusia lepas dari râgâ-nya; dijemput Sang Kâlâ. Lalu seketika hening, segala berakhir di sini. Semuanya, tiba-tiba kembali ke keadaannya semula. Kembali menjadi tiada. Kembali dalam keheningan abadi.

Gendhîng Cucûr Bawûk, yang melambangkan pertemuan sejoli manusia, yang dilanjutkan Paré Anôm, yang melambangkan dimulainya kehidupan muda manusia; kemudian disambut ladrang Sri Katôn, yang mewakili kehidupan cemerlang masa muda manusia; lalu berpindah menjadi ketawang Sûkmâ Ilang, saat manusia dewasa telah menjadi renta. Dan pada saat semuanya hendak berakhir, Ayak-ayak Talu digemakan; melambangkan proses penyesalan manusia saat nyawanya hendak menghadap Sang Murbèng Jagat Râyâ (Sang Penguasa Jagat Raya). Lalu datanglah Sang Kâlâ menjemput, diiring Srepegan Manyurâ yang serba terburu-buru. Dan bersama dengan gema Sampak Manyurâ yang menyentak dan melonjak seketika; berakhirlah seluruh kehidupan manusia di alam jânâlokâ. Gendhîng-gendhîng yang dirangkai menjadi suatu kesatuan itu, semuanya menceritakan seluruh filosofi kehidupan ritual manusia. Ini merupakan rangkaian gendhîng yang bersifat sakral, dan juga merupakan salah satu rangkaian gendhîng yang bersifat ritual; yang dalam waktu relatif singkat menceritakan seluruh proses kehidupan manusia, sejak dilahirkan sampai mati. Sejak dari tiada, kembali menjadi tiada. Menyadarkan manusia yang masih hidup, bahwa ia tak lebih dari setitik debu tanpa arti di hadapan Sang Murbèng Jagat Râyâ (Sang Penguasa Jagat Raya).

Gendhîng talu, biasanya dimainkan sesaat menjelang pagelaran. Jika dimainkan secara lengkap, seluruh rangkaiannya akan memakan waktu sekitar satu jam. Karenanya, pada saat dimainkan, harus diatur waktunya sedemikian rupa, sehingga pada saat berakhirnya permainan gendhîng talu; waktu menunjukkan saat yang tepat untuk memulai pagelaran wayang, yaitu sekitar pukul sembilan malam (jika pagelaran wayang dilakukan malam hari); atau, pukul sembilan pagi (jika pagelaran wayang dilakukan pada siang hari).

Gendhîng talu, selalu berupa suatu rangkaian komposisi yang disusun atas beberapa gendhîng yang berlainan pola. Rangkaian komposisi gendhîng talu yang paling banyak dimainkan orang sejak ratusan tahun yang lampau, adalah pola gendhîng yang disusun atas gendhîng Cucûr Bawûk, minggah (dipindahkan atau dilanjutkan) ke Paré anôm; lalu minggah (dipindahkan atau dilanjutkan) ke ladrang Sri Katôn; kemudian lalu minggah (dipindahkan atau dilanjutkan) ke ketawang Sûkmâ Ilang; disambut minggah (dipindahkan/dilanjutkan) ke Ayak-ayak Talu; kemudian minggah (dipindahkan atau dilanjutkan) ke Srepegan Manyurâ; dan seterusnya minggah (dipindahkan atau dilanjutkan) ke Sampak Manyurâ secara mendadak; dan tiba-tiba diakhiri dengan digunakannya nada-nada yang monoton selama beberapa saat.

Urutan pola gendhîng talu yang lazim dimainkan orang secara lengkap (pada pagelaran wayang kulît pûrwâ), jika diurutkan, akan membentuk pola urutan sebagai berikut : pola gendhîng – pola ladrang – pola ketawang – pola ayak-ayak – pola srepegan – pola sampak. Ini merupakan urutan pola yang bersifat baku. Namun demikian, pada masa sekarang seringkali pada saat memasuki pola srepegan, seringkali disisipi permainan gamelan yang berpola palaran, misalnya : palaran Pangkûr; atau, disisipi permainan gamelan yang berpola srepegan lainnya, misalnya, disisipi srepegan Peksi Manyurâ. Tetapi pada jenis pagelaran lainnya, misalnya pada pagelaran wayang wông (wayang orang), seringkali rangkaian gendhîng talu hanya dimainkan sebagian saja. Hal ini, biasanya lebih disebabkan adanya kebutuhan akan pemendekan waktu permainan. Bahkan seringkali dimainkan secara sangat pendek; yaitu menggunakan pola ayak-ayak – pola srepegan – pola sampak. Ini merupakan urutan pola yang paling pendek.

Pola garap gendhîng talu, sangat berbeda dengan pola garap gendhîng pambukâ pagelaran yang mengawalinya. Pada garap gendhîng talu, meskipun permainan wayang belum dimulai, tetapi pola garap-nya sudah menggunakan pola khas garap wayangan. Misalnya, menggunakan pola permainan kendhang kosèk wayangan; menggunakan moda irâmâ kosek wayangan, yang merupakan irâmâ khas wayangan; yaitu ber-irâmâ tanggûng (agak cepat); menggunakan ricikan kecèr wayangan (ricikan kecèr kombali); pada saat permainan gendhîng-gendhîng-nya. Karena gendhîng talu pada dasarnya bermaksa sangat filosofis dan sakral; maka sewaktu memainkannya, biasanya dilakukan secara sangat khusuk.

Pada saat permainan gendhîng talu dimulai; semua lampu penerangan panggûng pagelaran, umumnya dinyalakan dengan terang benderang. Pada saat permainan gendhîng talu mencapai Sampak Manyurâ yang ber-irâmâ sesegan (sangat cepat), biasanya seluruh lampu penerangan akan dipadamkan; dan hanya lampu geber/kelîr wayang atau penerangan dhalang saja yang tetap menyala. Sesaat kemudian, jika dhalang sudah duduk di tempatnya; rangkaian akhir gendhîng talu akan dihentikan secara mendadak dalam nada-nada yang monoton selama beberapa detik. Suasana akan menjadi hening selama beberapa saat. Lalu dhalang akan memberikan âbâ-âbâ bersiap diri, menggunakan cempala; disahut dengan kethekan ricikan kendhang. Bunyi gedhôg yang dilakukan menggunakan cempâlâ, kemudian memberikan tanda bukâ, diikuti bunyi kendhang. Gendhîng Ayak-ayak Manyurâ berbunyi. Pagelaran-pun dimulai.

Bram Palgunadi

Posted in Cerita Wayang | Tagged | Leave a comment

Bagong – Bawor – Cepot

Bagong – Bawor – Cepot

bagong1

Ki Lurah Bagong adalah nama salah satu tokoh panakawan dalam kisah pewayangan yang berkembang di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Tokoh ini dikisahkan sebagai anak bungsu Semar. Dalam pewayangan Sunda juga terdapat tokoh panakawan yang identik dengan Bagong (dalam bahasa Sunda: bagong berarti babi hutan, celeng), yaitu Cepot atau Astrajingga, adalah anak tertua Semar, dan di versi wayang golek purwa- Sunda terkenal dengan sebutan Cepot atau Astrajingga , disebut juga Gurubug atau Kardun, sedang di Jawa Timur lebih dikenal dengan nama Jamblahita. Di daerah Banyumas, panakawan ini lebih terkenal dengan sebutan Bawor, Pada wayang Banjar – Kalimantan Selatan ia dipanggil Begung.

Ciri Fisik, sebagai seorang panakawan yang sifatnya menghibur penonton wayang, tokoh Bagong pun dilukiskan dengan ciri-ciri fisik yang mengundang kelucuan, bertubuh pendek dan gemuk, dengan mata bundar besar, bibirnya lebar, hidung kecil dan bersifat agak kekanak-kanakan.
bagong (e-wayang)

Gaya bicara Bagong terkesan semaunya sendiri. Dibandingkan dengan ketiga panakawan lainnya, yaitu Semar, Gareng, dan Petruk, maka Bagong adalah sosok yang paling lugu dan kurang mengerti tata krama. Meskipun demikian majikannya tetap bisa memaklumi.

Pada versi Cirebon ciri- ciri Bagong, suaranya serak, kasar, selalu berbahasa Sunda, mungkin karena hal ini Bagong Cirebon disebut juga Astrajingga. Jika berkelahi ia “menumbuk“ lawan nya dengan kepala.

Asal usul

bagong-cirebon-03Beberapa versi menyebutkan Bagong bukanlah anak kandung semar, namun ciptaan.

Dikisahkan Semar yang merupakan penjelmaan Batara Ismaya diturunkan ke dunia bersama kakaknya, yaitu Togog atau penjelmaan dewa bernama Batara Antaga untuk mengasuh ketu-runan adik mereka, yaitu Batara Guru.

Togog dan Semar sama-sama mengajukan permohonan kepada ayah mereka, yaitu Sanghyang Tunggal, supaya masing-masing diberi teman. Sanghyang Tunggal ganti mengajukan pertanyaan berbunyi, siapa kawan sejati manusia. Togog menjawab “hasrat”, sedangkan Semar menjawab “bayangan”. Dari jawaban tersebut, Sanghyang Tunggal pun mencipta hasrat Togog menjadi manusia kerdil bernama Bilung, sedangkan bayangan Semar dicipta menjadi manusia bertubuh bulat, menjadi seorang lelaki yang postur tubuhnya mirip Semar, ia diberi nama Bagong.

Versi lain menyebutkan, Semar adalah cucu Batara Ismaya. Semar mengabdi kepada seorang pertapa bernama Resi Manumayasa yang kelak menjadi leluhur para Pandawa. Ketika Manumayasa hendak mencapai moksa, Semar merasa kesepian dan meminta diberi teman. Manumayasa menjawab bahwa temannya yang paling setia adalah bayangannya sendiri. Seketika itu pula, bayangan Semar pun berubah menjadi manusia, dan diberi nama Bagong, walaupun Bagong sebenarnya merupakan anak pertama Semar, ia sering dijadikan anak bungsu. Salah kaprah ini disebabkan oleh sifat Bagong yang kekanak-kanakan.

Versi lainnya, diceritakan bahwa pada saat Gareng diangkat menjadi anak sulung Semar, Petruk tidak terima karena sesung-guhnya Petruk lebih tua, maka Petruk minta diberikan seorang adik. Kemudian Semar memuja bayangannya sendiri menjadi seorang laki-laki yang mirip Semar. Maka terciptalah Bagong (menurut pedalangan gagrak Yogyakarta) atau Bawor (menurut pedalangan gagrak Banyumas), yang berasal dari bayangan Ismaya atau Semar, dan diangkat menjadi anak bungsunya. tokoh Bawor hadir di dunia bukan dilahirkan melainkan diciptakan.

baworVersi Banyumas mengisahakan ketika Sanghyang Ismaya menjadi Semar, turun ke bumi, Bumi masih awang-uwung, tak ada satupun makhluk hidup di bumi. Oleh karena itu kemudian Sanghyang Wenang menciptakan bayangan Semar menjadi sesosok manusia dengan postur tubuh yang relatif sama, diberi nama Bawor yang bertugas menemani Semar. Atas dasar dari kejadian itu, kemudian Bawor diakui sebagai anak tertua dari tokoh Semar. Anak kedua dan ketiga adalah Nala Gareng dan Petruk.

Tokoh Bawor adalah maskot masyarakat Banyumas. Ciri utama dari wayang kulit gagrag Banyumasan adalah nafas kerakyatannya yang begitu kental dan Ki Dalang memang berupaya menampilkan realitas dinamika kehidupan yang ada di masyarakat.

Riwayat gaya Jawatimuran adalah ketika Sang Hyang Ismaya turun ke bumi menjelma menjadi Semar, Semar diutus oleh Sang Hyang Tunggal agar menuju Keling, selanjutnya Semar membutuhkan teman. Bayang-bayangnya sendiri lalu dicipta menjadi bentuk yang hampir mirip dengannya, yang dinamakan Bagong.

Ba artinya bek, gong artinya gedhe. Juga dinamakan (Sanghyang) Bladu, Bla adalah belah/sigar, dho artinya loro, bahwa Bagong terjadi dari belahan yang menjadi dua.

Disebut Mangun Hadiwangsa, karena dia yang mempunyai kewajiban untuk membangun (mangun) agar wangsa (bangsa) menjadi baik atau adi. Nama lainnya Jamblahita. Jambla yang berarti bodoh, hita adalah temen (jujur). Ia bodoh tetapi jujur dan serius.

Semar dan Bagong diberi satu senjata. Namun, senjata tersebut diperebutkan berdua sehingga melebar dan berubah wujud manusia yang dinamai Saraganja serta menjadi kawan Semar.

Peristiwa selanjutnya, Semar membuang kentut dan Bagong membaui bau busuk terus-menerus ke mana pun perginya. Bau kentut yang mengikuti Bagong itu akhirnya berubah wujud menjadi seorang wanita yang selanjutnya dinamai Dewi Muleg. Dewi Muleg ini dijodohkan dengan Bagong sebagai istrinya. Sedangkan timbulnya Besut belum lama. Ketika Bagong ke belakang dalam kondisi yang gelap, dia menginjak tinjanya sendiri lalu dikipat-kipatkan. Tiga kipatan menjadi tiga orang, dinamakan Besut, Besel dan Besil, ketiganya menjadi anak Bagong.

Yang dipakai sekarang ini hanya Besutnya saja, Besut akhirnya dinyatakankan sebagai anak Bagong. Tokoh wayang Besut bentuknya mirip Bagong tetapi dalam ukuran lebih kecil. Disebut juga Hyang Katinja, versi lain tokoh ini berasal dari tinja Semar yang terinjak Bagong..

Dengan kejadian tadi, Semar memiliki relasi perkawanan dengan Bagong, Saraganja, Dewi Muleg, dan Besut. Mereka selanjutnya disebut Panakawan.

cepot-5

Versi Sunda : Sanghyang Antaga menyatakan bahwa ia tidak sanggup memelihara Pusaka Jamus Layang Kalimasada, serta menyerahkannya kepada Semar, hanya meminta teman. Togog memuja serata meminta dari pusaka, muncullah seorang yang mirip Togog, hanya agak kurus, dan dinamai Sarawita. Togog dan Sarawita meninggalkan Semar, menuju ke arah barat.

Semar menangis sendiri beserta pusaka Layang Jamus Kalimasada, tiba-tiba datang hujan yang deras, Semar mencari tempat berteduh, dan menemukan dangau da masuk ke dangau. Tiba-tiba hujan berhenti dan seketika terang benderang. Semar sangat gembira dan merasa ditolong oleh dangau, lalu meminta kepada pusaka agar dangau itu dijadikan teman.

Seketika muncullah orang yang mirip Semar namun agak kecil, dan dinami Astra (Asta) Jingga, asta artinya lengan – jingga jenis warna, yang berarti bibit kehidupan.

Dalam perjalanannya Semar dan Astrajingga menemukan patok, yang di”puja” oleh Semar, yang menjelma menjadi manusia jangkung berhidung panjang dan dinamai Petruk yang artinya patok di jalan. Ketiganya terus berjalan memasuki tempat perlindungan sehingga semua binatang buas tak mampu mengganggu, yang kemudian tempat perlindungan itu di”puja” dan menjelma menjadi orang pendek, bertangan bengkok dan berperut buncit dan dinamai Nalagareng, artinya hati yang kering.

Versi Cirebon : Semar menikah dengan Sudiragen, titisan dari isterinya di alam Kahyangan, yaitu Dewi Sanggani (puteri Umayadewa) , dari Sudiragen Semar tidak memperoleh anak. Tetapi Palasara, tempat Semar mengadi menyuruh Semar untuk mempunyai panakawan pembantu.

Semar menciptakan panakawan dan diakui sebagai anaknya, yaitu Ceblog, dari gagang daun kelapa (papah blarak), Bitarota, dari orang-orangan sawah (unduh-unduh), Duwala,dari bonggol atau tonggak bambu (bonggolan pring), Bagong, dari daun kastuba (kliyange godong kastuba), Bagalbuntung , dari bonggol jagung (bagal jagung), Gareng, dari potongan kayu gaharu dan Cungkring atau Petruk, dari potongan bambu (anjir dawa).

Versi Cirebon lainnya menyebutkan Bagong berasal dari tunggak jati.

Isteri Bagong ialah Dewi Bagnawati puteri Prabu Balya, raja gandarwa di kerajaan Pucang Sewu. Menurut versi Sunda, istri Cepot, ialah Endang Laelasari, putri Togog Wijamantri, dari perkawinannya Cepot berputra Sanggalangit.

Posted in Tokoh Punokawan | Leave a comment

Tokoh Panakawan

Tokoh Panakawan

165854_10151219812403736_2143522301_n

Lumping (wayang kulit) Cirebon mengenal banyak tokoh dan banyak perbedaan dibanding dengan Wayang kulit Jawa Tengah, terutama perbedaan tokoh panakawan. Diduga setelah penguasaan oleh Mataram pada paruh kedua abad 17, ternyata wayang Cirebon tidak terpengaruh oleh perubahan penguasaan Mataram di Jawa Barat. Begitu pula dengan wayang golek Cirebon. Banyaknya lakon dan wayang merupakan sumber yang kaya untuk pengetahuan yang dianggap bersejarah di darah Cirebon dan Sumedang.

Generasi tua di Cirebon menjunjung tinggi hal-hal tradisional serta legenda, sehingga legenda itu tetap hidup.

Di Kaliwedi , Arjawinangun, terdapat mitos, adanya dua buah wayang yang dibungkus dengan beberapa lembar kain putih; yang satu dikenal dengan Semar, yang satu lagi “hanya dikenal sebagai teman Semar”. Setelah petani menebarkan benih padi di sawah, maka pada malam Jum’at Kliwon, mereka akan datang menyambangi wayang ini, dengan membawa air untuk diberkati, sebagai syarat keberhasilan usaha tani nya, dan berharap panennya baik.

Pemberkatan air dilakukan dengan cara membuka bungkus wayang, kecuali lapis terakhir – dan hanya kuncenlah yang diperkenankan melihat wayang itu, kemudian wayang itu dibenamkan ke dalam air, disertai sedekah dari petani – wayang kenudian dibungkus lagi dan upacara selesai. Kain pembungkus itu amat diminati para petani, yang dapat diperoleh dengan menukarnya dengan kain yang baru.

Bila kuncen mendapatkan tangan-tangan wayang lepas dari ikatannya, maka hal itu merupakan pertanda panen gagal atau akan adanya bencana maupun wabah. Menurut keterangan, tangan yang lepas itu akan melekat kembali kepada wayangnya.

Upacara ini menunjukkan fungsi SEMAR sebagai Dewa Kesuburan Pertanian, biasanya sebelum menayangkan Semar , Dalang wayang Cirebon (biasanya dalang Wayang kulit yang kondang akan piawai pula memainkan wayang golek), akan menembangkan “pustaka ramakawi”:

Semar winangun tikang sara wara,
Dewa maya-maya katon raganing kelir,
Siti Bentar kang peputra
Semar asihe pendawa…

Semar mempunyai nama lain yaitu Kudapawana, Watukumpul dan Badranaya,

Terdapat versi keberadaan – silsilah Semar. Di Onderdistrik Kapetakan, Distrik Arjawinangun, versi keberadaan Semar diterangkan sebagai berikut:

Sanghyang Wenang menikah kepada Dewi Arini (Nurini) putri Prabu Ari (Nuradi) dari Pulau (Puncak gunung ) Keling, dan berputra Sanghyang Tunggal.

Pada suatu saat Sanghyang Tunggal bertapa, dan di tempat ia bertapa, tanahnya membesar, membuncah serta meledak,pecah keluarlah Dewi Siti Bentar, yang kemudian dinikahi oleh Sanghyang Tunggal.

Dari pernikahan ini Sanghyang Tunggal mempunyai 9(sembilan) anak, dua diantaranya lelaki yaitu Sanghyang Tismaya dan Sanghyang Ismaya.

Ketika di Suralaya akan diadakan pemilihan pengganti Sanghyang Tunggal sebagai penguasa Kahyangan , semuanya berminat menjadi penguasa, dan diadakanlah sayembara : Sesiapa yang dapat mencapai Bale Mercupunda, tanpa melorot kembali, dialah yang diangkat menjadi penguasa Suralaya atau Dewa Utama.

Sanghyang Tismaya berhasil mendapatkannya dengan tidak melorot, ia diangkat menjadi Batara Guru.

Sanghyang Ismaya atau Sanghyang Munged, gagal, jatuh ke bumi, namun ia dari Bale Murcupunda ia mendapatkan jimat Layang Kalimasada (yang kemudian diartikan sebagai Kalimah Sahadat, sebetulnya adalah Kali – Maha – Usada, judul kitab pengobatan kepunyaan Dewi Kali).

Setelah berada di atas bumi, Sanghyang Munged mencari seorang majikan, kemudian Palasara lah yang menjadi majikan sanghyang Munget, kemudian menjadi Raja Astina. Palasara bersedia menjadi majikan dan menerimanya sebagai Panakawan dengan syarat sanghyang Munged mengubvah penampilannya menjadi buruk. Sanghyang Munged melepas bungkus Layang Kalimasada, dan menempelkannnya kepada badannya sehingga mengubah bentuk tubuhnya, ia menjadi Semar yang berasal dari kata Samar. Jimat Layang Kalimasada diserahkannya kepada Palasara.

Semar menikah dengan Sudiragen, titisan dari isterinya di alam Kahyangan, yaitu Dewi Sanggani (puteri Umayadewa) , dari Sudiragen Semar tidak memperoleh anak. Tetapi Palasara menyuruh Semar untuk mempunyai panakawan pembantu.

Semar menciptakan panakawan dan diakui sebagai anaknya, yaitu:
Ceblog, dari gagang daun kelapa (papah blarak)
Bitarota, dari orang-orangan sawah (unduh-unduh)
Duwala,dari bonggol atau tonggak bambu (bonggolan pring)
Bagong, dari daun kastuba (kliyange godong kastuba)
Bagalbuntung , dari bonggol jagung (bagal jagung)
Gareng, dari potongan kayu gaharu
Cungkring atau Petruk, dari potongan bambu (anjir dawa).
Versi lain menyebutkan bahwa:
Ceblog, dari kayu sempu
Bitarota, dari tumbuhan rambat “tungkul”
Duwala,dari kayu panggang
Bagong, dari tunggak jati
Bagalbuntung , dari kemandi, sejenis benalu
Gareng, dari benalu kayu panggang,
Cungkring atau Petruk, dari pohon randu.

Peran Semar pada wayang Cirebon, tetap sama dengan peran Semar pada wayang lainnya.
Beberapa sifat dan perilaku anak-anak Semar:
Ceblog, pemberani dan berangasan
Bitarota, pendiam dan halus perasaannya
Duwala, tokoh yang gembira, suaranya menggembirakan majikannnya apabila menembang, namun jika bicara sengau
Bagong, suaranya serak, kasar, selalu berbahasa Sunda, jika berkelahi ia ,menumbuk “lawan”nya dengan kepala
Bagalbuntung , bicaranya pelo
Gareng, sombong,angkuh
Cungkring atau Petruk, selalu tampil dengan cerutu yang menyala untk menyerang lawannya, sifat dan perilakunya praktis sama dengan wayang Jawa Tengah.
Versi lain silsilah Semar (Palimanan):
Sanghyang Wenang yang beristerikan Dewi Suwati, mempunyai tiga putera, yaitu Sanghyang Tunggal, Sanghyang Ening dan Dewi Yati.

Sanghyang Tunggal menikah kepada Dewi Rakatawati, puteri dari Rakatatama, pandita dari Jaladri atau Jeladini dan memperoleh 9 (Sembilan) anak. Dewi Rakatawati juga melahirkan sebuah telur ajaib yang melayang, dan berhasil ditangkap oleh Sanghyang Wenang, dari telur itu menjadi Sanghyang Ismaya yang menjadi Sanghyang Munged (Semar) dan Sanghyang Tismaya yang menjadi Batara Guru.

Sanghyang Ismaya atau sanghyang Munged menikah kepada Dewi Sanggani serta mempunyai 10 orang anak. Dua anak Sanghyang Munged yaitu Dewi Hendani dan Batara Sambondana menetap di Negara Hindu, Yang lainnya dibawa oleh Batara Guru ke pulau Jawa, yaitu Batara Surya, Batara Anggaparana, Batara Kamajaya (Arjuna), Batara Darma (samiaji), Batara Yamadipati (Madepati). Batara Mambang, Batara Werka (BIma) dan Batara Basuki.

Jadi Semar adalah “ayah” Arjuna, dan menyebutnya dengan Bapa Bendara, karena mewakili kedudukan Sanghyang Tunggal.

522817_10151219811158736_1597229735_n
TOGOG

Togog alias Secawraga atau Secangragas, asalnya Disebut Sanghyang Punggung, kakak Semar. Ibunya seorang wanita Selong (Ceylon,Srilanka), Semar menyebutnya “Kakang Anom” karena lebih tua, namun mendapat wajah buruk lebih muda dari Semar.

Togog – Wayang Kulit Cirebon
Sanghyang Punggung, juga berupaya menjadi Raja Kahyangan, namun gagal karena melorot dari Bale Mercupunda dan jatuh di hutan Kendalgrowong, yang kemudian digunakan untuk bertapa. Di hutan ini ia bertemu dengan Sanghyang Munged, yang berceritera kepada Togog, bahwa ia ingin mengubah dirinya berhubung ia termasuk daftar Pencarian Dewa, akibat mencuri ajimat Cupu Manik Astagina dan Cupu Ratna Tirta Kamandalu dari Suralaya.

Cupu Manik Astagina ini berisi minyak yang bias membuat orang jadi kaya dan Cupu Ratna Kamandalu mengandung minyak untuk kekebalan.

Munget, menerapkan – memakai bungkus ajimat ke badannya, dan berubah menjadi Semar, kemudian diikuti Sanghyang Punggung, yang berubah menjadi Togog. Togog kemudian menjadi panakawan Dasamuka.

Sebelum pemunculan Togog, dalang akan mengucapkan pustaka kramakawi :

Togog lurah Wijamantri,
Togog mungging (munggah ing ) bale,
Nabuh Bende siguntur
Atau:
Akuing Tejamantri,
Mungging bale
Mangutus gupuh nabuh tengara bala.

TEMBILUNG

Tembilung disebut juga Surahita, adalah ciptaan Togog .
Togog ingin mendapatkan teman dalam perjalanannya, maka dari seekor burung hantu (kukuk-beluk), diciptakan menjadi temannya ,
diberi nama Tembilung.

735089_10151219812848736_1284949666_n

SEKARPANDAN

Sekarpandan disebut juga Cemuris atau Curis. Ada yang menyebutkan bahwa Sekarpandan adalah adik Semar, pendapat lainnya menyebutkan Sekarpandan adalah adik ipar Semar, Sekarpandan adik Dewi Sanggani, yang bernama Narcas; sebelumnya ia bernama Sanghyang Sukmarasa.

Sanghyang Sukmarasa juga berupaya untuk menjadi Raja Kahyangan, ia terjatuh dari Bale Mercupinda, dan lehernya tersangkut di pohon pansan. Ia ditemukan dan ditolong oleh Sambarama, kakak Palasara, kemudian diserahkan kepada Semar yang telah berpenampilan buruk.

Karena Sanghyang Sukmarasa juga mencuri jimat Cupu Garuda Mahmud dari Suralaya, sudah pasti temasuk daftar pencaraian Dewa, maka oleh Semar dianjurkan mengubah penampilannya. Sanghyang Sukmarasa melepas bungkus jimat dan menggunakan ke badannya,sehingga berubah penampilannya. Setelah berubah, Semar berkata untuk tidak menyebut Kakang, tetapi harus menyebut “pean” kependekan dari “ipe reang – ipe reh ing Hyang), JImat ini berisi minyak untuk kekebalan (lenga teteguhan)

oleh : E.W.Maurenbrecher – Pensiunan Asisten Residen Tjirebon –
Naskah tahun 1936 – majalah DJAWA : tijdschrift van het Java Instituut – Jogjakarta.
(terjemahan bebas oleh Bapak Sadeli)

Posted in Tokoh Punokawan | Leave a comment

Boma Nara Sura

Ini adalah sebuah penggalan kecil bagian awal, dari episode drama cerita wayang ‘Boma Nara Sura’

bomanarakasura-wanda-bagus-solo-3

Sebuah tragedi cinta segi tiga yang rumit, penuh pengorbanan, dan sangat menghancurkan; karena melibatkan perselingkuhan dengan saudara kandung, ditambah dengan sebuah fenomena ‘titisan’ yang pada masa lampau disebabkan oleh terjadinya suatu skandal yang menggemparkan dan sangat memalukan di dunia kahyangan para dewa-dewa.

Biasanya, drama tragedi cinta selalu berkait erat dengan wanita sebagai korban. Tetapi kali ini, kita berhadapan dengan tokoh laki-laki yang menjadi korbannya….

Tiba-tiba ia diam tertegun, terpaku tegak bagaikan patung batu tak bergerak. Lamat-lamat terbawa sang samirana, terdengar Tembang Sendhon Tlutur yang merujit perasaan di tengah remangnya cahaya bulan purnama yang sendu, membuat bayangan hitam dahan-dahan pohon tua yang kering meranggas di atas tanah datar bebatuan.

Bayangan hitamnya, seakan mencakar langit, seperti jari-jari tangan yang putus harapan, menggapai harapan yang musnah ditelan cerita parwa di alam janaloka. Suara desah resah tembang merana, diterpa suara rebab menyayat, melabuhkan suasana kiamat. Sesekali disentuh lengking bunyi seruling, menggemakan rasa merontokkan sukma. Sekelompok burung camar, terbang di pantai Samodra Utara, melayang terbang terbanting-banting di tengah badai.

Awan hitam kelam bergulung-gulung menakutkan, mengalir berubah-ubah rupa, bagaikan sekawanan jin setan perayangan. Menari membawa petaka di alam raya, menenggelamkan rasa yang hilang tak bermakna. Perlahan bagai tak terasakan, seakan hendak menyembunyikan diri di dalam kelam, terdengar suara tembangnya merana….

Kingkin saya markiyu,
Rinasa saya karasa,
O,
Angantya wuwusing dewa,
Awignam hastu wijil ing lathi,
O,
O,
Riris karasa sajroning nala,
Karasa lir jaka lola,
Kadya riniris rasane,
Mung sira puspitaningsun,
Sesotya pindha pepadhang,
Jroning kalbu salawasnya,
O,
Ri kalanta anglila ingsun,
O,
O. [1]

Terbayanglah, Sang Boma Nara Sura yang gagah perkasa itu, sama sekali tak berdaya saat menghadapi takdirnya sebagai laki-laki. Berdirinya tak kokoh lagi, lemas lunglai raganya, bagai tak bertulang lagi.

Rubuhlah segala daya tubuhnya, tak kuasa menyangga berat raganya. Bumi seakan kiamat, saat mendengar pengakuan Hagnyanawati permaisurinya, yang jatuh hati kepada Samba sang pembawa petaka.

Hari bahagia, seketika berganti dengan badai guntur yang menakutkan. Berita terdengar bagaikan sejuta halilintar menyambar bersama ke bumi dalam sedetik. Meluluh-lantakkan seluruh kekuatan yang semula menopang raganya. Keringat dingin seketika mengalir deras tak tertahankan dari tubuhnya bagai disadap. Lenyap sudah segala yang dimilikinya. Lenyap sudah harga dirinya sebagai seorang penguasa. Lenyap pula kehormatannya sebagai seorang laki-laki….

Bram Palgunadi

Posted in Cerita Wayang | Tagged | Leave a comment

Sukrasana

Menemukan pemimpin sekaliber Bung Karno, Bung Hatta, Bung Sjahrir, dan Tan Malaka terlalu mewah bagi bangsa kita.

arjunasasrabahu

Dalam degradasi watak manusia Indonesia yang serius, kini kita hanya butuh pemimpin yang memiliki kapasitas orang baik yang mrantasi (memberi solusi).

Kriteria orang baik itu mungkin bisa kita temukan dalam sosok Sukrasana, tokoh dalam pewayangan yang buruk secara fisik tapi sakti dan berwatak mulia. Ahli filsafat dari UGM, Damarjati Supadjar, memaknai Sukrasana sebagai ”suka sarana” atau memberikan jalan penyelesaian atas masalah. Makna itu merupakan analogi dari watak solider Sukrasana. Ia selalu siap berkorban untuk kepentingan orang lain, atas dasar cinta dan pengharapan mewujudkan dunia yang ideal.

Sukrasana bahkan tak pernah berhitung untung dan rugi atas pilihan itu. Termasuk ia harus terbunuh oleh kakaknya sendiri, Bambang Sumantri. Padahal, sang kakak telah dibantunya hingga berhasil menjadi bagian dari elite kekuasaan raja agung Harjuna Sasrabahu.

Sukrasana adalah monumen kesetiaan, integritas, dan komitmen yang telah menjadi rujukan kolektif. Dalam jagat politik kita yang dikuasai pencitraan ala Arjuna yang serba kinclong dan moblong-moblong (pesona diri yang berlebihan), Sukrasana menjadi antitesis yang sangat strategis. Ia melawan arus besar kegandrungan publik atas pemimpin yang memiliki keindahan citra fisik dan mentalitas manusia salon.

Terbukti, para pemimpin ala Arjuna itu tak memberikan perubahan signifikan bagi bangsa ini. Sebaliknya, bangsa ini justru harus melayani segala kemanjaan para ”Arjuna”, sekaligus jadi tong sampah bagi keluhannya.

Lebih menyedihkan lagi, para ”Arjuna” itu sering ngabul-abul (mengacaukan) kas kerajaan untuk membiayai kepentingan dirinya yang tidak terbatas. Anggaran pendapatan dan belanja kerajaan pun sering kali mereka gerogoti secara sistemis.

Kewajiban profetis

Manusia ”Sukrasana” tak memiliki mentalitas borjuistis-hedonistis ala Arjuna. Ia adalah manusia esensi atau manusia substansi yang tak butuh rumbai- rumbai artifisial dan mentalitas kemaruk. Ia telah mencapai titik kesempurnaan sebagai makhluk Tuhan; sebuah fase di mana ia mampu melenyapkan seluruh ego dan superegonya.

Ia selalu berpikir bahwa dirinya tak lebih dari sekadar titah, makhluk Tuhan yang memiliki kewajiban profetis, semacam tugas kenabian untuk membeberkan dan mewujudkan nilai-nilai ideal kehidupan. Satu-satunya pamrih dalam dirinya adalah pencapaian cita-cita yang membawa kemaslahatan bagi banyak orang. Bukan ingin dipuji atau merampas simpati publik.

Bagi manusia ”Sukrasana”, segala pencitraan tak lebih dari kosmetik untuk menutupi berbagai borok, baik borok personal, borok politik, maupun borok sosial. Sukrasana tak butuh bedak dan gincu pencitraan karena ia tak punya borok. Ia sangat percaya diri untuk tampil lugas, apa adanya, penuh sikap kesatria. Ini dadaku, mana dadamu, begitu ia berucap tanpa niat sombong, tapi tegas dan berani.

Kesederhanaan, kejujuran, kepatutan, dan kelayakan menjadi dasar kehadiran manusia ”Sukrasana”. Sikap ini bisa dimaknai sebagai asketisisme, pengekangan diri atas godaan duniawi yang menjebak manusia pada kubangan lumpur artifisialitas dan akhirnya bisa mengubah watak seseorang menjadi culas.

Konkretnya, karena manusia ”Sukrasana” adalah manusia esensi dan substansi, ia tidak membutuhkan cash flow tinggi untuk mengongkosi segala kegenitan dan kerakusan yang umumnya diidap manusia kebanyakan. Alhasil, manusia ”Sukrasana” tak perlu merendahkan diri menjadi pembobol APBN atau ”bertiwikrama” menjadi koruptor.

Sinergi elemen bangsa

Kita yakin bangsa ini memiliki manusia-manusia ”Sukrasana” meskipun jumlahnya sangat kecil. Mereka bisa berada di gerbong-gerbong kekuasaan (eksekutif, legislatif, yudikatif) atau di lembaga-lembaga pendidikan, budaya, sosial, dan politik.

Dalam jagat kekuasaan yang dihegemoni oleh para raksasa dan rakseksi, manusia-manusia ”Sukrasana” cenderung tidak diberi atau mendapat tempat. Mereka malah justru dianggap sebagai gangguan, bahkan tak jarang dianggap ancaman. Kejujuran selalu jadi energi anomalis bagi struktur kejahatan.

Langkah terbesar dan strategis seluruh elemen bangsa ini adalah menghadirkan manusia-manusia ”Sukrasana” dalam kontestasi politik pada Pemilu 2014. Partai- partai politik, lembaga-lembaga sosial, budaya, agama, pendidikan, pers, dan seluruh pemangku kepentingan lain bangsa ini bisa membangun sinergisitas untuk memunculkan manusia-manusia berkaliber ”Sukrasana” menjadi pilihan rakyat.

Ini momentum penting untuk mengubah Indonesia yang punya masa depan konstitusional. Tentu saja bukan kedaulatan berlanggam kapital dan pasar yang dikendalikan kekuatan asing dan para makelar kekuasaan!

Posted in Cerita Wayang | Tagged | Leave a comment

Wayang Lemah

Wayang Lemah

Kesenian Wayang Lemah sering ditemukan pada berbagai upacara keagamaan umat Hindu di Bali. Berbeda dengan wayang pada umumnya, wayang lemah memiliki ciri khas berupa waktu pementasan yang biasanya dilakukan di kala siang sehingga di sebut lemah yang dalam bahasa Bali berarti siang. Walau demikian waktu pementasannya menyesuaikan dengan puncak upacara keagamaan yang dilaksanakan sehingga pementasan bisa dilakukan pagi, siang, maupun sore. 

Tidak diperlukan panggung khusus untuk pementasan wayang lemah, cukup mempergunakan satu batang pohon pisang yang masing-masing ujungnya ditancapkan batang kayu dadap. Kedua kayu tersebut dihubungkan dengan benang putih yang disebut benang tukelan. Tidak ada layar/ kelir dan lampu blencong seperti pada pementasan wayang pada umumnya.

Wayang dipentaskan oleh seorang dalang dengan diriingi gamelan gender satu pasang. Cerita yang dilakonkan biasanya mengambil dari epos Mahabrata atau cerita lain sesuai dengan jenis upacara yang dilaksanakan. Sebagai kesenian pelengkap upacara keagamaan berbagai sesaji dan ritual harus dilakukan sang dalang beserta penabuh gamelan sebelum melakukan pementasan.

Kelompok pementasan wayang lemah biasanya terdiri dari 3 hingga 5 orang. Mereka melakukan pementasan berdasarkan permintaan masyarakat untuk kegiatan yang berkaitan dengan upacara keagamaan. Keseniaan ini termasuk kesenian wali bersama-sama dengan beberapa jenis seni lainnya seperti topeng sidakarya, rejang, dan lain-lain.

Awal mula wayang yaitu sebagai media untuk menyampaikan pesan atau amanat leluhur melalui cerita-cerita. Namun apakah pesan atau amanat tersebut sampai pada generasi saat ini? Bagi sebagian orang yang memang tertarik, wayang merupakan warisan seni dan budaya adiluhung namun tidak jarang banyak yang justru tidak mengerti dan memperhatikannya. Kali ini saya mencoba merekam sedikit kulit terluar dari pementasaan wayang lemah untuk membuka pintu bagi saya atau anda untuk mengenalnya lebih dekat.

http://andisucirta.com

Posted in Jenis Wayang | Tagged | Leave a comment

Wayang Betel

Wayang Betel

Wayang Betel adalah sebuah garapan pewayangan yang ter inspirasi dari Wayang Lemah/Wayang Gedog, garapan ini tecipta karena penggarap melihat kehidupan wayang lemah pada masyarakat Bali hanya dikaitkan dengan upacara keagamaan. Penanggap pertunjukkan ini kurang memperhatikan baik tempat pentas maupun sarana-sarana pendukung lainnya. Hal ini membuat para dalang malas untuk menggarap bagian artistiknya, hiburan dan konteksnya. Wayang Lemah yang berfungsi ritual menjadi kemasan baru berbentuk hiburan seni yang segar, sehat dan bermutu.

Dalam masalah ini akan dicoba menyiasati agar seniman Dalang dan musisinya tidak hanya duduk sebagaimana pagelaran wayang lemah biasa, melainkan juga berinteraksi aktif membangun suasana dramatik. Jelasnya, dalang yang biasanya hanya duduk memainkan wayang kini ditampilkan dengan berakting di atas panggung didukung oleh penataan lampu dan musik pengiring inovatif berintikan Gender Rambat.

Beberapa wayang kiranya perlu dibuat dengan ukuran yang lebih besar sehingga suasana wayang lemah yang semula hanya ritus akan dikembangkan menjadi suatu bentuk hiburan/entertainmen yang mengintegrasikan kritik dan komentar sosial sesuai dengan perkebangan Zaman Kaliyuga dewasa ini. Sesuai dengan namanya, Betel berarti tembus pandang. Garapan wayang Betel ini berbentuk Wayang Lemah sehingga dapat dilihat tembus betel oleh penonton tanpa terhalang kelir/screen putih. Musik iringan yang berintikan instrumen Gender Rambat juga akan diintegrasikan sedemikian rupa sehingga garapan wayang ini juga menyajikan komponen musikal teater atau teater musik. Dalam garapan “Wayang Betel” ini penggarap akan menggunakan konsep menimalis dengan tidak mengerungangi keunggulan – keunggulan yang telah ada. Karena berkesenian itu tidak harus selalu mewah, seni pun bisa muncul dari sesuatu yang sederhana.Garapan ini merupakan bagian dari epos Mahabharata yakni kehidupan Pandawa di hutan setelah lepas dari bencana kebakaran Gua gala-gala sampai gugurnya Detya Adimba.

Sumber wayang.wordpress.com

Posted in Jenis Wayang | Tagged | Leave a comment