Pupuh II – Asmarandana : Serat Bathara Rama

12468755-ramayana-paintings-on-the-wall-wat-nangphaya-phit-sa-nu-lok-thailand

Kisah yang sangat berbeda dari “Ramayana” , tentang Anoman/Hanuman …….

-Tinjauan Serat Bathara Rama (Cirebon) – oleh Sumarsih

Derpartemen Pendidikan dan Kebudayaan , Direktorat Jendral Kebudayaan
Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara (Javanologi) 1985

Pupuh II. Asmarandana 39 bait
Laksmana lalu minta diri. Setalah sampai dihadapan Sri rama, Laksmana lalu menyampaikan semaua kata-kataresi Mahardidewa dan Candradewa.
Sri Rama mendengar kata-kata kedua resi itu sangat gembira lalu mencari hutan Trengganasari.
Sesampainya di hutan Trenggana sari Sri Rama merasa haus, karena di sekitar hutan Trenggana sari tidak ada air, maka disuruhnya Laksmana mencari air.

Sepeninggal Laksmana, Sita Dewi sepert mendengar suara orang mengeluh kesakitan. Sita Dewi menyangka itu suara Laksmana, maka ia mengajak Sri Rama mencari Laksmana.
Diceritakan Laksmana bertemu dengan raksasa bernama Raktani. Raktani lalu dibunuhnya dengan panah dan bangkainya berubah menjadi seekor burung Jambawati. Burung Jambawati menyerang Laksmana sambil menyambar-nyambar, lalu dipanah Laksmana hingga mati. Setelah Jambawati mati, Laksmana meneruskan perjalanan untuk mencari air.

Sampailah Laksmana di tempat telaga Tan Mala dan telaga Sumala. Laksmana ingat pesan resi Mahadiwa dan Candrasewa, dihampirinya telaga yang keruh airnya. Laksmana mengambil tiga ruas pohon bambu untuk membawa air . Setelah didapatkan lalu kembali menghadap Sri Rama.

Diceritakan Sri Rama dan Sita Dewi sangat kehausan, lalu mencaei telaga yang bening airnya, sampailah Sri Rama dan Sita Dewi di telaga Sumala. Karena hausnya, tanpa pikir lagi Sri Rama lalu terjun ke dalam telaga Sumala diikuti oleh Sita Dewi.
Pada saat itu Laksmana belum jauh meninggalkan telaga Tan Mala. Waktu mendengar suara benda terjun ke air. Laksmana lalu mendekati telaga Sumala.
Laksmana sangat terkejut bahwa yang terjun ke telaga Sumala itu tak lain Sri Rama dan Sita Dewi. Laksmana hendak melarangnya, tetapi Sri Rama dan Sita Dewi telah terlanjur terjun ke air.
hanuman-recites-the-ramayana-1
Telah menjadi kehendak dewa, seketika wujud Sri Rama dan Sita Dewi berubah menjadi kera, dan kelakuannya tak ubahnya seperti binatang. Sri Rama dan Sita Dewi melakukan hubungan kelamin tanpa rasa malu dilihat oleh Laksmana.
Melihat kejadian itu Laksmana segera melepas ikat pinggangnya untuk dibuat jerat. Segera dijeratnya kaki Sri Rama dan dibantingnya Sri Rama ke telaga yang keruh, demikian juga Sita Dewi.
Seketika itu juga Sri Rama dan Sita Dewi berubah ujud kembali menjadi manusia. Sri Rama berterimakasih kepada Laksmana yang telah menolongnya membebaskan diri dari wujud binatang.
Laksmana berkata kepada Sri Rama, akibat perbuatannya berhubungankelamin dengan Sita Dewi sewaktu menjadi kera, akan membuahkan anak dengan wujud bukan manusia melainkan berwujud kera. Mendengar kata Laksmana, Sri Rama dan Sita Dewi menjadi sedih, kemudian mereka kembali ke perkemahannya.

Sesampainya di tempat perkemahan, Sri Rama menyuruh inang pengasuhnya supaya memijit Sita Dewi. Setelah dipijit, keluarlah sebuah manikam dari lejer Sita Dewi. Manik itu lalu diambil Sri Rama dan dibungkus dengan daun kamumu.
Sri Rama lalu memanggil Sang Hyang Bayu, bungkusan itu yang berisi manikam itu lalu diberikan kepada Sang Hyang Bayu, sebelumnya bungkusan itu dioberi tanda anting-anting, bahwa barang siapa yang memakai tanda anting-anting milik Sri Rama itu, adalah anak Sri Rama sendiri.
Sang Hyang Bayu lalu minta diri sambil membawa bungkusan itu untuk mencari siapa orangnya yang pantas menjadi ibu manikam tersebut.

Diceritakan juga, konon, Sang Hyang Bayu itu, mempunyai lima orang anak angkat; yang berwujud kera bernama Hanuman, yang berwujud manusia bernama Bima, yang berwujud gajah bernama Satubanda, yang berwujud gunung bernama gunung Parasu dan yang kelima bernama Bayutanaya.

Posted in Ramayana | Tagged , , , | Leave a comment

Sumantri dan Sukrasana

Di tanah lapang itu, Sumantri tersungkur. Rahwana berhasil membunuhnya setelah pertempuran yang panjang. Tubuh anak muda itu setengah hancur. Ya, Sumantri gugur dengan mengenaskan. Tapi ia segera melesak ke surga. Dan di sana, Patih Suwondo itu bertemu dengan Sukrosono, adiknya yang setia. Mereka seperti mengulang kembali masa kanak-kanak yang bahagia, melupakan dendam dan rasa bersalah. Tragedi ”anak panah” di antara keduanya bagai tak pernah terjadi.

sumantri_solo

Kita kenang perjalanan Sumantri sebelum menjadi Patih Suwondo. Sejak awal, anak muda ini memang telah menyiapkan masa depannya. Ia menuju Maespati untuk mengabdi pada Prabu Harjuna Sasrabahu. Sebab ia merasa mampu, juga pantas .

Pada pagi yang belum sempurna, ia melangkah ke utara. Ia tinggalkan Sukrosono, adiknya yang bocah bajang yang buruk rupa, keriting, cebol, dan agak hitam itu. Dengan penampilan fisik semacam itu, mungkin Sumantri merasa adiknya hanya akan menjadi perintang. Meski ia tahu, kesaktian Sukrosono satu tingkat di atasnya. ”Aku sengaja pergi pagi-pagi benar pada saat kau masih lelap. Maafkan aku, adikku,” kata Sumantri pada hari kepergiannya.

Barangkali Sumantri memang laki-laki pilihan dewa. Dalam suatu pertempuran, ia berhasil membebaskan Negeri Magada dari kepungan pasukan Widarba. Ia menang telak. Pasukannya membawa banyak tawanan dan rampasan; emas-berlian, ternak, dan para putri. Tapi Sumantri tak segera pulang. Di perbatasan, ia justru mengirim surat ke Maespati dan menantang Harjuna Sasrabahu perang tanding. Ada kesombongan yang tiba-tiba melonjak. Juga ketidakpercayaan akan kekuatan dan kesaktian sang raja.

Setidaknya, ada dua tafsir tentang sikap itu. Pertama, Sumantri sekadar ingin lebih meyakinkan diri tentang kepatutan raja yang ia abdi. Kedua, ia tengah mabuk kemenangan. Apa pun alasannya, Sumantri akhirnya kalah melawan prabu Harjuna Sasrabahu , dan ia menerima hukumannya: untuk memindahkan Taman Sriwedari dari khayangan ke istana. Sebuah tugas yang mustahil dan membuat Sumantri hampir putus asa.

arjunasasrabahu

Namur disaat itu Sukrosono adiknya datang. Dengan kesaktiannya, tugas itu ia selesaikan dengan baik. Sayang, kehadiran Sukrosono yang buruk rupa membuat kekacauan para penghuni keputren yang sedang menyaksikan keindahan taman Sriwedari. Sumantri malu dan meminta adiknya segera pergi. Tapi Sukrosono menolak. Hingga akhirnya Sumantri membidikkan anak panah ke arahnya. Tanpa diduga anak panah lepas. Sumantri kaget, tapi terlambat. Adiknya tewas terkena panahnya.

Manusia macam apakah Sumantri? Dalam Tripama, sebagai patih Suwondo ia disebutkan memiliki tiga kelebihan; pandai, selalu menyelesaikan pekerjaannya, dan jika perlu mempertaruhkan nyawa. Tapi serat itu juga menyimpan satu pertanyaan penting; apakah Sumantri memiliki hati nurani? Itulah masalahnya. Dan tak hanya dalam jagad pewayangan, di dunia yang real sekarang ini -komunitas kesenian atau apapun- Sumantri berkeliaran. Ia mengambil manfaat pada saat membutuhkan, kemudian mencampakkan ketika mulai merasa jijik. ”Kenapa sampai hati seperti itu, akang antri…akang antri aku elu..aku elu akang ………

Sumantri dan Sukasrana Lambang Jiwa dan Raga

Dilihat dengan kacamata “ilmu rasa” dalam dunia pewayangan tak sedikit mengandung ajaran-ajaran yang mendalam, ajaran-ajaran dalam pewayangan umumya tidak “terang-terangan”, melainkan diselubungi dengan peristiwa dan kata-kata yang sangat rumit. Jika akan memperdalam dan meneliti diperlukan perasaan yang tajan dan mendalam, antara lain demikian:

Sumantri dan Sukasrana adalah kakak beradik, tetapi perwujudannya jauh sekali perbedaannya, Sumantri berparas dan berbadan bagus bagaikan dewa, sedang adiknya ujudnya sangat jelek, parasnya serupa buta-bajang (raksasa kecil), tubuhnya kerdil dan jelek.

Hal ini pada sesungguhnya merupakan gambaran keadaan manusia yang terjadi dari rohani dan jasmani. Sukasrana yang nampak jelek adalah badan jasmani, sedang Sumantri yang rupawan merupakan rohani (jiwa) atau badan halus. Dus Sumantri Sukasrana menggambarkan ujudnya manusia.

Pada suatu ketika Sumantri akan mengabdi (ngenger) pada Prabu Harjuna Sasra, ini maknanya pada suatu saat jiwa manusia sering ingat kepada Pangeran (Tuhan) ingin berbakti kehadapan Tuhan YME, Sukasrana tidak bertindak demikian karena badan (jasmani) manusia tidak pernah mempunya cita-cita luhur, melainkan hanya dikuasai oleh kehendak rohani (jiwa)nya. Maka waktu Sukasrana mengajukan permintaan untuk ikut Sumantri, dijawab “nanti saja”. Ini menggambarkan jiwa (rohani) manusia yang akan berbakti dan mengadbi kepada Tuhan selalu ragu-ragu jika badan (jasmani) akan ikut, karena belum mendapat pengertian.

Setelah Sumantri mengemukakan kehendaknya akan mengabdi kepada Prabu Harjuna Sasrabahu juga diterima, tetapi Harjuna Sasra minta syarat, dapat menerima pengabdian Sumantri, kalau Sumantri dapat memboyong putri yang diingingkan Prabu Harjuna Sasrabahu. Sumantri menyanggupi dan berhasil memboyong Dewi Citrawati, tetapi sebelumnya Sumantri menyerahkan puteri tersebut kepada Sang Prabu, ia ingin mencoba kesaktian Harjuna Sasra, karena ia suka mengabdi kepada seorang Raja, yang kesaktiannya dapat mengatasi Sumantri.

Permintaan Sumantri untuk menguji kesaktian Prabu Harjuna Sasrabahu diterima dengan hati gembira. Terjadi perang tanding yang seru dan cukup lama, akhirnya Sumantri bertekuk lutuh didepan Harjuna Sasrabahu, dan mengakui kesaktian Sang Prabu. Ini maknanya: “Jiwa manusia yang berniat membaktikan diri dan mengabdi TUHAN harus dengan laku (kenyataan), tidak semudah demikian saja, tetapi harus mengalami “percobaan berat”, segala cobaan ini sebagai sarana untuk berbakti dan mengabdi TUHAN.

Demikian lazim bagi mereka yang bercita-cita luhur. Tetapi pada saat jiwanya manusia dapat diterima pengabdiannya karena lulus dari cobaan dan godaan yang maha berat, pada umumnya lalu membusungkan dada untuk mengerti dan mencoba samapi dimana keluhuran TUHAN yang memberi cobaan kepada umutnya. Apabila umut telah yakin akan keluhuran TUHAN, umat baru suka mengakui dan baru merasa selaku umut TUHAN. Demikian maksud yang tersembunyi dalam cerita ini.

Setelah Dewi Citrawati dipersembahkan kepada Prabu Harjuna Sasrabahu, Sumantri merasa puas hati karena sudah dapat diterima pengabdiannya dan telah lulus dari cobaan berat yang keluar dari GUSTInya. Tetapi tidak cukup demikian saja. Harjuna Sasrabahu masih memberi beban kewajiban kepada Sumantri untuk memindahkan “Taman Sriwedari” dengan segala isinya tanpa mengalami perubahan sedikitpun. Apabila Sumantri tidak dapat melaksanakan permintaan Harjuna Sasrabahu, pengabdiannya Sumantri tidak akan diterima.

Sumantri sangat gundah gulana, Ini makanya : “Semua kejadian (peristiwa) memberi pelajaran kepada umat manusia karena sudah berani mencoba keluhuran TUHAN, padahal sebelumnya umat sudah mengerti bahwa TUHAN adalah bersifat luhur dan bijaksana melebihi umatnya. Hukuman kepada jiwa manusia yang sesungguhnya hanya akan gegabah ingin mencoba kelebihan TUHAN adalah lebih berat dari pada semula. Dan hukuman ini nampak mustahil untuk dilaksanakan oleh jiwa manusia, karena “taman Sriwedari” adalah perwujudan yang tidak dapat ditangani oleh jiwa manusia, melainkan harus ditangani oleh “jasmani” manusia.

Dengan demikian jiwa (rohani) lalu gelisah. Dalam mengalami kesulitan ini Sumantri lalu “ingat” kepada saudara-mudanya. ialah Sukasrana yang dapat melaksanakan pemindahan taman, karenanya Sumantri segera memanggil Sukasrana, karena saudara-muda ini sudah ingin sekali ikut mengabdi, apa yang menjadi kebutuhan Sumantri akan dilaksanakan, asal Sukasrana diperkenankan ikut mengabdi. Ini maknanya:

Di dalamnya jiwa mengalami cobaan yang maha berat karena diluar kemampuannya pasti lalu ingat bahwa ada saudara-mudanya yang dapat dimintai pertolongan, ya’ni badan “jasmanis”. Karenanya “jiwa” lalu minta tolong kepada badan “jasmani” agar tugasnya dapat dipenuhi hingga dapat diterima pengabdiannya. Sudah barang tentu badan “jasmani” menyanggupi, karena badan “jasmani” hanyalah tinggal menurut kepada kehendak “jiwa” (rohani). Dengan demikian berbakti dan mengabdi kepada TUHAN tidaklah dapat meninggalkan badan “jasmani” untuk menjadi sarananya.

Tetapi anehnya, setelah Taman Sriwedari dapat dipindahkan dengan utuh, Sukasrana malahan dilepasi panah, hingga menemui ajalnya, karena Sumantri agak malu terhadapa putri “garwa” Sang Prabu. Pada saat nyawa melayang meninggalkan pesan, bahwa Sumantri masih ditunggu dipintu sorga. Ini maknanya: Adalah tidak adil, bahwa jiwa yang mencari “keluhuran ” malahan sewenang-wenang kepada sesama. Tetapi dalam peristiwa ini sudah tepat, karena pengabdian jiwa manusia yang akan berbakti dan menjunjung nama TUhan tidak dapat bersama-sama dengan badan “jasmaninya”. Ini bukan berarti bahwa badan “jasmani” tidak penting untuk mencapai keluhuran jiwa. Dalam berbakti untuk mengabdi kepada TUHAN tidak dapat bertindak tanpa badan “jasmani”, misalkan orang bersembahyang (semadi) itupun harus menyertakan badan “jasmani” untuk mencapai kesempurnaan hidup. Tetapi setelah “jiwa” manusia telah diterima pengabdiannya kepada TUHAN (bersatu Kawula-Gust maka badan “jasmani” tidak dapat ikut serta. Maka dalam lakon ini Sukasrana harus menyingkir, karena demikianlah jalannya lakon manusia mencari keluhuran jiwanya, artinya kebutuhan duniawi harus disisihkan lebih dulu.

Demikian makan lakon “Sumantri Ngenger/mengabdi” yang kami dapat dari penuturan embah-embah yang telah marhum kemudian terserah pada pembaca yang budiman dalam hal ini

Posted in Arjuna Sahasrabahu | Tagged , | Leave a comment

Arjuna Sasrabahu Kehilangan Segala-galanya

Arjuna Sasrabahu Kehilangan Segala-galanya Karena Menuruti Nafsunya

arjunasasrabahu_solo2

Semula Harjuna Sasrabahu adalah seorang raja agung dari negeri Maespati yang gemah ripah, loh jinawi, tata tentrem karta raharja. Tetapi kemudian semuanya punah karena salahlangkah dari tingkah polanya sendiri. Ia gandrung mabuk asmara dengan Citrawati putri raja dari negeri Magada. Tetapi, ya ampun permintaannya. Ia mau menjadi permaisuri asalkan disediakan 800 orang putri pengiring yang sama rupa, sama cantik dan sama pula suaranya. Walaupun sudah dipenuhi permintaannya, namun masih kurang puas juga. Ia menghendaki suatu taman Sriwedari yang indahnya seperti taman yang ada di kahyangan. Permintaannya yang tidak masuk akal inipun dipenuhinya juga. Harjuna Sasrabahu segera mengeluarkan surat perintah kepada Menteri kesayangannya, yang bernama Sumantri. Belum sampai Sumantri habis pikir, darimana ia akan mendapatkan dana untuk membangun taman Sriwedari itu, tiba-tiba datanglah Sukasrana, adiknya yang berwajah raksasa, guna membantu Sumantri, Sukrasana yang berwajah raksasa, guna membantu Sumantri, Sukrasana dengan mudah membangun taman Sriwedari, untuk memuaskan nafsu Citrawati.

Keberhasilan Sumantri membuat gembira seluruh kerabat raja. Mulai saat itu mereka hidup dalam kemewahan, bahkan setiap hari mereka bercengkerama dan berpesta pora di taman Sriwedari.

Syahdan pada suatu hari Citrawati bertingkah lagi, Ia ingin mandi dan berenang bersama “maru” dan dayang-dayangnya. Tapi kecewa karena kolam renang taman Sriwedari kering tak ada airnya.

“Kakanda, aku ingin mandi sambil “ciblon”, penuhilah keinginanku.” Demikianlah rayu Citrawati mengadu kepada Harjuna Sasrabahu.

Karena cintanya maka Harjuna Sasrabahu bertriwikrama merubah badannya menjadi seorang raksasa yang maha besar, hanya untuk tidur melintang menghalangi aliran air sungai. Maka terbendunglah air, sehingga terjadi danau buatan yang indah membiru laksana langit di darat. Citrawati bersama maru dan inang-inangnya bersuka ria. Apel, anggur, durian, duku dan segala macam buah-buahan diusung ketempat permandian. Pendek kata berpestaporalah mereka. Sedang Sumantri piket dari jauh untuk berjaga-jaga kemungkinan ada bahaya yang mengancam rajanya. memang benar firasat Sumantri. Tak lama kemudian Rahwana datang. Tatkala ia melihat tubuh cantik Citrawati yang hanya memakai selapis kain tipis menutupi wadinya, tak sabarlah Rahwana, ia ingin segera menculiknya. Tetapi maksud Rahwana dapat digagalkan. Sumantri dapat meremuk kesepuluh kepada Rahwana. Berkat aji Pancasonanya Rahwana tak mati oleh tangan Sumantri, bahkan sebaliknya, Sumantri robek dadanya, karena digigit dan dikunyah-kunyah oleh Rahwana.

Betapa marahnya Prabu Harjuna Sasrabahu, ketika mendengar Sumantri telah mati. Bangunlah ia dari tidurnya dan bangkit menghajar Rahwana. Rahwana diikat dalam keretanya dan ditarik di seret mengelilingi alun-alun negeri Maespati. Rahwana memang belum harus mati oleh Harjuna Sasrabahu. Mengapa? Karena Harjuna Sasrabahu bukan Wisnu lagi. Wisnu telah meninggalkan raganya, akibat pekerti sang prabu itu sendiri. Malapetaka telah menghampiri negeri Maespati. Dewi Citrawati yang dipuja-pujapun bunuh diri karena tipu muslihat Marica, seorang intel Rahwana. Harjuna Sasrabahu lemas, hancur hatinya, mendengar berita kematian istrinya. Ia menggugat kepada Dewa.

Lebih konyol lagi, Harjuna Sasrabahu memutuskan untuk meninggalkan Maespati, lelana brata mencari mati. Rakyat Maespati ditinggalkan dan dibiarkan menderita, akibatnya negara rusak karena keputusannya. Di tengah jalan ia berjumpa dengan Rama Parasu inkarnasi Wisnu yang sebenarnya. Harjuna Sasrabahu diremuk badannya, dan dijuing-juing oleh kapak Rama Parasu sebagai penebus dosa.

Dari cerita tersebut diatas, kita dapat menarik suatu pelajaran, bahwa Harjuna Sasrabahu yang serba seribu itu tentunya nafsu jahatnya pun seribu pula. Artinya, bahwasanya manusia yang selalu menuruti hawa nafsu jahatnya, cepat atau lambat pasti akan kehilangan segala-galanya. Sedangkan kalau dilihat secara rohaniah, keputusan Harjuna Sasrabahu menginggalkan tahta dan mahkotanya kemudian pergi mencari kematiannya itu melambangkan bahwa manusia yang ingin mencapai Nirwana atau kesempurnaan, hendaknya benar-benar berani menginggalkan hidup keduniawian (ascestik = pertapa).

Dalam lakon ini digambarkan Harjuna Sasrabahu mencari Wisnu. Apa yang akan terjadi kalau Harjuna Sasrabahu nanti bertemu dengan Wisnu? Marilah kita ikuti cerita selanjutnya

Posted in Arjuna Sahasrabahu | Tagged | Leave a comment

Arjuna Sasrabahu Gugur

Arjuna Sasrabahu Gugur Sebagai Salah Satu Korban Sumpah Ramabargawa

arjunasasrabahu_solo21

Harjuna Sasrabhu yang telah kehilangan segala-galanya sudah berbulan-bulan lamanya mencari mati. Ia manantang, membenci dengan siapa saja yang dijumpainya. Ia pikir mungkin tak salah satu yang dijumpainya adalah Wisnu. Ia lupa bahwa Wisnu yang dicarinya lebih dekat dengan pribadinya. WIsnu ada dalam pusat rahsanya. Bukankah telah diajarkan bahwa:

“Lamun yitna kayitnan kang miyatani. Tarlen mung pribadinipun kang katon tinonton kono”.

Artinya: Asal tetap waspada dan ketengan yang sempurna maka yang tampak hanyalah dirinya sendiri. Demikian ajaran Wedha.

Syahdan, pada suatu saat tiba-tiba Harjuna Sasrabahu dalam perjalanannya terhalang oleh sebuah tubuh yang kekar, tinggi bercawat laksana manusia purba, namun ia memancarkan sinar terangnya.

Maka pikir Harjuna Sasrabahu : “kini aku ketemu Wisnu”.

Sebaliknya Ramabargawa melihat kedatangan Harjuna Sasrabahu yang memancarkan cahaya terang, juga berkata: “Kini aku ketemu yang kucari, Wisnu”.

Setelah kedua-duanya saling berpandangan, maka terjadilah dialog:

- Hai Engkau. Siapakah namamu? Aku adalah Ramaparasu, sudahkah engkau mengenal aku?

- Jawab Harjuna Sasrabahu: “O Engkau, aku telah mendengar namamu. Sungguh tak kuduga dan kusangka aku akan bertemu dengan Engkau, karena Engkau adalah Wisnu yang kucari. Namaku adalah Harjuna Sasrabahu, semula raja di negara Maespati.

Saking gembiranya Ramaparasu tertawa terbahak-bahak katanya:

- Kalau begitu Engkau adalah Wisnu, sekarang lepaskanlah cakramu kepadaku biarkanlah aku mati dan hanya akan mati oleh Wisnu agar supaya aku berada disisimu.

- Harjuna Sasrabahu memotong ucapan Ramaparasu: “Aku adalah Aku, Engkau adalah Engkau. Aku takkan membunuh Engkau, karena Engkau adalah Wisnu yang aku cari.

- Saut Ramabargawa, sambil menantang Harjuna Sasrabahu. “Kalau Engkau tak mau membunuh Aku, Maka akulah yang akan membunuh Engkau.

Ramabargawa dan Harjuna Sasrabahu berhenti berdialog. Kedua-duanya menyiagakan diri untuk melepaskan senjatanya, tetapi Harjuna Sasrabahu menahan senjata cakra dan tidak dilepaskan tali busurnya.

Sebaliknya Ramabargawa dengan sungguh-sungguh melepaskan senjatanya. Bargawastra/kapaknya lepas bersuling membelah angkasa menatap dada Harjuna Sasrabahu belah menjadi dua.

Harjuna Sasrabahu terbunuh rebah ditanah tak bergerak. Kemudian mukswa dengan seluruh raganya ia mencapai Nirwana. Sedang Ramabargawa, sejenak tertegun berdiri tegak dan setelah sampai puncaknya ia berteriak, kalau begitu Aku adalah Wisnu. Wisnu adalah kebenaran. Jadi Aku adalah Kebenaran.

Demikian dialog seorang yang sedang mencari dan bertemu dengan Kebenaran. Seperti halnya Sunan Bonang berdialog dengan Sunan Kali Jaga dan Wujil.

“Mati adalah kebaktian yang paling tepat, dimana tiada lagi dieprhitungkan, O, Wujil, karena orang kembali keasalnya. Jikau kau masih memperhitungkan sesuatu, kau tidak akan menemukan yang kau harapkan. Dan jika kau ingin menemukanNya, maka kau harus merusak badanmu (atau : “nafsu-nafsumu”). Jika engkau telah menemukanNya maka kemauanmu akan manunggal (bersatu) dengan kemauanNya.

Kau akan manunggal dengan DIA ; hanya namanya saja berlainan ; kau akan menjadi satu dalam “rasa” dengan DIA dengan berbeda wujud. Dalam segala hal kau akan manunggal dengan DIA. Sesudah manunggal, dimana kau menyerahkan mati dan hidupmu, kepadaNya, bagimu tidak ada larangan dalam hal pangan dan sandang. Semua kehendakmu menjadi satu dengan kehendakNya. Orang yang telah diampuni, tidak boleh memilih maupun membagi dua (yaitu : membeda-bedakan dalam segala hal), suatu tanda dari manunggalnya kehendak DIA.

Nah, saya kira sekarang menjadi jelas apabila ada orang berkata “Manunggaling Kawula Gusti” persatuan antara manusia dan Tuhan. Dari tamsil tersebut di atas jelas bahwa yang bersatu itu hanyalah kemauannya (cihna tinunggil karsa) atau hanya irada-Nya. Bukan zat-Nya. Tuhan adalah tidak terbatas, sedang manusia adalah terbatas. Tidak mungkin cangkir teh dapat menampung air samudera.

Semoga uraian ini dapat menambah terang dan menjadi jelas kiranya. Keterangan ini tak dapat dijelaskan lebih jauh dari apa yang dipaparkan di atas karena sinengker atau “esoteris”.

Posted in Arjuna Sahasrabahu | Leave a comment

Sumantri Lupa Kebajikan

Sumantri, Yang Mengejar Pangkat dan Jabatan Hingga Lupa Kebajikan

s45-sumantri_yogya

Tak ada yang membantah bahwa Sumantri adalah satria bagus rupanya, wira-sakti, yang bersenjatakan Cakrabaskara pemusnah angkara murka. Ia putra seorang pendeta sakti bernama Maha Resi Suwandagni. Ia masih saudara sepupu dengan Ramaparasu putra Resi Jamadagni. Namun sepanjang hayatnya pekerti Sumantri memalukan derajat kesatriaannya.

Sebaliknya adiknya berwajah raksasa, tetapi berbudi luhur, sakti dan sangat mencintai kakaknya, Sukrasana namanya.

Pada suatu malam Sumantri menghadap Resi Suwandagni untuk memohon diri, guna pergi melamar pekerjaan ke negeri Maespati. Tetapi ia tak mau membawa adiknya, karena malu terhadap wajah Sukasrana itu. Sumantri di terima oleh Harjuna Sasrabahu, asalkan dapat merebut putri dari negeri Magada. Dengah gagah perkasa Sumantri berhasil menyisihkan semua lawannya dalam sayembara merebut Dewi Citrawati. Tetapi setelah berhasil, dalam benaknya timbuh pikiran: “Bukankah aku yang berhasil memboyong Citrawati? Mengapa harus aku serahkan kepada Harjuna Sasrabahu, yang belum tentu melebihi kesaktianku?

Ujar Sumantri : “Kalau demikian lebih baik aku tantang Harjuna Sasrabahu untuk menandingi keperwiraanku. Kalau ia kalah dan hancur karena Cakrabaskaraku, pasti akulah yang memiliki Citrawati, harta dan tahta negeri Maespati. Lagi-lagi soal wanita, harta dan tahta mampu merobah budipekerti manusia.

Tantangan Sumantri diterima oleh Harjuna Sasrabahu dengan senang hati. Terjadilah peperangan yang seru dan dahsyat karena masing-masing adalah inkarnasi (belahan) Wisnu. Sumantri kemudian mengangkan dan melepaskan Cakrabaskara kearah Harjuna Sasrabahu. Cakrabaskara menyala, gemuruh suaranya membelah angkasa, mengejutkan hati Harjuna Sasrabahu. Karena murkanya, Harjuna bertiwikrama menjadi seorang raksasa yang maha besar bermuka seribu, sehingga dengan mudah senjata Cakrabaskara ditangkapnya. Sumantri diringkus dan diinjak dibawah telapak kakinya. Sambil menangis Sumantri meminta ampun atas kelancangan dan kesalahannya. Anehnya, Harjuna Sasrabahu masih memberi maaf dan mau menerima pengabdiannya, tetapi dengan syarat yang lebih berat. Sumantri diperintahkan untuk membangun taman Sriwedari dengan ancaman hukuman, apabila ternyata tak berhasilm maka ia tidak akan diterima pengabdiannya. Dalam kesedihan ini datanglah Sukrasana menyusul Sumantri. Ia bersedia menolong, asalkan ia diperbolehkan turut serta kemanapun Sumantri berada. Permufakatan tercapai. Dan Sukasrana dengan kesaktiannya berhasil memutar taman Sriwedari dipindahkan ke negeri Maespati. Atas jasanya itu Sumantri berterima kasih kepada adiknya, tetapi dengan pesan agar Sukasrana bersembunyi tidak menampakkan diri, apalagi menemuinya di muka umum.

Pada suatu hari Citrawati bersama pengiringnya dikala sedang bersukaria di taman Sriwedari, tiba-tiba lari ketakutan melihat raksasa kerdil berada di taman. Ia lari tunggang langgang mengadu kepada Harjuna Sasrabahu. Sumantri yang telah bergelar Patih Suwanda segera datang memeriksa taman.

Bukan main marahnya ketika tahu bahwa raksasa yang menakutkan permasisuri itu adalah adiknya sendiri. Dengan Cakrabaskara Sumantri mengancam agar Sukrasana pergi meninggalkan taman Sriwedari, tetapi sial, senjatanya terlepas dari tangannya dan tewaslah Sukasrana.

Dengan dalih apapun perbuatan Sumantri ini tetap dikategorikan kriminal sebagai suatu pembunuhan. ia menangis menyesali perbuatannya. Tetapi apa daya, nasi telah menjadi bubur. Walaupun demikian Sukrasana tetap mencintai kakaknya, dan arwah Sukrasana melayang, berkatalah ia : “Kakang Sumantri, kau tak tahu bahwa aku sangat mencintaimu. Ketahuilah kepergianku berarti kehancuranmu. Aku akan menjemput kakang ke Nirwana, apabila kelak kakang berhadapan dengan raja yang bermuka sepuluh. Rahwana namanya. Kakang Sumantri akan mati oleh taringnya. Berhati-hatilah kakang!”

Sumantri Itu, Tokoh Jelek Atau Tokoh Teladan

 

Sekarang bagaimana halnya dengan Sumantri, apakah ia tokoh jelek atau pantas dicontoh. Dalam kode etik pedalangan, Dalang tidak boleh menetapkan secara pasti, tetapi hanyalah pada akhir pertunjukan sang dalang menarik boneka kayu yang disebut “golek” dengan maksud supaya penonton “golekana” atau carilah sendiri maknanya.

Ditinjau dari segi ontologis-mentafisis, bahwa eksistensi atau keberadaan makhluk itu haruslah memahami bahwa mereka diciptakan oleh YANG MAHA ADA sebagai DIA yang pertama (causaprima) yang tidak pernah diadakan dan tidak akan pernah tidak ada, manusia dan yang serba “kumelip” selalu berpasang-pasangan.

Jelek dan baik, pendek dan panjang, siang dan malam, susah dan bungah, laki-laki dan perempuan dan sebagainya.

Hanya YANG MAHA ADA-lah yang kuasa mencakup segala yang bertentangan, sekaligus merangkul, memperdamaikan dan menyelaraskannya. Bagi-Nya pertentangan dan perbedaan apapun tidak berlaku,

Sekarang bagaimana halnya Sumantri?

Adapun Sumantri, ternyata mengingkari dan tidak mau menerima secara ontologis tentang eksistensinya. Ia tidak mau menerima dan diikuti oleh adik (ari)nya yang bernama Sukrasana yang sebetulnya ia merupakan pasangan eksistensinya di dunia, maka dengan hilangnya Sukasrana, berarti hilang pulalah eksistensinya daripada Sumantri. Tetapi karena pada hakekatnya ia satu, maka ia ditunggu untuk bersama-sama masuk ke Nirwana.

Dilihat secara ethis dan moral, memang sejak berangkat dari rumah, dalam benaknya Sumantri sudah mendambakan keampuhan senjata dan kesaktiannya. Ia akan mengabdi kepada siapapun yang dapat mengalahkan kesaktiannya. Sedang yang dapat mengalahkan Sumantri, justru saudara (adik)nya sendiri. Yaitu dikala ia mendapat kesusahan di tengah hutan dan dikala membangun taman Sri Wedari. Namun Sukasrana yang telah menolongnya, mati karengan tangan Sumantri. Dengan dalih apapun pembunuhan tetap pembunuhan, (ngunduh wohing panggawe), seperti halnya Salya dan Bagaspati, Gatotkaca dan Kalabendana.

Wedhatama mengingatkan “jangan bertindak demikianlah orang hidup itu”. (aja kaya mangkono wong urip).

Sedang kalau dilihat secara wadag-lahiriah, ia seorang prajurit, sudah seharisnya ia berhasil melaksanakan tugasnya, bahkan mati yang paling sempurna bagi prajurit adalah mati dalam medan pertempuran sebagai pahlawan. Keberhasilan Sumantri bukanlah hasil Sumantri sendiri, tetapi bersama-sama dengan tentara dan para panglima Maespati. Tetapi “tiba-tiba” setelah ia menang justru dia menentang atasan dan kepala Negaranya, untuk bertanding adu kesaktiannya, sampai akan “membunuhnya” dengan senjata Cakrabaskara yang ampuh itu. Yang paling “konyol” lagi ia “ngglendem” saja di “lulu” oleh Harjuna Sasrabahu untuk mengenakan pakaian kerajaan. Kalau sekarang pekerti panglima yang demikian ini tak ada predikat lain kecuali dianggap “makar”, atau setidak-tidaknya menurut Wedhatama dikatan sebagai berikut:

“…….. sumungah sesongaran yen mangkono kena ingaran katungkul, karem ing reh kaprawiran, Nora enak iku kaki.”

“Kekerane ngelmu karang, kakarangan saking bangsaning gaib, Iku boreh paminipun, Tan rumasuk ing jasad, Amung sanjabaning daging kulup, Yen kepengkok pancabaya, Ubayane mbalenjani.” (pangkur 8 dan 9)

Artinya:

“Menyombongkan, memamerkan kelebihannya, tergila-gila akan keberanian dan kesaktiannya, sehingga menghilangkan kewaspadaan, itu jelas tidak enak ngger.”

“yang diandalkan ialah ilmu karang dan ilmu gaib, semacam itu hanyalah ibarat bedak, pupur, boreh saja, tidak dapat meresap ke dalam jasad, tetapi hanya menempel di luar daging saja. Oh ngger, hal semacam itu jika menghadapi mara bahaya besar, tidak dapat diandalkan dan tidak mampu memenuhi janjinya.”

Sedang orang yang dikatakan utama, oleh Wedhatama dianjurkan supaya mencontoh “nulada laku utama, wong agung ing Ngeksi Ganda Panembahan Senapati, kapati amarsudi, sudanen hawa lan nepsu, pinesu tapa brata, tanapihing siang ratri, amemangun karyenak tyasing sasama dan seterusnya mesu reh kasudarman, kayungyun, heninging tyas, memangun marta martani, susila hanuraga, wignya tyasing sesami”.

Pendek kata : mengekang hawa napsu, melakukan askese dan ascetic, menyenangkan hati sesama manusia, cinta kepada sesama manusia, cinta kepada ketenangan hati dan memiliki ketentraman hati, lemah-lembut tutur katanya, rendah hati, pandai mengambil hati sesama manusia dan sebagainya.

Jadi Sumantri, agaknya baru dapat melihat dengan mata dikepala. Jelek diluar belum tentu jelek dalamnya.

Ia belum mampu melihat dengan mata hatinya (tan kawasa hanandukake jatining pandulu).

Untuk agar manusia dapat melihat dengan mata hati, menurut Wedhatama : Hamung nyenyuda hardaning kalbu, pambukane tata-titi ngati-ati, atetep telaten atul, tuladan marang waspaos, artinya: hanya dengan mengurangi keangkaraan hati, dimulai dengan teratur, cermat, berhati-hati, tekun, rajin, dan tidak mudah tergoda, itulah sifat arif wicaksana.

Bambang Sumantri Pemimpin Yang Bukan “Unthul”

Rasanya kurang sreg kalau hanya disebutkan segi negatip sifat Bambang Sumantri dalam “Wayang dan karakter manusia”

Adapun sifar positif yang perlu diketahui umum mengenai diri Bambang Sumantri ialah:

1. Benar dia adalah seorang yang punya kedudukan karena mencatut prestasi orang lain (adiknya). Tetapi jangan dilupakan, bahwa sekalipun katakanlah mencatut prestasi orang lain, Bambang Sumantri ternyata mampu menjalankan tugas jabatannya. Sebagai Spatih (Perdana Menteri) malah tidak hanya mampu, tetapi justru Bambang Sumantri bisa dijadikan “teladan” bagi setiap pejabat bahwa dia adalah pejabat yang penuh rasa tanggung jawab. Sekalipun risiko yang harus dia hadapi. Dia tidak segan-segan mengorbankan jiwanya demi untuk tanggung jawabnya kepada Negara dan Rajanya.

Dalam ceritera wayang digambarkan bahwa ketika Raja Harjuna Sasrabahu sedang “berweek end” menuruti rengekan sang first lady yang cantik, negara diserang oleh musuh (Rahwana), yang ada hanya Bambang Sumantri alias patih Suwanda. Karena dia merasa bertanggung jawab sebagai pejabat tertinggi, dia tahu kalau Dasamuka bukan tandingannya, tetapi toh dia tidak melarikan diri dari tanggung jawab. Akhirnya Patih Suwanda mati.

2. Bambang Sumantri mempunyai falsafah, dia hanya akan ngenger pada raja yang bisa mengalahkan kesaktiannya. Ini menunjukkan bahwa Bambang Sumantri sebagai pemudia punya sifat “sengguh”. Sengguh dalam arti positip, bukan dalam pengertian salah kaprah yang berarti sombong. Manusia kalau kehilangan watak sengguh, akan mudah tergelincir ke perbuatan yang nista, misalnya menipu, mencuri dan sebagainya. Bambang Sumantri bukan tipe manusia “unthul” (pemimpin pupuk bawang), asal jadi bisa pemimpin. Dalam masyarakat banyak manusia “unthul” ini. Jadi pemimpin tidak bisa apa-apa. Pokok dapat gajih, mobil, fasilitas lainnya. Tentu saja manusia macam begini tidak akan tahan lama. Ia akan ketahuan belangnya. Karena naiknya bukan berdasarkan prestasi.

Posted in Arjuna Sahasrabahu | Tagged | Leave a comment

KURAWA

 

Korawa atau Kaurawa (Sansekerta: kaurava) adalah kelompok antagonis dalam wiracarita Mahabharata. Nama Korawa secara umum berarti “keturunan Kuru”. Kuru adalah nama seorang Maharaja yang merupakan keturunan Bharata, dan menurunkan tokoh-tokoh besar dalam wiracarita Mahabharata. Korawa adalah musuh bebuyutan para Pandawa. Jumlah mereka adalah seratus dan merupakan putra prabu Dretarastra ( prabu Kuru )yang buta dan permaisurinya, Dewi Gandari.

KURAWA PIC
Pengertian
Istilah Korawa yang digunakan dalam Mahabharata memiliki dua pengertian:
Arti luas: Korawa merujuk kepada seluruh keturunan Kuru. Dalam pengertian ini, Pandawa juga termasuk Korawa, dan kadangkala disebut demikian dalam Mahabharata, khususnya pada beberapa bagian awal.
Arti sempit: Korawa merujuk kepada garis keturunan Kuru yang lebih tua. Istilah ini hanya terbatas untuk anak-anak Dretarastra, sebab ia merupakan keturunan yang tertua dalam garis keturunan Kuru. Istilah ini tidak mencakup anak-anak Pandu, yang mendirikan garis keturunan baru, yaitu para Pandawa.
Riwayat singkat
Dalam Mahabharata diceritakan bahwa Gandari, istri Dretarastra, menginginkan seratus putera. Kemudian Gandari memohon kepada Byasa, seorang pertapa sakti, dan beliau mengabulkannya. Gandari menjadi hamil, namun setelah lama ia mengandung, puteranya belum juga lahir. Ia menjadi cemburu kepada Kunti yang sudah memberikan Pandu tiga orang putera. Gandari menjadi frustasi kemudian memukul-mukul kandungannya. Setelah melalui masa persalinan, yang lahir dari rahimnya hanyalah segumpal daging. Byasa kemudian memotong-motong daging tersebut menjadi seratus bagian dan memasukkannya ke dalam guci, yang kemudian ditanam ke dalam tanah selama satu tahun. Setelah satu tahun, guci tersebut dibuka kembali dan dari dalam setiap guci, munculah bayi laki-laki. Yang pertama muncul adalah Duryodana, diiringi oleh Dursasana, dan saudaranya yang lain.
Seluruh putera-putera Dretarastra tumbuh menjadi pria yang gagah-gagah. Mereka memiliki saudara bernama Pandawa, yaitu kelima putera Pandu, saudara tiri ayah mereka. Meskipun mereka bersaudara, Duryodana yang merupakan saudara tertua para Korawa, selalu merasa cemburu terhadap Pandawa, terutama Yudistira yang hendak dicalonkan menjadi raja di Hastinapura. Perselisihan pun timbul dan memuncak pada sebuah pertempuran akbar di Kurukshetra.
Setelah pertarungan ganas berlangsung selama delapan belas hari, seratus putera Dretarastra gugur, termasuk cucu-cucunya, kecuali Yuyutsu, putera Dretarastra yang lahir dari seorang dayang-dayang. Yang terakhir gugur dalam pertempuran tersebut adalah Duryodana, saudara tertua para Korawa. Sebelumnya, adiknya yang bernama Dursasana yang gugur di tangan Bima. Yuyutsu adalah satu-satunya putera Dretarastra yang selamat dari pertarungan ganas di Kurukshetra karena memihak para Pandawa dan ia melanjutkan garis keturunan ayahnya, serta membuatkan upacara bagi para leluhurnya.
Para Korawa
Berikut ini nama-nama seratus Korawa yang dibedakan menjadi dua versi, versi India dan versi Indonesia. Kedua Korawa utama yaitu Suyodana alias Duryodana dan Dursasana disebut lebih dahulu. Kemudian yang lain disebut menurut urutan abjad. Versi India
Duryodana (Duryodhana)
Dursasana (Dussāsana)
Abaya (Abhaya)
Adityaketu (Ādithyakethu)
Alalupa (Alolupa)
Amapramadi (Amapramādhy)
Anadrusya (Anādhrushya)
Antudara (Anthudara)
Anuwinda (Anuvindha)
Aparajita (Aparājitha)
Ayubahu (Ayobāhu)
Bahwasi (Bahwāsy)
Bilawardana (Belavardhana)
Bimabala (Bhīmabela)
Bimawiga (Bhīmavega)
Bimawikra (Bhīmavikra)
Carucitra (Chāruchithra)
Citra (Chithra)
Citrabana (Chithrabāna)
Citraksa (Chithrāksha)
Citrakundala (Chithrakundala)
Citrakundhala (Chithrakundhala)
Citranga (Chithrāmga)
Citrawarma (Chithravarma)
Citrayuda (Chithrāyudha)
Danurdara (Dhanurdhara)
Dirkabahu (Dhīrkhabāhu)
Dirkaroma (Dīrkharoma)
Dredahasta (Dridhahastha)
Dredakarmawu (Dhridhakarmāvu)
Dredaksatra (Dridhakshathra)
Dredaratasyara (Dhridharathāsraya)
Dredasanda (Dridhasandha)
Dredawarma (Dridhavarma)
Duradara (Durādhara)
Durdarsa (Durdharsha)
Durmada (Durmada)
Durmarsana (Durmarshana)
Durmuka (Durmukha)
Dursaha (Dussaha)
Dursala (Dussala)
Durwigaha (Durvigāha)
Durwimuca (Durvimocha)
Duskarna (Dushkarna)
Dusparaja (Dushparāja)
Duspradarsa (Dushpradharsha)
Jalaganda (Jalagandha)
Jarasanda (Jarāsandha)
Kancanadwaja (Kānchanadhwaja)
Karna (Karna)
Kawaci (Kavachy)
Kradana (Kradhana)
Kundabedi (Kundhabhedy)
Kundadara (Kundhādhara)
Kundase (Kundhasāi)
Kundasi (Kundhāsy)
Kundi (Kundhy)
Mahabahu (Mahabāhu)
Mahodara (Mahodara)
Nagadata (Nāgadatha)
Nanda (Nanda)
Nisamgi (Nishamgy)
Pasi (Pāsy)
Pramada (Pramadha)
Sadasuwaka (Sadāsuvāk)
Saha (Saha)
Sala (Sala)
Sama (Sama)
Sarasana (Sarāsana)
Satwa (Sathwa)
Satyasanda (Sathyasandha)
Senani (Senāny)
Somakirti (Somakīrthy)
Subahu (Subāhu)
Suhasta (Suhastha)
Sujata (Sujātha)
Sulocana (Sulochana)
Sunaba (Sunābha)
Susena (Sushena)
Suwarca (Suvarcha)
Suwarma (Suvarma)
Suwiryaba (Suvīryavā)
Ugrase (Ugrasāi)
Ugrasena (Ugrasena)
Ugrasrawas (Ugrasravas)
Ugrayuda (Ugrāyudha)
Upacitra (Upachithra)
Upananda (Upananda)
Urnanaba (Ūrnanābha)
Walaki (Vālaky)
Watawiga (Vāthavega)
Wikarna (Vikarna)
Wikatinanda (Vikatinanda)
Winda (Vindha)
Wirabahu (Vīrabāhu)
Wirajasa (Virajass)
Wirawi (Virāvy)
Wisalaksa (Visālāksha)
Wiwitsu (Vivilsu)
Wrendaraka (Vrindāraka)
Yuyutsu (Yuyulssu) *
Dusila (Dussila) *
Versi Indonesia
Duryodana (Suyodana)
Dursasana (Duhsasana)
Abaswa
Adityaketu
Alobha
Anadhresya (Hanyadresya)
Anudhara (Hanudhara)
Anuradha
Anuwinda (Anuwenda)
Aparajita
Aswaketu
Bahwasi (Balaki)
Balawardana
Bhagadatta (Bogadenta)
Bima
Bimabala
Bimadewa
Bimarata (Bimaratha)
Carucitra
Citradharma
Citrakala
Citraksa
Citrakunda
Citralaksya
Citrangga
Citrasanda
Citrasraya
Citrawarman
Dharpasandha
Dhreksetra
Dirgaroma
Dirghabahu
Dirghacitra
Dredhahasta
Dredhawarman
Dredhayuda
Dretapara
Duhpradharsana
Duhsa
Duhsah
Durbalaki
Durbharata
Durdharsa
Durmada
Durmarsana
Durmukha
Durwimocana
Duskarna
Dusparajaya
Duspramana
Hayabahu
Jalasandha
Jarasanda
Jayawikata
Kanakadhwaja
Kanakayu
Karna
Kawacin
Krathana (Kratana)
Kundabhedi
Kundadhara
Mahabahu
Mahacitra
Nandaka
Pandikunda
Prabhata
Pramathi
Rodrakarma (Rudrakarman)
Sala
Sama
Satwa
Satyasanda
Senani
Sokarti
Subahu
Sudatra
Suddha (Korawa)
Sugrama
Suhasta
Sukasananda
Sulokacitra
Surasakti
Tandasraya
Ugra
Ugrasena
Ugrasrayi
Ugrayudha
Upacitra
Upanandaka
Urnanaba
Wedha
Wicitrihatana
Wikala
Wikatanana
Winda
Wirabahu
Wirada
Wisakti
Wiwitsu (Yuyutsu)
Wyudoru (Wiyudarus)
Istimewa:
Yuyutsu adalah putra Dretarastra dari seorang dayang-dayang.
Dursila adalah adik perempuan Korawa. Ia satu-satunya wanita di antara para Korawa.
Korawa lainnya
Para Korawa (putera Dretarastra) yang utama berjumlah seratus, namun mereka masih mempunyai saudara dan saudari pula. Yaitu Yuyutsu, yaitu anak Dretarastra tetapi lain ibu, ibunya seorang wanita waisya. Kemudian dari Dewi Gandari, lahir seorang putra lagi bernama Duskampana dan seorang putri bernama Dursila (atau Duççyla atau Dussila).
Referensi
Nama-nama tokoh para Korawa versi Indonesia diambil dari:
I Gusti Putu Phalgunadi, 1900, Âdi Parva. The First Book. New Delhi: International Academy of Indian Culture and Aditya Prakashan, halaman 186-189. (Phalgunadi menerbitkan ulang teks Jawa Kuna Adiparwa yang pernah diterbitkan, namun kali ini disertai dengan terjemahan dalam bahasa Inggris. Nama-nama tokoh Korawa di dalam naskah yang digunakan Phalgunadi tidak lengkap, dan kadang-kadang berbeda dengan nama dalam Mahabharata dari India yang memakai bahasa Sansekerta. Kemudian oleh Phalgunadi dilengkapi dengan nama-nama yang ia dapatkan dari Mahabharata versi Sansekerta

Posted in Mahabharata | Tagged | Leave a comment

Bathara Ismaya menjelma Semar

Bathara Ismaya ( Ismaya babar wujud )
Bathara Ismaya adalah seorang dewa yang tampan,putra dari Bathara Tunggal dan cucu dari Sang Hyang Wenang.silsilahnya sebagai berikut:

ismaya babar wujud
Sang Hyang Nurcahya
I
Sang Hyang Nurrasa
I
Sang Hyang Wenang
I
Sang Hyang Tunggal berputera 3 orang yaitu : 1. Bathara Antaga
2. Bathara Ismaya
3. Bathara Manikmaya ( Bathara Guru)
ketiga putera bathara Tunggal berparas tampan tanpa cacat fisik.dan Bathara Ismaya inilah yang menjadi ki lurah Semar.
cerita singkatnya seperti ini:
Bathara Tunggal yang bertahta di kahyangan Alam Kumitir meminta kepada ke tiga puteranya agar membangun keraton untuk tinggal mereka bertiga.Batara Ismaya lah yang paling menonjol kesaktiannya,dan diciptakannya sebuah keraton yang megah dan besar diatas gunung Mahameru ( kalau di tanah Hindi disebut gunung Himalaya ).keraton itu disebut sebagai Kahyangan karena berada di puncak gunung.dan deberi nama Kahyangan Jong Giri Salaka ( jonggringsalaka ).merasa Bathara Ismaya yang menciptakan maka dia lah yang pantas menjadi raja dewa,perkataan Ismaya ditentang oleh sang kakak yaitu Bathara Antaga,Antaga lah yang pantas menjadi raja dewa karena dialah saudara paling tua.pertengkaran mulut terjadi dan sama-sama ingin berkuasa.akhirnya mereka membuat sayembara,barang siapa yang bisa dan mampu menelan dan mengeluarkan lagi gunung yang berada tidak jauh dari kahyangan maka orang itulah yang akan menjadi raja dewa.
Bathara Antaga segera mengeluarkan semua ilmu dan kesaktiannya,dia segera memakan gunung itu,tapi tak sanggup menelannya.akhirnya mulut yang terus dipaksakan mendadak menjadi lebar menganga dan wajahnya pun mendadak berubah total.giliran Bathara Ismaya,dia bisa memakan dan menelan gunung itu,tapi tak sanggup untuk mengeluarkan lagi,tiba-tiba tubuh Ismaya membengkak besar dan pantat nya pun menjadi besar ( seperti gambar di atas ,Ismaya babar wujud ).merasa bersalah , mereka berdua memohon ampun pada ayahnya.sudah menjadi takdir dari YANG MAHA KUASA,mereka berdua harus pasrah menerimanya.maka Bathara Manikmaya lah yang harus bertahta di kayangan Jong Giri Salaka.dan Bathara Tunggal memberi nama baru pada Antaga yakni : TOGOG. sedangkan Ismaya berganti nama SEMAR.untuk menebus kesalahannya mereka berdua tidak diperkenankan tinggal di kahyangan.dan Togog diserahi tugas mendidik dan mengasuh satria dan raja yang berwatak angkara, sedangkan Semar diserahi tugas mengasuh satria dan raja yang berwatak luhur.Sedangkan Bathara Manikmaya bergelar Sang Hyang Jagat Giri Nata.
kenapa Bathara Manikmaya bisa bertangan 4 dan mempunyai sapi Lembu Handini ?
ikuti kisah selanjutnya…….

Posted in Cerita Wayang | Tagged , | Leave a comment