Begawan Wisrawa

SINOPSIS CERITA Begawan Wisrawa adalah seorang penuntut ilmu kesuksmaan yang merosot derajat kesiswaannya karena terkena tiga macam godaan (goda kasar, halus dan gawat) serta melanggar Paliwara.

Goda halus (rasa aku, adigang, adigung, adiguna) merasuk ke dalam jiwanya, pada saat dia dapat mengalahkan Jambumangli dalam… mengikuti sayembara untuk mendapatkan Dewi Sukesi, putri Raja Negeri Alengka, Prabu Sumali Raja.

Setelah mampu mewedarkan rahasia Ilmu Sastra Jendra Hayuningrat kepada Dewi Sukesi, Begawan Wisrawa terkena godaan gawat dengan masuknya Roh Bathara Kala dalam tubuhnya, dan Dewi Sukesi pun terkena godaan gawat dengan masuknya Roh Bathari Durga kedalam dirinya dan sekaligus terpeleset godaan kasar dan melanggar Paliwara bab syahwat.

Akibatnya lahirlah putra pertamanya berwujud raksasa yang bertabiat angkara murka bernama Rahwana. Begawan Wisrawa menyadari kesalahannya, apalagi dia mengikuti sayembara itu hanya untuk mendapatkan Dewi Sukesi yang akan dijadikan permaisuri anaknya yaitu Prabu Danapati, Raja Negeri Lokapala demikian juga dengan Dewi Sukesi yang telah menyadari kekeliruannya dengan tidak dapat mengendalikan nafsu asmaranya.

Begawan Wisrawa dan Dewi Sukesi mensucikan diri meskipun belum sepenuhnya, kemudian lahirlah anak yang kedua meski wujudnya raksasa tetapi sudah berwatak ksatria bernama Kumbakarna.

Sayang kedua insan tersebut (Begawan Wisrawa dan Dewi Sukesi) bergejolak lagi nafsu-nafsunya sehingga lahirlah anaknya yang ketiga seorang raseksi yang buruk rupanya dan sangat jelek wataknya bernama Sarpakenaka.

Menghadapi kenyataan itu barulah Begawan Wisrawa dan Dewi Sukesi benar-benar bertobat, mohon ampun atas segala dosa-dosanya serta membangun watak utama Panca Sila (Rela, Narima, Jujur, Sabar, Budi Luhur), selalu Sadar, Percaya, Taat kepada Tuhan Yang Maha Esa, senantiasa menjauhi larangan Tuhan dan berjalan di Jalan Rahayu ialah Jalan Benar, Jalan Utama yang berakhir dalam kesejahteraan, ketentraman dan kemuliaan abadi ialah dihadirat Tuhan Sejati di Taman Kemuliaan Abadi. Keduanya menyadari sepenuhnya akan pelaksanaan tugas suci, sebagai suami istri yaitu pria menjadi perantara Tuhan menurunkan Roh Suci dan wanita menjadi perantara Tuhan menerima dan menggarba Roh Suci yang menjadi keturunannya.

Tugas suci ini haruslah dilaksanakan dengan penuh kesucian dan kesusilaan dengan dasar kasih sayang sejati. Agar tumbuh berkembang rasa kasih sayang sejati, setiap hari haruslah dipupuk dan disirami dengan a) mong-kinemong (saling menjaga), b) ajen-ingajenan (saling menghormati), c) apura – ingapura (saling memaafkan), d) tansah anuju prana murih agawe suka pirena (senantiasa dapat berkenan dihati agar dapat membuat rasa bahagia). Dewi Sukesi menyadari sepenuhnya bahwa para wanita / Ibu dapat menjadi mustikanya wanita, menjadi pendidik pertama dan utama.

Kedatangan Dewi Arumdati memberi nasihat kepada Begawan Wisrawa dan Dewi Sukesi serta Prabu Danapati tentang Ilmu Kasuksmaan. Begawan Wisrawa dan Dewi Sukesi dianugerahi seorang putra yang elok rupawan, berbudi suci, berderajat luhur dan mulia, berwatak utama, mursid, senantiasa berbakti kepada Tuhan Yang Maha Esa, yakni Gunawan Wibisana, seorang purusatama, yang penuh kasih sayang kepada sesama hidup dan menghormati semua agama

Posted in Ramayana | Tagged | Leave a comment

Wahyu Makuta Rama

Prabu Suyudana mengutus Adipati Karna, Patih Sengkuni dan para Kurawa pergi ke Gunung Kutarunggu atau Pertapaan Swelagiri, karena dewa memberikan penjelasan bahwa barang siapa memiliki makuta Sri Batararama akan menjadi sakti, serta akan menurunkan raja-raja di Tanah Jawa.

makutarama

Dalam perjalanannya Adipati Karna pergi ke Pertapaan Duryapura Dimana Anoman, saudaranya Kesaswasidi bertempat di situ yang ditemani raksasa Gajah. Wreksa, Garuda Mahambira, Naga Kuwara dan Liman Situbanda. Karma mengutarakan maksudnya tetapi di tolak Anoman sehingga terjadi peperangan. Karena terdesak Karna melepaskan panah Wijayadanu tetapi dapat ditangkap Anoman dan dibawa ke Swelagiri.

Pihak Pandawa sang Arjuna juga mencari Makutarama, ia dating di Gunung Swelagiri bertemu dengan Kesaswidi menerangkan maksudnya dan oleh sang Begawan dijelaskan bahwa Makutarama itu sebenarnya bukan barang kebendaan, tetapi merupakan pengetahuan budi pekerti bagi raja yang sempurna atau ajaran yang disebut Astabrata. Lebih jauh Begawan Kesaswidi menjelaskan bahwa kelak cucunya yang bernama Parikesit akan berkuasa sebagai raja besar di Jawa dan ia akan menjelma kepadanya. Sedangkan Anoman diperintah untuk meneruskan bertapa di Kendalisada dan kelak pada pemerintahan Prabu Jaya Purusa dari kediri ia akan naik surga.

Arjuna kembali dengan membawa panah Wijayadanu untuk diserahkan Adipati Karna.

Dewi Subadra yang sangat khawatir kepergian suaminya lalu mengembara mencari Arjuna, dan diperjalanan bertemu Batara Narada yang memberikan busana pria, maka Dewi Subadra berubah ujud pria bernama Bambang Sintawaka kemudian ia pergi ke pesanggrahan Kurawa dan sanggup membantu melawan Ajuna.

Bima dan Gatotkaca juga mencari Ajuna di perjalanan mereka dihadang Kumbakarna. Menurut nasihat Wibisana Kumbakarna harus menjelma pada Bima maka terjadi perkelahian yang seharusnya Kumbakarna merasuk pada paha kiri Bima.

Kurawa yang dibantu Sintawaka menentang Arjuna dan peperangan terjadi. Arjuna dapat mengenali musuhnya itu adalah istrinya dan akhirnya kembali ke ujud semula, Dewi Subadra. Para Kurawa menyerang tetapi dapat dihalau Gatotkaca.

Lakon ini termasuk lakon pakem yang sangat popular dan sering dipentaskan.

Posted in Mahabharata | Leave a comment

Wahyu Cakraningrat

wahyu-cakraningrat
Siapa yang tidak tergiur mendapatkan wahyu atau berkat khusus untuk bisa menjadi raja bagi seluruh umat manusia di bumi? Banyak orang mungkin akan berlomba-lomba mencari dan merebut berkat itu. Tetapi, sayangnya berkat atau wahyu tidak bisa diperoleh sembarangan. Hanya orang tertentu yang mampu mendapatkan wahyu itu. Biasanya, Tuhan memberi wahyu pada orang yang memiliki hati bersih dan berbudi luhur. Cobaan, godaan, dan tantangan hidup harus bisa dilalui oleh setiap orang yang ingin mendapatkan wahyu. Jadi, tidak mudah untuk mendapatkannya.

Perebutan mendapatkan wahyu disajikan dalam pementasan wayang orang berjudul Wahyu Cakraningrat di Gedung Kesenian Jakarta, pada Kamis (24/2) malam. Cerita ini mengisahkan upaya tiga pemuda yang berambisi menjadi raja atau pemimpin negara. Tetapi untuk bisa menjadi raja, tiga pemuda tersebut harus mendapatkan wahyu keraton atau wahyu kerajaan.

Dalam cerita perwayangan ini, wahyu keraton atau wahyu kerajaan ada di negeri khayangan. Wahyu berwujud seorang pria bernama Batara Cakraningrat. Sang wahyu akan turun ke bumi mencari sosok pemuda atau “Kurungan Kencana” yang pantas dijadikan raja untuk negeri di masa datang.

Berbekal tekad bulat, Batara Cakraningrat ditemani Dewi Maninten turun ke bumi. Kedatangan mereka sudah ditunggu-tunggu oleh tiga pemuda yang berambisi menyandang gelar raja. Tiga pemuda itu, yakni Raden Lesmana Mandrakumara putra Prabu Duryudana dan Ratu Banowati, Raden Samba putra dari raja Dwarawati dan Sri Kresna, serta Raden Abimanyu putera Arjuna.

Karakter ketiga pemuda tersebut disajikan berbeda oleh sutradara D Supono. Seperti Raden Lesmana, yang memiliki karakter manja dan mudah tergoda dengan hal-hal duniawi. Ketika Lesmana bertapa di hutan Ganggowirayang, wahyu Cakraningrat masuk ke dalam dirinya. Sayangnya, Lesmana tidak bisa mengontrol diri ketika digoda putri cantik Pamilutsih yang merupakan jelmaan Dewi Maninten. Alhasil wahyu itu pergi meninggalkannya.

Tidak jauh berbeda dengan karakter Lesmana, Raden Samba juga tidak memiliki pengendalian diri yang kuat. Samba dikenal sebagai putera raja yang arogan. Seperti halnya Lesmana, Samba pun bertapa di hutan untuk mendapatkan wahyu. Ketika sang wahyu datang menghampirinya, Samba lengah mengontrol hawa nafsunya. Lagi-lagi kehadiran puteri Pamilutsih menggoda Samba, sampai akhirnya sang wahyu pergi.

Sampai di sini cerita sudah bisa ditebak. Dari tiga pemuda itu, hanya satu yang berhasil mendapatkan wahyu, yakni Raden Abimanyu. Ia berhasil mengontrol diri, bahkan tidak tergoda dengan godaan wanita cantik. Bahkan Abimanyu beberapa kali menolak tawaran Dewi Maninten untuk menikahinya. Ia konsisten mempertahankan wahyu yang ada dalam dirinya. Oleh karena itu, ia terpilih dan dinobatkan menjadi raja bagi alam semesta.

Posted in Cerita Wayang | Leave a comment

Serat Sastrajendrahayuningrat Pangruwa Ting Diyu

Dalam lakon wayang Purwa, kisah Ramayana bagian awal diceritakan asal muasal keberadaan Dasamuka atau Rahwana tokoh raksasa yang dikenal angkara murka, berwatak candala dan gemar menumpahkan darah. Dasamuka lahir dari ayah seorang Begawan sepuh sakti linuwih gentur tapanya serta luas pengetahuannya yang bernama Wisrawa dan ibu Dewi Sukesi yang berparas jelita tiada bandingannya dan cerdas haus ilmu kesejatian hidup. Bagaimana mungkin dua manusia sempurna melahirkan raksasa buruk rupa dan angkara murka ? Bagaimana mungkin kelahiran “ sang angkara murka “ justru berangkat dari niat tulus mempelajari ilmu kebajikan yang disebut Serat Sastrajendra.

Ilmu untuk Meraih Sifat Luhur Manusia

Salah satu ilmu rahasia para dewata mengenai kehidupan di dunia adalah Serat Sastrajendra. Secara lengkap disebut Serat Sastrajendrahayuningrat Pangruwatingdiyu. Serat = ajaran, Sastrajendra = Ilmu mengenai raja. Hayuningrat = Kedamaian. Pangruwating = Memuliakan atau merubah menjadi baik. Diyu = raksasa atau keburukan. Raja disini bukan harfiah raja melainkan sifat yang harus dimiliki seorang manusia mampu menguasai hawa nafsu dan pancainderanya dari kejahatan. Seorang raja harus mampu menolak atau merubah keburukan menjadi kebaikan. Pengertiannya bahwa Serat Sastrajendra adalah ajaran kebijaksanaan dan kebajikan yang harus dimiliki manusia untuk merubah keburukan mencapai kemuliaan dunia akhirat. Ilmu Sastrajendra adalah ilmu makrifat yang menekankan sifat amar ma’ruf nahi munkar, sifat memimpin dengan amanah dan mau berkorban demi kepentingan rakyat.

Gambaran ilmu ini adalah mampu merubah raksasa menjadi manusia. Dalam pewayangan, raksasa digambarkan sebagai mahluk yang tidak sesempurna manusia. Misal kisah prabu Salya yang malu karena memiliki ayah mertua seorang raksasa. Raden Sumantri atau dikenal dengan nama Patih Suwanda memiliki adik raksasa bajang bernama Sukrasana. Dewi Arimbi, istri Werkudara harus dirias sedemikian rupa oleh Dewi Kunti agar Werkudara mau menerima menjadi isterinya. Betari Uma disumpah menjadi raksesi oleh Betara Guru saat menolak melakukan perbuatan kurang sopan dengan Dewi Uma pada waktu yang tidak tepat. Anak hasil hubungan Betari Uma dengan Betara Guru lahir sebagai raksasa sakti mandra guna dengan nama “ Betara Kala “ (kala berarti keburukan atau kejahatan). Sedangkan Betari Uma kemudian bergelar Betari Durga menjadi pengayom kejahatan dan kenistaan di muka bumi memiliki tempat tersendiri yang disebut “ Kayangan Setragandamayit “. Wujud Betari Durga adalah raseksi yang memiliki taring dan gemar membantu terwujudnya kejahatan.

Melalui ilmu Sastrajendra maka simbol sifat sifat keburukan raksasa yang masih dimiliki manusia akan menjadi dirubah menjadi sifat sifat manusia yang berbudi luhur. Karena melalui sifat manusia ini kesempurnaan akal budi dan daya keruhanian mahluk ciptaan Tuhan diwujudkan. Dalam kitab suci disebutkan bahwa manusia adalah ciptaan paling sempurna. Bahkan ada disebutkan, Tuhan menciptakan manusia berdasar gambaran dzat-Nya. Filosof Timur Tengah Al Ghazali menyebutkan bahwa manusia seperti Tuhan kecil sehingga Tuhan sendiri memerintahkan para malaikat untuk bersujud. Sekalipun manusia terbuat dari dzat hara berbeda dengan jin atau malaikat yang diciptakan dari unsur api dan cahaya. Namun manusia memiliki sifat sifat yang mampu menjadi “ khalifah “ (wakil Tuhan di dunia).

Namun ilmu ini oleh para dewata hanya dipercayakan kepada Wisrawa seorang satria berwatak wiku yang tergolong kaum cerdik pandai dan sakti mandraguna untuk mendapat anugerah rahasia Serat Sastrajendrahayuningrat Diyu.

Ketekunan, ketulusan dan kesabaran Begawan Wisrawa menarik perhatian dewata sehingga memberikan amanah untuk menyebarkan manfaat ajaran tersebut. Sifat ketekunan Wisrawa, keihlasan, kemampuan membaca makna di balik sesuatu yang lahir dan kegemaran berbagi ilmu. Sebelum “ madeg pandita “ ( menjadi wiku ) Wisrawa telah lengser keprabon menyerahkan tahta kerajaaan kepada sang putra Prabu Danaraja. Sejak itu sang wiku gemar bertapa mengurai kebijaksanaan dan memperbanyak ibadah menahan nafsu duniawi untuk memperoleh kelezatan ukhrawi nantinya. Kebiasaan ini membuat sang wiku tidak saja dicintai sesama namun juga para dewata.

Sifat Manusia Terpilih

Sebelum memutuskan siapa manusia yang berhak menerima anugerah Sastra Jendra, para dewata bertanya pada sang Betara Guru. “ Duh, sang Betara agung, siapa yang akan menerima Sastra Jendra, kalau boleh kami mengetahuinya. “

Bethara guru menjawab “ Pilihanku adalah anak kita Wisrawa “. Serentak para dewata bertanya “ Apakah paduka tidak mengetahui akan terjadi bencana bila diserahkan pada manusia yang tidak mampu mengendalikannya. Bukankah sudah banyak kejadian yang bisa menjadi pelajaran bagi kita semua”

Kemudian sebagian dewata berkata “ Kenapa tidak diturunkan kepada kita saja yang lebih mulia dibanding manusia “.

Seolah menegur para dewata sang Betara Guru menjawab “Hee para dewata, akupun mengetahui hal itu, namun sudah menjadi takdir Tuhan Yang Maha Kuasa bahwa ilmu rahasia hidup justru diserahkan pada manusia. Bukankah tertulis dalam kitab suci, bahwa malaikat mempertanyakan pada Tuhan mengapa manusia yang dijadikan khalifah padahal mereka ini suka menumpahkan darah“. Serentak para dewata menunduk malu “ Paduka lebih mengetahui apa yang tidak kami ketahui”

Kemudian, Betara Guru turun ke mayapada didampingi Betara Narada memberikan Serat Sastra Jendra kepada Begawan Wisrawa.

“ Duh anak Begawan Wisrawa, ketahuilah bahwa para dewata memutuskan memberi amanah Serat Sastra Jendra kepadamu untuk diajarkan kepada umat manusia”

Mendengar hal itu, menangislah Sang Begawan “ Ampun, sang Betara agung, bagaimana mungkin saya yang hina dan lemah ini mampu menerima anugerah ini “.

Betara Narada mengatakan “ Anak Begawan Wisrawa, sifat ilmu ada 2 (dua). Pertama, harus diamalkan dengan niat tulus. Kedua, ilmu memiliki sifat menjaga dan menjunjung martabat manusia. Ketiga, jangan melihat baik buruk penampilan semata karena terkadang yang baik nampak buruk dan yang buruk kelihatan sebagai sesuatu yang baik. “ Selesai menurunkan ilmu tersebut, kedua dewata kembali ke kayangan.

Setelah menerima anugerah Sastrajendra maka sejak saat itu berbondong bondong seluruh satria, pendeta, cerdik pandai mendatangi beliau untuk minta diberi wejangan ajaran tersebut. Mereka berebut mendatangi pertapaan Begawan Wisrawa melamar menjadi cantrik untuk mendapat sedikit ilmu Sastra Jendra. Tidak sedikit yang pulang dengan kecewa karena tidak mampu memperoleh ajaran yang tidak sembarang orang mampu menerimanya. Para wiku, sarjana, satria harus menerima kenyataan bahwa hanya orang orang yang siap dan terpilih mampu menerima ajarannya.

Nun jauh, negeri Ngalengka yang separuh rakyatnya terdiri manusia dan separuh lainnya berwujud raksasa. Negeri ini dipimpin Prabu Sumali yang berwujud raksasa dibantu iparnya seorang raksasa yang bernama Jambumangli. Sang Prabu yang beranjak sepuh, bermuram durja karena belum mendapatkan calon pendamping bagi anaknya, Dewi Sukesi. Sang Dewi hanya mau menikah dengan orang yang mampu menguraikan teka teki kehidupan yang diajukan kepada siapa saja yang mau melamarnya. Sebelumnya harus mampu mengalahkan pamannya yaitu Jambumangli. Beribu ribu raja, wiku dan satria menuju Ngalengka untuk mengadu nasib melamar sang jelita namun mereka pulang tanpa hasil. Tidak satupun mampu menjawab pertanyaan sang dewi. Berita inipun sampailah ke negeri Lokapala, sang Prabu Danaraja sedang masgul hatinya karena hingga kini belum menemukan pendamping hati. Hingga akhirnya sang Ayahanda, Begawan Wisrawa berkenan menjadi jago untuk memenuhi tantangan puteri Ngalengka.

Pertemuan Dua Anak Manusia

Berangkatlah Begawan Wisrawa ke Ngalengka, hingga kemudian bertemu dengan dewi Suksesi. Senapati Jambumangli bukan lawan sebanding Begawan Wisrawa, dalam beberapa waktu raksasa yang menjadi jago Ngalengka dapat dikalahkan. Tapi hal ini tidak berarti kemenanmgan berada di tangan. Kemudian tibalah sang Begawan harus menjawab pertanyaan sang Dewi. Dengan mudah sang Begawan menjawab pertanyaan demi pertanyaan hingga akhirnya, sampailah sang dewi menanyakan rahasia Serat Sastrajendra. Sang Begawan pada mulanya tidak bersedia karena ilmu ini harus dengan laku tanpa “ perbuatan “ sia sialah pemahaman yang ada. Namun sang Dewi tetap bersikeras untuk mempelajari ilmu tersebut, toh nantinya akan menjadi menantunya.

Luluh hati sang Begawan, beliau mensyaratkan bahwa ilmu ini harus dijiwai dengan niat luhur. Keduanya kemudian menjadi guru dan murid, antara yangf mengajar dan yang diajar. Hari demi hari berlalu keduanya saling berinteraksi memahamkan hakikat ilmu. Sementara di kayangan, para dewata melihat peristiwa di mayapada. “ Hee, para dewata, bukankah Wisrawa sudah pernah diberitahu untuk tidak mengajarkan ilmu tersebut pada sembarang orang “.

Para dewata melaporkan hal tersebut kepada sang Betara Guru. “ Bila apa yang dilakukan Wisrawa, bisa nanti kayangan akan terbalik, manusia akan menguasai kita, karena telah sempurna ilmunya, sedangkan kita belum sempat dan mampu mempelajarinya “.

Sang Betara Guru merenungkan kebenaran peringatan para dewata tersebut. “ tidak cukup untuk mempelajari ilmu tanpa laku, Serat Sastrajendra dipagari sifat sifat kemanusiaan, kalau mampu mengatasi sifat sifat kemanusiaan baru dapat mencapai derajat para dewa. “ Tidak lama sang Betara menitahkan untuk memanggil Dewi Uma.untuk bersama menguji ketangguhan sang Begawan dan muridnya.

Hingga sesuatu ketika, sang Dewi merasakan bahwa pria yang dihadapannya adalah calon pendamping yang ditunggu tunggu. Biar beda usia namun cinta telah merasuk dalam jiwa sang Dewi hingga kemudian terjadi peristiwa yang biasa terjadi layaknya pertemuan pria dengan wanita. Keduanya bersatu dalam lautan asmara dimabukkan rasa sejiwa melupakan hakikat ilmu, guru, murid dan adab susila. Hamillah sang Dewi dari hasil perbuatan asmara dengan sang Begawan. Mengetahui Dewi Sukesi hamil, murkalah sang Prabu Sumali namun tiada daya. Takdir telah terjadi, tidak dapat dirubah maka jadilah sang Prabu menerima menantu yang tidak jauh berbeda usianya.

Tergelincir Dalam Kesesatan

Musibah pertama, terjadi ketika sang senapati Jambumangli yang malu akan kejadian tersebut mengamuk menantang sang Begawan. Raksasa jambumangli tidak rela tahta Ngalengka harus diteruskan oleh keturunan sang Begawan dengan cara yang nista. Bukan raksasa dimuliakan atau diruwat menjadi manusia. Namun Senapati Jambumangli bukan tandingan, akhirnya tewas ditangan Wisrawa. Sebelum meninggal, sang senapati sempat berujar bahwa besok anaknya akan ada yang mengalami nasib sepertinya ditewaskan seorang kesatria.

Musibah kedua, Prabu Danaraja menggelar pasukan ke Ngalengka untuk menghukum perbuatan nista ayahnya. Perang besar terjadi, empat puluh hari empat puluh malam berlangsung sebelum keduanya berhadapan. Keduanya berurai air mata, harus bertarung menegakkan harga diri masing masing. Namun kemudian Betara Narada turun melerai dan menasehati sang Danaraja. Kelak Danaraja yang tidak dapat menahan diri, harus menerima akibatnya ketika Dasamuka saudara tirinya menyerang Lokapala.

Musibah ketiga, sang Dewi Sukesi melahirkan darah segunung keluar dari rahimnya kemudian dinamakan Rahwana (darah segunung). Menyertai kelahiran pertama maka keluarlah wujud kuku yang menjadi raksasi yang dikenal dengan nama Sarpakenaka. Sarpakenaka adalah lambang wanita yang tidak puas dan berjiwa angkara, mampu berubah wujud menjadi wanita rupawan tapi sebenarnya raksesi yang bertaring. Kedua pasangan ini terus bermuram durja menghadapi musibah yang tiada henti, sehingga setiap hari keduanya melakukan tapa brata dengan menebus kesalahan. Kemudian sang Dewi hamil kembali melahirkan raksasa kembali. Sekalipun masih berwujud raksasa namun berbudi luhur yaitu Kumbakarna.

Akhir Yang Tercerahkan

Musibah demi musibah terus berlalu, keduanya tidak putus putus memanjatkan puaj dan puji ke hadlirat Tuhan yang Maha Kuasa. Kesabaran dan ketulusan telah menjiwa dalam hati kedua insan ini. Serat Sastrajendra sedikit demi sedikit mulai terkuak dalam hati hati yang telah disinari kebenaran ilahi. Hingga kemudian sang Dewi melahirkan terkahir kalinya bayi berwujud manusia yang kemudian diberi nama Gunawan Wibisana. Satria inilah yang akhirnya mampu menegakkan kebenaran di bumi Ngalengka sekalipun harus disingkirkan oleh saudaranya sendiri, dicela sebagai penghianat negeri, tetapi sesungguhnya sang Gunawan Wibisana yang sesungguhnya yang menyelamatkan negeri Ngalengka. Gunawan Wibisana menjadi simbol kebenaran mutiara yang tersimpan dalam Lumpur namun tetap bersinar kemuliaannya. Tanda kebenaran yang tidak larut dalam lautan keangkaramurkaan serta mampu mengalahkan keragu raguan seprti terjadi pada Kumbakarna. Dalam cerita pewayangan, Kumbakarna dianggap tidak bisa langsung masuk suargaloka karena dianggap ragu ragu membela kebenaran.

Melalui Gunawan Wibisana, bumi Ngalengka tersinari cahaya ilahi yang dibawa Ramawijaya dengan balatentara jelatanya yaitu pasukan wanara (kera). Peperangan dalam Ramayana bukan perebutan wanita berwujud cinta namun pertempuran demi pertempuran menegakkan kesetiaan pada kebenaran yang sejati.

Posted in Wayang | Tagged , , | Leave a comment

Abimanyu dikutuk menjadi arca

Abimanyu Gendong

Arjuna yang pergi dari Kasatrian Madukara. Hal ini menyebabkan para Pandawa sedih, sebab Dewi Subadra masih menyusui Abimanyu yang saat itu masih bayi. Tiba-tiba Prabu Baladewa sebagai utusan Duryudana datang ingin memboyong Abimanyu beserta Dewi Subadra ke Kerajaan Astina. Namun Abimanyu yang masih kecil itu selalu menangis dan minta bunga Tunjungseta. Permintaan bayi itu akan diusahakan oleh Drona.

Dewi Subadra dan Abimanyu dibawa Baladewa ke Astina tetapi Dewi Srikandi ingin ikut. Baladewa melarang sehingga terjadi pertengkaran. Setelah mereka sampai di tengah hutan, Patih Pragota diperintah Baladewa untuk membawa Abimanyu ke tengah hutan bersama keris Baladewa. Pragota tanggap bahwa Abimanyu supaya dibunuh, tetapi karena tidak sampai hati, Abimanyu ditinggal sendirian di tengah hutan. Di hutan itu Abimanyu dilindungi oleh seekor gajah, burung, dan ular.

Pada waktu Abimanyu sendirian di tengah hutan ia buang hajad kebetulan mengenai Jaka Prayitna yang bertapa dan Abimanyu dibunuhnya. Peristiwa itu membuat marah sang Gajah yang mengawal Abimanyu. Jaka Prayitna dikejar gajah, burung, dan ular, sampai bertemu dengan Arjuna maka terjadi peperangan.

Gajah kembali ujudnya yaitu Bima, burung garuda menjadi Gatotkaca dan ular menjadi Antareja, sedangkan Abimanyu dihidupkan Arjuna, dan diminta pergi ke Astina bersama Jaka Prayitna untuk menemui Baladewa. Terjadilah peperangan antara Kurawa dengan Jaka Prayitna dan akhirnya Dewi Subadra dikembalikan kepada Arjuna.

Abimanyu dikutuk menjadi arca

Abimanyu berada di Tegalkuru dan membuat pesanggarahan. Ulah Abimanyu itu membuat marah Duryudana, penguasa Astina dan atas bantuan Begawan Pramana Sejati, Abimanyu dikutuk menjadi arca.

Sementara di Kasatrian Madukara Dewi Dewi Subadra meminta kepada Arjuna untuk mencari Abimanyu. Pada saat yang sama, Wisanggeni dari Kahyangan Argadahana dan Prabangkara dari Kaindran ingin mencari ayahnya. Di tengah jalan mereka bertemu Gatotkaca yang meminta bantuannya untuk menolong Abimanyu yang menjadi arca. Wisanggeni memoleskan minyak Candusekti pada arca itu dan Abimanyu hidup kembali. Selanjutnya mereka menuju ke Keraton Astina dan bertemu dengan Arjuna.

Arjuna kemudian berperang tanding melawan Begawan Pramanasejati tetapi tidak dapat me-ngalahkan. Akhirnya Kresna minta bantuan Semar untuk melawan Pramanasejati dan kembali berujud semula yaitu Batari Durga dan pulang ke Setra Gandamayit.

Terkadang disebut Angkawijaya Gugur, yang tergolong lakon pakem, adalah bagian dari serial lakon-lakon Baratayuda. Dalam lakon itu diceritakan tentang kegundahan Abimanyu karena ia tidak diijinkan turun ke gelanggang Baratayuda. Baru pada hari ke tigabelas, Abimanyu diperkenankan ikut berperang.

Pada hari itu, Arjuna dan Bima terpancing mengejar lawan-lawannya sampai keluar gelanggang. Dengan demikian di tengah gelanggang, Abimanyu menjadi pusat sasaran musuh. Abimanyu akhirnya tewas dengan tubuh penuh luka. Namun gugurnya Abimanya berhasil membunuh Lesmana Mandrakumara, alias Sarojakusuma, putra mahkota Astina. Putra Mahkota Astina itu mati ketika hendak mencoba menjadi pahlawan dengan membunuh Abimanyu yang telah terkepung. Abimanyu akhirnya gugur setelah dikeroyok para Kurawa, dan kepalanya dihantam gada Kyai Glinggang milik Jayadrata.

Sebelumnya, dari pihak Pandawa, telah gugur tiga orang ksatria putra Arjuna lainnya, yakni Brantalaras, Bambang Sumitra, dan Wilugangga. Ketiganya gugur terkena panah Begawan Drona. Inilah yang terutama membuat Abimanyu mengamuk, kehilangan kewaspadaan, dan akhirnya terjebak dalam perangkap siasat perang Kurawa.

Dalam pewayangan diceritakan, gugurnya Abimanyu juga disebabkan termakan oleh sumpahnya sendiri.Dulu, sebelum menikah dengan Dewi Utari, untuk meyakinkan bahwa ia masih perjaka, Abimanyu berkata: “Aku masih perjaka. Jika aku berkata tidak benar, kelak aku akan mati dengan tubuh penuh anak panah.”

Posted in Mahabharata | Tagged , | Leave a comment

Abiyasa Lahir – Palasara Rabi

Cerita ini mengisahkan tentang Palasara yang menjadi pertapa besar dan sedang diuji oleh Hyang Guru melalui bidadari tetapi tidak berhasil. Oleh Hyang Guru dicoba lagi dengan Narada merubah dirinya menjadi sepasang burung emprit dan bersarang di gelung Palasara, tetapi juga tidak dihiraukannya. Namun setelah ia mengetahui kedua burung itu tidak mengurus anaknya ia marah dan mengejar burung itu.

Sesampainya ditepi Sungai Gangga, Begawan Palasara bertemu dngan Dewi Durgandini dan dapat menebak teka-teki akhirnya menjadi istrinya dan Palasara membuat istana di Hutan Gajah Oya.

Perkawinannya melahirkan seorang anak diberi nama Kresnadwipayana (Abyasa). Selama tinggal di tepi Sungai Gangga, dari perahu Durgandini, lahir Kencakarupa dan Rupakenca, Dewi Rekatawati, dan Rajamala.
Dalam hal ini ia tidak jadi meneruskan memburu burung dan kembali ke Gajah Oya. Sementara itu ketiga putra angkat Palasara , yaitu Kencakarupa, Rupakenca dan Rajamala mengadakan pembrontakan di Wirata, tetapi dikalahkan oleh Durgandana.

Palasara kemudian meninggalkan Dewi Durgandini. Dewi Durgandini kemudian diperistri Oleh Sentanu.

Posted in Mahabharata | Tagged , | Leave a comment

Rajamala Tewas

Pangeran Wratsangka dan Utara menghadap ayahnya Prabu Matswapati dan memohon agar sang Raja mencari jago untuk menandingi Rajamala, yang menjadi jago dari Kencakarupa dan Rupakenca. Sang Raja memberikan nasehat agar menemui Lurah Wijakangka yang kemungkinan dapat mencarikan jago. Perjalanan mereka tidak sia-sia, ternyata lurah pasar itu mengatakan adiknya, Abilawa akan siap menjadi jago, maka bersama-sama mereka pergi ke tempat Jagal Walakas.

Namun yang dicari tidak ada dan mendengar bahwa adiknya berada di hutan, segera ia mencarinya dan menemukannya. Ia sedang tidur di bawah pohon beringin. Wijakangka membangunkannya dengan cara menarik rambut yang ada pada ibu jari kakinya. Abilawa terbangun, karena merasa terganggu tidurnya, ia marah dan mengangkat ke udara Wijakangka. Namun setelah dijelaskan ia tenang kembali dan sanggup menjadi jago melawan Rajamala.

Sementara Pamadi yang diikuti Semar, Gareng dan Petruk berada di hutan dan bertemu sepasang raksasa yang akan memangsanya, tetapi setelah Arjuna melepaskan panahnya kedua raksasa itu berubah ujud menjadi Dewa Brahma dan istrinya, Rarasati. Ia memerintahkan kepada Arjuna agar pergi ke alun-alun Wirata dan menghadiahkan senjata Bramasta untuk membunuh Rajamala. Namun, Pamadi harus menyamar sebagai wanita dengan nama Kandi Wrahatnala.

Di alun-alun Wirata perang tanding Rajamala melawan Abilawa dimulai. Jagal Abilawa berhasil melemparkan musuhnya sehingga tidak bergerak. Teman-temannya menolongnya dengan melemparkan Rajamala ke dalam kolam yang berisi air berkhasiat yang dapat menyembuhkan. Akibatnya, Rajamala segar bugar ke luar dari kolam dan menyerang Abilawa, begitu berulangkali dan Abilawa tidak dapat membunuhnya. Hal ini dilihat oleh Kandi Wrahatnala, maka ia memberikan senjata Bramasta kepada Semar agar dimasukkan ke dalam kolam dan seketika itu air kolam mendidih dan berbusa.

Pada waktu Rajamala jatuh dan dimasukkan ke dalam kolam ia tidak segar bugar tetapi tubuhnya hancur lebur dan mati. Kencakarupa dan Rupakenca melihat jagonya mati maka mengejar Abilawa dan dalam pengejarannya ia bertemu dengan Kandi Wrahatnala maka ia jatuh cinta dan ingin mengawininya.

Selanjutnya Kandi Wrahatala mengabdi kepada Dewi Utari dan sanggup menolong Kencakarupa. Pada suatu hari ia diutus Utari untuk membawa surat untuk Kencaka. Kesempatan ini digunakan Kencakarupa untuk merayunya tetapi Wrahatnala lari ke tempat lurah Pasar Wijakangka. Ia terus mengejarnya, tetapi Wrahatnala terus menghindar dan pergi ke tempat Abilawa di pejagalan.Kencaka datang di tempat Jagal Walakas dan meminta Wrahatnala, maka terjadi perang tanding antara kedua ksatria itu.

Dengan senjata kuku Pancanaka, Kencakarupa dan Rupakenca terbunuh oleh Abilawa dan jenazahnya dibakar.

Posted in Cerita Wayang | Tagged | Leave a comment