Garjendramuka

garjendramuka

Prabu Garjendramuka dalam bentuk wayang kulit, (foto: Herjaka HS)

Negara Ragastina adalah negara besar. Wilayahnya luas dan pasukannya kuat. Yang menjadi raja bernama Prabu Garjendramuka. Raja Garjendramuka berwujud aneh. Dari leher sampai kaki adalah manusia. Sedangkan kepalanya kepala gajah. Mungkin hal tersebut menjadi perlambang bahwa Prabu Garjendramuka. menempatkan binatang gajah sebagai sumber kekuatan dan kesaktian. Ia membangun negaranya menjadi besar dan kuat, laksana gajah. Gelar Patih kerajaan dan para panglima perang juga memakai nama serba gajah, yaitu : Patih Watu Gajah, panglima perang Gajah Oya dan Liman Benawi (liman = gajah). Yang aneh lagi adalah penasehat raja wujudnya gajah, bernama Gajah Antisura. Karena kebesarannya negara Ragastina disegani oleh kawan dan ditakuti oleh lawan.

Ada pepatah mengatakan bahwa semakin tinggi sebuah pohon akan semakin tinggi pula pula angin menerpa. Demikian juga yang dialami Prabu Grajendramuka, semakin banyak orang segan dan takut padanya, ia justru semakin arogan. congkak, sombong dan memandang rendah kerajaan-kerajaan lain.

Pada suatu hari Sang Raja tidak bisa mengendalikan lagi hasratnya untuk memperisteri Bathari Reguwati, putri Batara Siwah di kahyangan Sela Gumilang. Dengan kesaktiannya, Prabu Garjendramuka berhasil menculik Batari Reguwati dan disembunyikan di negara Ragastina. Batara Siwah cemas dan sedih atas hilangnya putri kesayangannya. Segera ia meninggalkan kahyangan Sela Gumilang pergi mencari putrinya yang hilang tak tahu rimbanya.
Prabu Garjendramuka mati setelah terkena panah oleh Bambang Gutama
dan ditusuk keris oleh Batari Reguwati

Kesewenang-wenangan Prabu Garjendramuka semakin menjadi-jadi. Setelah berhasil menculik Batari Reguwati, ia menuju Kahyangan Paranggudadi di dasar samodra, menemui Batara Baruna untuk meminta pusaka Bokor Inten yang berisi Wedi Retnojumanten. Karena tidak diperbolehkan, Prabu Garjendramuka mengambil paksa pusaka tersebut yang disimpan di kancing gelung Batara Baruna. Batara Baruna merasa malu atas perlakuan yang tidak hormat. Maka keluarlah kutuk dari mulut Batara Baruna bahwa Bokor Inten yang berisi Wedi Retno jumanten tidak akan membawa bahagia, tetapi sebaliknya. Prabu Garjendramuka akan binasa dengan semua kebesarannya.

Sementara itu Batara Siwah yang mencari puteri kesayangannya, sampailah di hutan Cebokcengkiran. Tanpa sengaja Batara Siwah menemukan Bambang Gutama yang sedang bertapa. Keduanya saling membuka pembicaraan. Batara Siwah mengatakan bahwa ia sedang mencari putrinya, yaitu Batari Reguwati yang hilang. Siapa pun, tanpa kecuali yang dapat menemukan Batari Reguwati akan dikawinkan dengannya. Bambang Gutama juga mengatakan bahwa tujuannya ia bertapa adalah untuk memohon isteri bidadariuntuk pendamping hidupnya.

Gayung pun bersambut, Bambang Gutama menyanggupi untuk mencari dan menemukan kembali Batari Reguwati. Atas kesanggupan Bambang Gutama, Batara Siwah memberikan pusaka yang bernama Jungkat Penatas, untuk sipat kandel agar Bambang Gutama berhasil menemukan dan meyelamatkan Batari Reguwati.

Kisah selanjutnya Bambang Gutama dapat menemukan Dewi Reguwati yang disembunyikan di Taman Ragastina. Sang Batari Reguwati dijaga ketat oleh tiga bersaudari, adik dari Prabu Garjendramuka, yang bernama: Dewi Leng-leng Ndari, Leng-leng Agi dan Leng-leng Adi. Bambang Gutama mengutarakan bahwa kedatangannya menemui Batari Reguwati diutus oleh Batara Siwah untuk membebaskannya dari cengkeraman Prabu Garjendramuka.

Batari Reguwati gembira. Dengan mata berbinar senang, tanpa rasa canggung, tangan Bambang Gutama dipegangnya erat-erat. Walau tanpa sepatah kata pun, Bambang Gutama dapat menangkap kehendak Batari Reguwati, bahwasannya ia telah mempercayakan diri dan pasrah sepenuhnya kepada Bambang Gutama.

Walaupun Dewi Reguwati sudah berada di depannya, tidak mudah bagi Bambang Gutama untuk membebaskan dan membawanya pergi. Dikarenakan Prabu Garjendramuka telah mendapat laporan dari para saudarinya bahwa ada duratmaka, pencuri yang masuk di taman keputren dan ingin membawa pergi Batari Reguwati

Maka sebelum Bambang Gutama bertindak Prabu Garjendramuka menghadang di depannya. Setelah saling bersitegang, sebentar kemudian keduanya terlibat dalam pertempuran. Keduanya sama-sama sakti. Karena tidak ada yang menang dan tidak ada yang kalah, Bambang Gutama mengeluarkan senjata Jungkat Peñatas pemberian Batara Siwah. Prabu Garjendramuka mulai terdesak. Dan ketika ia lengah senjata Bambang Gutama berhasil melukai Prabu Garjendramuka dan ambruklah ia di medan perang. Ia merintih kesakitan. Batari Reguwati mendekatinya. Prabu Garjendramuka mohon untuk disempurnakan. Batari Reguwati menyanggupinya, asalkan ia mengembalikan pusaka Bokor Inten yang berisi Wedi Retnojumanten yang diambil paksa dari kancing gelung Batara Baruna.

Apa mau dikata, walaupun rasa angkara masih mencengkeram hatinya, raganya tak kuasa lagi menyangga. Batari Reguwati melepaskan kerisnya ke tubuh Prabu Garjendramuka menyusul senjata Bambang Gutama.

Kematian Prabu Garjendramuka diikuti oleh kematian Patih Watu Gajah, Antisura, Gajah Oya, Liman Benawi, Dewi Leng-leng Ndari, Dewi Leng-leng Agi dan Dewi Leng-leng Adi.

Keelokan terjadi, bersamaan dengan kematian Prabu Garjendramuka, para pengikut dan saudaranya, negara Ragastina hilang dan berubah menjadi hutan.

Kelak jika sudah sampai pada waktunya, hutan tersebut akan di babad dan di atasnya didirikan Negara besar. Nama dari negara itu adalah Hastinapura yang artinya pura gajah, atau juga disebut Liman Benawi. Nama wilayahnya juga memakai nama-nama Gajah seperti misalnya: Kadipaten Gajah Oya, Pakuwon Watu Gajah dan taman Kadilengleng.

Entah disengaja atau tidak, nama-nama tersebut sepertinya memunculkan kembali kebesaran Prabu Garjendramuka yang telah lama tenggelam dari sejarah belantara kehidupan.

Apakah itu suatu pertanda bahwa watak angkara dari Prabu Garjendramuka tidak akan pernah mati dan akan muncul kembali di negara baru yang bernama (Indonesia) Hastinapura?

Posted in Negeri Wayang | Leave a comment

Semar-Togok-Sekarpandan

Tokoh Panakawan

165854_10151219812403736_2143522301_n

Lumping (wayang kulit) Cirebon mengenal banyak tokoh dan banyak perbedaan dibanding dengan Wayang kulit Jawa Tengah, terutama perbedaan tokoh panakawan. Diduga setelah penguasaan oleh Mataram pada paruh kedua abad 17, ternyata wayang Cirebon tidak terpengaruh oleh perubahan penguasaan Mataram di Jawa Barat. Begitu pula dengan wayang golek Cirebon. Banyaknya lakon dan wayang merupakan sumber yang kaya untuk pengetahuan yang dianggap bersejarah di darah Cirebon dan Sumedang.

Generasi tua di Cirebon menjunjung tinggi hal-hal tradisional serta legenda, sehingga legenda itu tetap hidup.

Di Kaliwedi , Arjawinangun, terdapat mitos, adanya dua buah wayang yang dibungkus dengan beberapa lembar kain putih; yang satu dikenal dengan Semar, yang satu lagi “hanya dikenal sebagai teman Semar”. Setelah petani menebarkan benih padi di sawah, maka pada malam Jum’at Kliwon, mereka akan datang menyambangi wayang ini, dengan membawa air untuk diberkati, sebagai syarat keberhasilan usaha tani nya, dan berharap panennya baik.

Pemberkatan air dilakukan dengan cara membuka bungkus wayang, kecuali lapis terakhir – dan hanya kuncenlah yang diperkenankan melihat wayang itu, kemudian wayang itu dibenamkan ke dalam air, disertai sedekah dari petani – wayang kenudian dibungkus lagi dan upacara selesai. Kain pembungkus itu amat diminati para petani, yang dapat diperoleh dengan menukarnya dengan kain yang baru.

Bila kuncen mendapatkan tangan-tangan wayang lepas dari ikatannya, maka hal itu merupakan pertanda panen gagal atau akan adanya bencana maupun wabah. Menurut keterangan, tangan yang lepas itu akan melekat kembali kepada wayangnya.

SEMAR

Upacara ini menunjukkan fungsi SEMAR sebagai Dewa Kesuburan Pertanian, biasanya sebelum menayangkan Semar , Dalang wayang Cirebon (biasanya dalang Wayang kulit yang kondang akan piawai pula memainkan wayang golek), akan menembangkan “pustaka ramakawi”:

Semar winangun tikang sara wara,
Dewa maya-maya katon raganing kelir,
Siti Bentar kang peputra
Semar asihe pendawa…

Semar mempunyai nama lain yaitu Kudapawana, Watukumpul dan Badranaya,

Terdapat versi keberadaan – silsilah Semar. Di Onderdistrik Kapetakan, Distrik Arjawinangun, versi keberadaan Semar diterangkan sebagai berikut:

Sanghyang Wenang menikah kepada Dewi Arini (Nurini) putri Prabu Ari (Nuradi) dari Pulau (Puncak gunung ) Keling, dan berputra Sanghyang Tunggal.

Pada suatu saat Sanghyang Tunggal bertapa, dan di tempat ia bertapa, tanahnya membesar, membuncah serta meledak,pecah keluarlah Dewi Siti Bentar, yang kemudian dinikahi oleh Sanghyang Tunggal.

Dari pernikahan ini Sanghyang Tunggal mempunyai 9(sembilan) anak, dua diantaranya lelaki yaitu Sanghyang Tismaya dan Sanghyang Ismaya.

Ketika di Suralaya akan diadakan pemilihan pengganti Sanghyang Tunggal sebagai penguasa Kahyangan , semuanya berminat menjadi penguasa, dan diadakanlah sayembara : Sesiapa yang dapat mencapai Bale Mercupunda, tanpa melorot kembali, dialah yang diangkat menjadi penguasa Suralaya atau Dewa Utama.

Sanghyang Tismaya berhasil mendapatkannya dengan tidak melorot, ia diangkat menjadi Batara Guru.

Sanghyang Ismaya atau Sanghyang Munged, gagal, jatuh ke bumi, namun ia dari Bale Murcupunda ia mendapatkan jimat Layang Kalimasada (yang kemudian diartikan sebagai Kalimah Sahadat, sebetulnya adalah Kali – Maha – Usada, judul kitab pengobatan kepunyaan Dewi Kali).

Setelah berada di atas bumi, Sanghyang Munged mencari seorang majikan, kemudian Palasara lah yang menjadi majikan sanghyang Munget, kemudian menjadi Raja Astina. Palasara bersedia menjadi majikan dan menerimanya sebagai Panakawan dengan syarat sanghyang Munged mengubvah penampilannya menjadi buruk. Sanghyang Munged melepas bungkus Layang Kalimasada, dan menempelkannnya kepada badannya sehingga mengubah bentuk tubuhnya, ia menjadi Semar yang berasal dari kata Samar. Jimat Layang Kalimasada diserahkannya kepada Palasara.

Semar menikah dengan Sudiragen, titisan dari isterinya di alam Kahyangan, yaitu Dewi Sanggani (puteri Umayadewa) , dari Sudiragen Semar tidak memperoleh anak. Tetapi Palasara menyuruh Semar untuk mempunyai panakawan pembantu.

Semar menciptakan panakawan dan diakui sebagai anaknya, yaitu:
Ceblog, dari gagang daun kelapa (papah blarak)
Bitarota, dari orang-orangan sawah (unduh-unduh)
Duwala,dari bonggol atau tonggak bambu (bonggolan pring)
Bagong, dari daun kastuba (kliyange godong kastuba)
Bagalbuntung , dari bonggol jagung (bagal jagung)
Gareng, dari potongan kayu gaharu
Cungkring atau Petruk, dari potongan bambu (anjir dawa).
Versi lain menyebutkan bahwa:
Ceblog, dari kayu sempu
Bitarota, dari tumbuhan rambat “tungkul”
Duwala,dari kayu panggang
Bagong, dari tunggak jati
Bagalbuntung , dari kemandi, sejenis benalu
Gareng, dari benalu kayu panggang,
Cungkring atau Petruk, dari pohon randu.

Peran Semar pada wayang Cirebon, tetap sama dengan peran Semar pada wayang lainnya.
Beberapa sifat dan perilaku anak-anak Semar:
Ceblog, pemberani dan berangasan
Bitarota, pendiam dan halus perasaannya
Duwala, tokoh yang gembira, suaranya menggembirakan majikannnya apabila menembang, namun jika bicara sengau
Bagong, suaranya serak, kasar, selalu berbahasa Sunda, jika berkelahi ia ,menumbuk “lawan”nya dengan kepala
Bagalbuntung , bicaranya pelo
Gareng, sombong,angkuh
Cungkring atau Petruk, selalu tampil dengan cerutu yang menyala untk menyerang lawannya, sifat dan perilakunya praktis sama dengan wayang Jawa Tengah.
Versi lain silsilah Semar (Palimanan):
Sanghyang Wenang yang beristerikan Dewi Suwati, mempunyai tiga putera, yaitu Sanghyang Tunggal, Sanghyang Ening dan Dewi Yati.

Sanghyang Tunggal menikah kepada Dewi Rakatawati, puteri dari Rakatatama, pandita dari Jaladri atau Jeladini dan memperoleh 9 (Sembilan) anak. Dewi Rakatawati juga melahirkan sebuah telur ajaib yang melayang, dan berhasil ditangkap oleh Sanghyang Wenang, dari telur itu menjadi Sanghyang Ismaya yang menjadi Sanghyang Munged (Semar) dan Sanghyang Tismaya yang menjadi Batara Guru.

Sanghyang Ismaya atau sanghyang Munged menikah kepada Dewi Sanggani serta mempunyai 10 orang anak. Dua anak Sanghyang Munged yaitu Dewi Hendani dan Batara Sambondana menetap di Negara Hindu, Yang lainnya dibawa oleh Batara Guru ke pulau Jawa, yaitu Batara Surya, Batara Anggaparana, Batara Kamajaya (Arjuna), Batara Darma (samiaji), Batara Yamadipati (Madepati). Batara Mambang, Batara Werka (BIma) dan Batara Basuki.

Jadi Semar adalah “ayah” Arjuna, dan menyebutnya dengan Bapa Bendara, karena mewakili kedudukan Sanghyang Tunggal.

522817_10151219811158736_1597229735_n
TOGOG

Togog alias Secawraga atau Secangragas, asalnya Disebut Sanghyang Punggung, kakak Semar. Ibunya seorang wanita Selong (Ceylon,Srilanka), Semar menyebutnya “Kakang Anom” karena lebih tua, namun mendapat wajah buruk lebih muda dari Semar.

Togog – Wayang Kulit Cirebon
Sanghyang Punggung, juga berupaya menjadi Raja Kahyangan, namun gagal karena melorot dari Bale Mercupunda dan jatuh di hutan Kendalgrowong, yang kemudian digunakan untuk bertapa. Di hutan ini ia bertemu dengan Sanghyang Munged, yang berceritera kepada Togog, bahwa ia ingin mengubah dirinya berhubung ia termasuk daftar Pencarian Dewa, akibat mencuri ajimat Cupu Manik Astagina dan Cupu Ratna Tirta Kamandalu dari Suralaya.

Cupu Manik Astagina ini berisi minyak yang bias membuat orang jadi kaya dan Cupu Ratna Kamandalu mengandung minyak untuk kekebalan.

Munget, menerapkan – memakai bungkus ajimat ke badannya, dan berubah menjadi Semar, kemudian diikuti Sanghyang Punggung, yang berubah menjadi Togog. Togog kemudian menjadi panakawan Dasamuka.

Sebelum pemunculan Togog, dalang akan mengucapkan pustaka kramakawi :

Togog lurah Wijamantri,
Togog mungging (munggah ing ) bale,
Nabuh Bende siguntur
Atau:
Akuing Tejamantri,
Mungging bale
Mangutus gupuh nabuh tengara bala.

TEMBILUNG

Tembilung disebut juga Surahita, adalah ciptaan Togog .
Togog ingin mendapatkan teman dalam perjalanannya, maka dari seekor burung hantu (kukuk-beluk), diciptakan menjadi temannya ,
diberi nama Tembilung.

735089_10151219812848736_1284949666_n

SEKARPANDAN

Sekarpandan disebut juga Cemuris atau Curis. Ada yang menyebutkan bahwa Sekarpandan adalah adik Semar, pendapat lainnya menyebutkan Sekarpandan adalah adik ipar Semar, Sekarpandan adik Dewi Sanggani, yang bernama Narcas; sebelumnya ia bernama Sanghyang Sukmarasa.

Sanghyang Sukmarasa juga berupaya untuk menjadi Raja Kahyangan, ia terjatuh dari Bale Mercupinda, dan lehernya tersangkut di pohon pansan. Ia ditemukan dan ditolong oleh Sambarama, kakak Palasara, kemudian diserahkan kepada Semar yang telah berpenampilan buruk.

Karena Sanghyang Sukmarasa juga mencuri jimat Cupu Garuda Mahmud dari Suralaya, sudah pasti temasuk daftar pencaraian Dewa, maka oleh Semar dianjurkan mengubah penampilannya. Sanghyang Sukmarasa melepas bungkus jimat dan menggunakan ke badannya,sehingga berubah penampilannya. Setelah berubah, Semar berkata untuk tidak menyebut Kakang, tetapi harus menyebut “pean” kependekan dari “ipe reang – ipe reh ing Hyang), JImat ini berisi minyak untuk kekebalan (lenga teteguhan)

oleh : E.W.Maurenbrecher – Pensiunan Asisten Residen Tjirebon –
Naskah tahun 1936 – majalah DJAWA : tijdschrift van het Java Instituut – Jogjakarta.
(terjemahan bebas oleh Bapak Sadeli)

Posted in Tokoh Punokawan | Tagged , , | Leave a comment

Sosok Sukrasana (Suka Sarana)

Menemukan pemimpin sekaliber Bung Karno, Bung Hatta, Bung Sjahrir, dan Tan Malaka terlalu mewah bagi bangsa kita.

arjunasasrabahu

Dalam degradasi watak manusia Indonesia yang serius, kini kita hanya butuh pemimpin yang memiliki kapasitas orang baik yang mrantasi (memberi solusi).

Kriteria orang baik itu mungkin bisa kita temukan dalam sosok Sukrasana, tokoh dalam pewayangan yang buruk secara fisik tapi sakti dan berwatak mulia. Ahli filsafat dari UGM, Damarjati Supadjar, memaknai Sukrasana sebagai ”suka sarana” atau memberikan jalan penyelesaian atas masalah. Makna itu merupakan analogi dari watak solider Sukrasana. Ia selalu siap berkorban untuk kepentingan orang lain, atas dasar cinta dan pengharapan mewujudkan dunia yang ideal.

Sukrasana bahkan tak pernah berhitung untung dan rugi atas pilihan itu. Termasuk ia harus terbunuh oleh kakaknya sendiri, Bambang Sumantri. Padahal, sang kakak telah dibantunya hingga berhasil menjadi bagian dari elite kekuasaan raja agung Harjuna Sasrabahu.

Sukrasana adalah monumen kesetiaan, integritas, dan komitmen yang telah menjadi rujukan kolektif. Dalam jagat politik kita yang dikuasai pencitraan ala Arjuna yang serba kinclong dan moblong-moblong (pesona diri yang berlebihan), Sukrasana menjadi antitesis yang sangat strategis. Ia melawan arus besar kegandrungan publik atas pemimpin yang memiliki keindahan citra fisik dan mentalitas manusia salon.

Terbukti, para pemimpin ala Arjuna itu tak memberikan perubahan signifikan bagi bangsa ini. Sebaliknya, bangsa ini justru harus melayani segala kemanjaan para ”Arjuna”, sekaligus jadi tong sampah bagi keluhannya.

Lebih menyedihkan lagi, para ”Arjuna” itu sering ngabul-abul (mengacaukan) kas kerajaan untuk membiayai kepentingan dirinya yang tidak terbatas. Anggaran pendapatan dan belanja kerajaan pun sering kali mereka gerogoti secara sistemis.

Kewajiban profetis

Manusia ”Sukrasana” tak memiliki mentalitas borjuistis-hedonistis ala Arjuna. Ia adalah manusia esensi atau manusia substansi yang tak butuh rumbai- rumbai artifisial dan mentalitas kemaruk. Ia telah mencapai titik kesempurnaan sebagai makhluk Tuhan; sebuah fase di mana ia mampu melenyapkan seluruh ego dan superegonya.

Ia selalu berpikir bahwa dirinya tak lebih dari sekadar titah, makhluk Tuhan yang memiliki kewajiban profetis, semacam tugas kenabian untuk membeberkan dan mewujudkan nilai-nilai ideal kehidupan. Satu-satunya pamrih dalam dirinya adalah pencapaian cita-cita yang membawa kemaslahatan bagi banyak orang. Bukan ingin dipuji atau merampas simpati publik.

Bagi manusia ”Sukrasana”, segala pencitraan tak lebih dari kosmetik untuk menutupi berbagai borok, baik borok personal, borok politik, maupun borok sosial. Sukrasana tak butuh bedak dan gincu pencitraan karena ia tak punya borok. Ia sangat percaya diri untuk tampil lugas, apa adanya, penuh sikap kesatria. Ini dadaku, mana dadamu, begitu ia berucap tanpa niat sombong, tapi tegas dan berani.

Kesederhanaan, kejujuran, kepatutan, dan kelayakan menjadi dasar kehadiran manusia ”Sukrasana”. Sikap ini bisa dimaknai sebagai asketisisme, pengekangan diri atas godaan duniawi yang menjebak manusia pada kubangan lumpur artifisialitas dan akhirnya bisa mengubah watak seseorang menjadi culas.

Konkretnya, karena manusia ”Sukrasana” adalah manusia esensi dan substansi, ia tidak membutuhkan cash flow tinggi untuk mengongkosi segala kegenitan dan kerakusan yang umumnya diidap manusia kebanyakan. Alhasil, manusia ”Sukrasana” tak perlu merendahkan diri menjadi pembobol APBN atau ”bertiwikrama” menjadi koruptor.

Sinergi elemen bangsa

Kita yakin bangsa ini memiliki manusia-manusia ”Sukrasana” meskipun jumlahnya sangat kecil. Mereka bisa berada di gerbong-gerbong kekuasaan (eksekutif, legislatif, yudikatif) atau di lembaga-lembaga pendidikan, budaya, sosial, dan politik.

Dalam jagat kekuasaan yang dihegemoni oleh para raksasa dan rakseksi, manusia-manusia ”Sukrasana” cenderung tidak diberi atau mendapat tempat. Mereka malah justru dianggap sebagai gangguan, bahkan tak jarang dianggap ancaman. Kejujuran selalu jadi energi anomalis bagi struktur kejahatan.

Langkah terbesar dan strategis seluruh elemen bangsa ini adalah menghadirkan manusia-manusia ”Sukrasana” dalam kontestasi politik pada Pemilu 2014. Partai- partai politik, lembaga-lembaga sosial, budaya, agama, pendidikan, pers, dan seluruh pemangku kepentingan lain bangsa ini bisa membangun sinergisitas untuk memunculkan manusia-manusia berkaliber ”Sukrasana” menjadi pilihan rakyat.

Ini momentum penting untuk mengubah Indonesia yang punya masa depan konstitusional. Tentu saja bukan kedaulatan berlanggam kapital dan pasar yang dikendalikan kekuatan asing dan para makelar kekuasaan!

Posted in Negeri Wayang | Tagged | Leave a comment

Wayang Lemah

Wayang Lemah

Kesenian Wayang Lemah sering ditemukan pada berbagai upacara keagamaan umat Hindu di Bali. Berbeda dengan wayang pada umumnya, wayang lemah memiliki ciri khas berupa waktu pementasan yang biasanya dilakukan di kala siang sehingga di sebut lemah yang dalam bahasa Bali berarti siang. Walau demikian waktu pementasannya menyesuaikan dengan puncak upacara keagamaan yang dilaksanakan sehingga pementasan bisa dilakukan pagi, siang, maupun sore.

Tidak diperlukan panggung khusus untuk pementasan wayang lemah, cukup mempergunakan satu batang pohon pisang yang masing-masing ujungnya ditancapkan batang kayu dadap. Kedua kayu tersebut dihubungkan dengan benang putih yang disebut benang tukelan. Tidak ada layar/ kelir dan lampu blencong seperti pada pementasan wayang pada umumnya.

Wayang dipentaskan oleh seorang dalang dengan diriingi gamelan gender satu pasang. Cerita yang dilakonkan biasanya mengambil dari epos Mahabrata atau cerita lain sesuai dengan jenis upacara yang dilaksanakan. Sebagai kesenian pelengkap upacara keagamaan berbagai sesaji dan ritual harus dilakukan sang dalang beserta penabuh gamelan sebelum melakukan pementasan.

Kelompok pementasan wayang lemah biasanya terdiri dari 3 hingga 5 orang. Mereka melakukan pementasan berdasarkan permintaan masyarakat untuk kegiatan yang berkaitan dengan upacara keagamaan. Keseniaan ini termasuk kesenian wali bersama-sama dengan beberapa jenis seni lainnya seperti topeng sidakarya, rejang, dan lain-lain.

Awal mula wayang yaitu sebagai media untuk menyampaikan pesan atau amanat leluhur melalui cerita-cerita. Namun apakah pesan atau amanat tersebut sampai pada generasi saat ini? Bagi sebagian orang yang memang tertarik, wayang merupakan warisan seni dan budaya adiluhung namun tidak jarang banyak yang justru tidak mengerti dan memperhatikannya. Kali ini saya mencoba merekam sedikit kulit terluar dari pementasaan wayang lemah untuk membuka pintu bagi saya atau anda untuk mengenalnya lebih dekat.

sumber: andisucirta.com

Posted in Jenis Wayang | Tagged | Leave a comment

Wayang Betel

Wayang Betel

Wayang Betel adalah sebuah garapan pewayangan yang ter inspirasi dari Wayang Lemah/Wayang Gedog, garapan ini tecipta karena penggarap melihat kehidupan wayang lemah pada masyarakat Bali hanya dikaitkan dengan upacara keagamaan. Penanggap pertunjukkan ini kurang memperhatikan baik tempat pentas maupun sarana-sarana pendukung lainnya. Hal ini membuat para dalang malas untuk menggarap bagian artistiknya, hiburan dan konteksnya. Wayang Lemah yang berfungsi ritual menjadi kemasan baru berbentuk hiburan seni yang segar, sehat dan bermutu.

Dalam masalah ini akan dicoba menyiasati agar seniman Dalang dan musisinya tidak hanya duduk sebagaimana pagelaran wayang lemah biasa, melainkan juga berinteraksi aktif membangun suasana dramatik. Jelasnya, dalang yang biasanya hanya duduk memainkan wayang kini ditampilkan dengan berakting di atas panggung didukung oleh penataan lampu dan musik pengiring inovatif berintikan Gender Rambat.

Beberapa wayang kiranya perlu dibuat dengan ukuran yang lebih besar sehingga suasana wayang lemah yang semula hanya ritus akan dikembangkan menjadi suatu bentuk hiburan/entertainmen yang mengintegrasikan kritik dan komentar sosial sesuai dengan perkebangan Zaman Kaliyuga dewasa ini. Sesuai dengan namanya, Betel berarti tembus pandang. Garapan wayang Betel ini berbentuk Wayang Lemah sehingga dapat dilihat tembus betel oleh penonton tanpa terhalang kelir/screen putih. Musik iringan yang berintikan instrumen Gender Rambat juga akan diintegrasikan sedemikian rupa sehingga garapan wayang ini juga menyajikan komponen musikal teater atau teater musik. Dalam garapan “Wayang Betel” ini penggarap akan menggunakan konsep menimalis dengan tidak mengerungangi keunggulan – keunggulan yang telah ada. Karena berkesenian itu tidak harus selalu mewah, seni pun bisa muncul dari sesuatu yang sederhana.Garapan ini merupakan bagian dari epos Mahabharata yakni kehidupan Pandawa di hutan setelah lepas dari bencana kebakaran Gua gala-gala sampai gugurnya Detya Adimba.

Sumber wayang.wordpress.com

Posted in Jenis Wayang | Tagged | Leave a comment

Wayang Kancil

Wayang Kancil diperkenalkan oleh Ki Ledjar Subroto pertama kali pada tahun 1980. Wayang Kancil adalah pertunjukkan seni wayang yang semua tokohnya adalah binatang dengan tokoh utama adalah binatang kancil.

wayang Kancil adalah media dongeng untuk mendidik anak-anak. Namun sayangnya tradisi mendongeng itu sudah dilakukan para orang tua. “Dongeng untuk anak itu sekarang sudah dilupakan orang tua. Padahal untuk mendidik anak itu tidak perlu susah-susah dengan hukuman, cukup dengan bercerita

Ki Ledjar Subroto, pencipta wayang Kancil yang tetap semangat berinovasi

Ki Ledjar Subroto berpose didepan karya mural wayang Sultan Agung di bawah jembatan layang Lempuyangan pada November 2007. (Sumber foto: http://www.flickr.com)


Hingga saat ini Ki Ledjar Subroto tetap konsisten pada jalan berkeseniannya: mencipta wayang Kancil. Ia juga terus mempertontonkannya ke panggung-panggung kecil, menyampaikan nilai-nilai kehidupan pada anak-anak yang menjadi sasaran penontonnya.

Beberapa pecinta seni yang sudah mengoleksi wayang Kancil yang diciptakan Ki Ledjar misalnya Ki Manteb Sudarsono, dalang kondang dari Karanganyar. Ada pula kolektor luar negeri seperti Tym Byard Jones dari University of London Inggris, Dr. Walter Angst dari Kota Salem Jerman, ArnoMozoni-Fresconi dari Hamburt Jerman serta V.M Clara Van Groenendael dari Amsterdam, Belanda.

Sementar museum dalam dan luar negeri yang mengoleksi wayang Kancil adalah Museum Sonobudoyo, Museum Wayang H. Budiharjo, Museum Wayang Jakarta, Taman Mini Indonesia Indah, Ubersee Museum di Bremen Jerman, Tamara Fielding (The Shadow Theater of Java) New York Amerika Serikat, Museum of Anthropology (Dominique Major) di Canada, Museum Westfreis di Hoom Belanda, Museum Tropen di Amsterdam Belanda dan Museum Kantjiel di Leiden Belanda.

Wayang Proklamasi
Inovasi Ki Ledjar tak putus pada penciptaan wayang Kancil. Ia juga telah menciptakan wayang Proklamasi yang bercerita tentang kisah-kisah perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajah Belanda.
Ki Ledjar Subroto menggubah tokoh-tokoh pejuang tanah air seperti Soekarno-Hatta, Syahrir dan lain-lain termasuk para gubernur jenderal pemerintah kolonial Belanda.

Wayang Sultan Agung
Pada tahun 1987, Ki Ledjar Subroto menciptakan Wayang Sultan Agung yang mengisahkan perjuangan Sultan Agung dalam melawan penjajah Belanda yang dipimpin Jan Pieter Zoon Coen.

Wayang Jaka Tarub
Pada tahun 2004, Ki Ledjar Subroto juga menciptakan Wayang Jaka Tarub untuk keperluan pentas kolaborasi wayang dan kethoprak Yogyakarta. (The Real Jogja/joe)

Posted in Jenis Wayang | Tagged | Leave a comment

Wayang Sawah

Wayang Sawah Perkaya Dunia Perwayangan

YOGYAKARTA, KOMPAS.com–Wayang sawah yang dibuat dari limbah batang padi atau “damen”, kian memperkaya dunia perwayangan di Indonesia, kata salah seorang relawan seni Balai Budaya Minomartani, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Kuncoro.

Ia di Yogyakarta, Sabtu, mengatakan, disebut wayang sawah karena bahan baku untuk membuat wayang itu dari limbah batang padi (damen), dan tanaman padi identik dengan sawah.

Namun, menurut dia, wayang sawah juga terkadang terbuat dari sabut buah kelapa. “Ini dilakukan, juga sebagai upaya memanfaatkan limbah alam.

Ia mengatakan tokoh-tokoh wayang sawah berbeda dengan tokoh wayang pada umumnya termasuk wayang kulit. “Bentuk wayang sawah pun tidak jelas menggambarkan sosok tokoh dalam perwayangan.

Meski demikian, tokoh dalam wayang sawah akan tampak dan dapat dinikmati penonton, tergantung bagaimana kepintaran dalang dalam membawa penonton berimajinasi ke dalam tokoh itu.

“Sedangkan kisah atau cerita yang diangkat dalam wayang sawah sedikit berbeda dengan kisah perwayangan pada umumnya. Kisah dalam wayang sawah sebagian besar diangkat dari kisah kehidupan manusia dengan lingkungan sekitar, dan biasanya menceritakan kisah tentang legenda,” kata Kuncoro.

Menurut dia, untuk membuat wayang sawah tidak sulit, karena bahan bakunya tersedia cukup banyak dan mudah diperoleh di sawah yang habis panen padi khususnya di perdesaan.

“Untuk menciptakan bentuk wayang sawah juga tidak memerlukan keahlian maupun keterampilan, bahkan setiap orang dapat membuat dan membentuknya sedemikian rupa, karena memang tidak ada patokannya,” katanya.

Kuncoro mengatakan dalam pementasan wayang sawah, musik pengiring tidak seperti wayang pada umumnya. “Musik pengiring wayang sawah sangat sederhana,

namun menarik, yakni hanya menggunakan gamelan serta kentongan. Penyajian wayang sawah dan musik pengiringnya secara teatrikal,” katanya.

Ia mengatakan sampai sekarang wayang sawah telah dipentaskan di berbagai tempat di wilayah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, di antaranya Taman Budaya Yogyakarta, Balai Budaya Minomartani, serta di Festival Budaya Yogyakarta pada 2009.

Posted in Jenis Wayang | Tagged | Leave a comment